Natal penuh keprihatinan di Gaza dan umat Kristiani 'yang lelah karena perang'

Gaza, Palestina, Israel

Sumber gambar, Majdi Fathi/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Pizzabala memprihatinkan nasib anak-anak di Gaza yang terbengkalai pendidikannya. "Seharusnya, anak-anak itu dapat merayakan Natal dengan perasaan senang," katanya.
Waktu membaca: 5 menit

Úmat Kristiani di Gaza merayakan Natal di tengah pengungsian dan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Sebuah gereja di bawah Gereja Katolik Roma bahkan masih menampung ratusan pengungsi.

Salah-satu gereja yang menampung hampir 400 orang pengungsi di Gaza itu adalah Gereja Keluarga Kudus.

Patriarkat Latin Yerusalem, yang berada di bawah Gereja Katolik Roma, adalah pihak yang mengelola gereja tersebut.

Sebagian dari 135 umat Katolik di Gaza, pada pekan ini, beribadah di gereja tersebut untuk mengikuti misa Natal.

Gaza, Natal, Palestina, Israel

Sumber gambar, Majdi Fathi/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Ibadah Misa Natal di Gereja Keluarga Kudus, Gaza, pada Minggu (21/12), dipimpin langsung oleh Kardinal Pierbattista Pizzaballa.

Pada hari-hari pertama perang antara Israel dan Hamas, gereja ini menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat Gaza—utamanya umat Katolik.

Selain Gereja Keluarga Kudus, umat Kristiani juga berlindung di Gereja Santo Porphyrius. Gereja yang disebut terakhir berafiliasi dengan komunitas Ortodoks Yunani.

Di Gaza, ada sekitar 1.100 orang yang tergabung dalam komunitas Ortodoks Yunani dan komunitas Katolik.

Jumlah ini kurang dari 0,05% populasi Jalur Gaza. Mayoritas umat Kristiani ini adalah anggota Ortodoks Yunani.

'Lebih spiritual ketimbang meriah'

Ibadah Misa Natal di Gereja Keluarga Kudus, Gaza, pada Minggu (21/12), dipimpin langsung oleh Kardinal Pierbattista Pizzaballa.

Di hadapan jemaahnya, Pizzabala mengatakan Natal di Gaza kali ini "lebih spiritual ketimbang meriah."

Ini adalah kunjungan pertama Pizzabala sejak gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu.

Natal, Gaza, Palestina, Israel

Sumber gambar, Abood Abusalama / Middle East Images / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Di Gaza, ada sekitar 1.100 orang yang tergabung dalam komunitas Ortodoks Yunani dan komunitas Katolik.

Usai memimpin ibadah Misa, Pizzabala berujar kepada wartawan bahwa Gaza dalam "situasi yang sangat buruk" .

Dia menyesalkan situasi seperti itu, namun menurutnya, pada saat yang sama ada keinginan warganya untuk "pulih".

"Dan, bagi umat Kristiani, keinginan untuk pulih itu digambarkan melalui perayaan Natal," ujarnya.

Gaza, Palestina, Israel

Sumber gambar, Majdi Fathi/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Pada hari-hari pertama perang antara Israel dan Hamas, gereja Keluarga Kudus (foto atas) menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat Gaza—utamanya umat Katolik.

Secara khusus, Pizzabala memprihatinkan nasib anak-anak di Gaza yang terbengkalai pendidikannya.

Seharusnya, anak-anak itu dapat merayakan Natal dengan perasaan senang.

"Jumlah anak-anak di jalanan membuat saya terkejut," lanjutnya, seraya menambahkan bahwa "mereka seharusnya bersekolah."

Inilah yang kemudian menguatkan tekadnya, yaitu memprioritaskan agar kegiatan pendidikan di gereja Keluarga Kudus dapat dimulai lagi.

Bagaimanapun, kehadiran anak-anak yang "penuh sukacita dan daya hidup", disebutnya "akan menyelamatkan komunitas kita".

"Saya percaya itu," katanya.

Natal, Gaza, Israel, Palestina

Sumber gambar, Abood Abusalama / Middle East Images / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Umat Kristiani menghadiri kebaktian menjelang Natal di Gereja Keluarga Kudus di Gaza, Minggu (21/12).

Ditanya bagaimana amatannya atas situasi terkini di Gaza, Pizzabala tak memungkiri masih banyak persoalan yang belum tertangani.

Dia lalu mempertanyakan kapan rekonstruksi dapat dimulai di wilayah itu.

Situasi konflik juga masih dia rasakan, walaupun perang telah berakhir di Gaza.

Masalah ada di mana-mana, katanya, seraya merujuk situasi di Tepi Barat dan ketegangan antara desa-desa Palestina dan pemukiman Israel.

'Umat Kristiani lelah karena perang'

Dalam situasi seperti itulah, menurutnya, agaknya sulit untuk berbicara tentang harapan.

"Tetapi," sambungnya cepat-cepat, "adalah tugas kita untuk melakukannya selama Natal ini."

Gaza, Natal, Israel, Palestina

Sumber gambar, Majdi Fathi/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Menurut seorang umat Kristiani di Gaza, sebagian dari umat Kristiani tiba di Gaza setelah peristiwa "Nakba" pada tahun 1948.
Natal, Gaza, Palestina, Israel

Sumber gambar, Majdi Fathi/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah pria sedang mengikuti ibadah misa di Gereja Keluarga Kudus di Gaza.

Sang kardinal kemudian merujuk situasi "kelelahan mendalam" umat Kristiani "akibat karena perang."

Namun, lanjutnya, "Kristus sendiri memasuki sejarah melalui realitas yang kompleks. Hari ini, sekali lagi kita harus menyambut-Nya dan bekerja untuk membangun harapan."

Kapan umat Kristiani tiba di Gaza?

Menurut seorang umat Kristiani di Gaza, sebagian dari umat Kristiani tiba di Gaza setelah peristiwa "Nakba" pada tahun 1948.

Nakba adalah terminologi dalam bahasa Arab yang berarti bencana.

Peristiwa "Nakba" memaksa setidaknya 700 ribu warga Palestina mengungsi dari rumah mereka selama perang Arab-Israel.

Selain Nakba, ada pula yang menelusuri akarnya komunitas Kristiani di Gaza hingga ribuan tahun lalu.

"Ada komunitas umat Kristiani yang telah tinggal di tanah ini sejak tahun 402, setelah mereka berpindah agama dari paganisme ke Kristen," ujarnya.

Elias Jarada, anggota Dewan Gereja Ortodoks Arab, berkata bahwa keberadaan umat Kristiani di Gaza dapat ditelusuri sebelum tahun 400.

Sebagian besar dari mereka, kata dia, adalah keturunan dari komunitas mula-mula tersebut.