Pembunuhan dan pemerkosaan terhadap dokter magang di India picu belasan ribu perempuan aksi turun ke jalan

Waktu membaca: 10 menit

Belasan ribu perempuan di negara bagian Benggala Barat, India, turun ke jalan pada Rabu (14/08) malam. Mereka berunjuk rasa sebagai protes atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang dokter magang di sebuah rumah sakit milik pemerintah di Kolkata, pekan lalu.

Demonstrasi yang dinamai 'Reclaim the Night' menjadi puncak protes selama hampir sepekan yang dipicu pembunuhan brutal terhadap dokter perempuan berusia 31 tahun di RG Kar Medical College, Jumat lalu (09/08).

Setelah menjalani sif kerja sepanjang 36 jam, ia tertidur di dalam ruang seminar karena kurangnya tempat istirahat yang disediakan.

Esok paginya, rekan-rekan kerjanya menemukan mayat perempuan itu dengan setengah telanjang di podium dengan luka parah. Seorang pekerja relawan rumah sakit ditangkap sehubungan dengan kejahatan tersebut.

Merespons seruan di media sosial, perempuan dari semua lapisan masyarakat melakukan pawai melintasi kota Kolkata dan seluruh negara bagian di tengah hujan pada Rabu malam.

Aksi protes sebagian besar yang berlangsung damai, sempat diwarnai kejadian bentrokan antara polisi dan sekelompok kecil pria tak dikenal. Mereka menerobos masuk ke Rumah Sakit RG Kar, tempat pembunuhan dokter, dan menggeledah unit gawat darurat.

Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan massa. Beberapa kendaraan polisi juga dirusak.

Protes-protes yang lebih kecil juga terjadi di banyak kota lain di India seperti Delhi, Hyderabad, Mumbai dan Pune.

Di Kolkata, para perempuan berbaris dengan tegas sambil memegang poster demonstrasi, wajah mereka diterangi cahaya ponsel, cahaya lilin dan obor yang menyala.

Beberapa dari mereka membawa bendera India. Mereka bergabung dengan barisan para pria, baik tua maupun muda.

Selama pawai dan di banyak titik pertemuan di dekat universitas, gedung teater dan terminal bus, mereka berdiri bersatu, berpegangan tangan saat udara lembab bergema nyanyian “kami ingin keadilan” yang keras dan kuat.

Para pengunjuk rasa meniup cangkang kerang – suara tersebut dianggap membawa keberuntungan.

Tepat pada tengah malam, saat India merayakan 77 tahun kemerdekaannya, suasana protes pun berubah.

Udara dipenuhi dengan nyanyian lagu kebangsaan secara spontan. Kemudian hujan mulai turun, tetapi para pengunjuk rasa berjalan di tengah hujan, atau sambil memegang payung.

“Kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya di kota ini, kumpulan perempuan yang begitu banyak berbaris di malam hari,” kata seorang wartawan dari sebuah jaringan berita.

Malam itu adalah malam yang penuh dengan kemarahan dan frustrasi.

Seorang perempuan, yang bergabung dengan pawai setelah tengah malam bersama putrinya berusia 13 tahun mengatakan: “Biarkan dia melihat apakah protes massa dapat memperbaiki keadaan. Biarkan dia menjadi sadar akan hak-haknya”.

“Perempuan tidak dihargai!” kata yang lainnya.

“Nilai kami lebih rendah dari sapi dan kambing.”

“Kapan kita akan mendapatkan kemerdekaan kita? Berapa lama lagi kita harus menunggu untuk bekerja tanpa rasa takut? 50 tahun lagi?” tanya seorang pelajar yang ikut berdemonstrasi.

Sanchari Mukherjee mengatakan bahwa ia berjalan berbaris dengan ribuan orang lainnya dari terminal bus di Jadavpur. Hujan yang turun tidak menghentikan langkah mereka.

Ia bertemu dengan “orang-orang dari segala usia, dari semua kelas, orang kaya, kelas menengah dan orang miskin”.

“Saya melihat pasangan lansia, sang suami membantu sang istri untuk berjalan,” katanya.

“Satu keluarga membawa serta anak perempuan mereka, mungkin agar kenangan tentang peristiwa ini terukir di benaknya – bagaimana orang tuanya berdiri melawan ketidakadilan, dan bagaimana ia juga dapat melakukan protes suatu hari nanti.”

Mukherjee mengatakan bahwa seluruh kota tampak terjaga ketika para demonstran melewati rumah-rumah yang diterangi lampu, dengan orang-orang yang mengintip dari jendela dan memadati beranda untuk menonton.

Baca Juga:

“Mereka mungkin tidak ikut serta, tetapi mereka bersama kami dalam semangat,” katanya.

“'Kami ingin keadilan' telah menjadi lagu kebangsaan dalam pawai tersebut, dan itu tidak terasa seperti sekadar slogan,” kata Mukherjee.

“Rasanya seperti setiap perempuan muda sangat terluka dan putus asa, frustrasi karena mereka masih menghadapi masalah seperti ini pada tahun 2024.”

Mukherjee menambahkan bahwa ia harus berjalan kaki beberapa mil untuk mengikuti pawai tersebut karena jalanan semakin macet saat larut malam.

“Saya langsung tersapu oleh lautan manusia yang menuju ke lokasi protes. Tidak ada kegembiraan, hanya tekad yang tabah untuk menciptakan sebuah acara yang akan menjadi simbol untuk masa yang akan datang.”

Protes tersebut dipicu oleh kemarahan atas penanganan pihak berwenang setempat terhadap kasus pemerkosaan dan pembunuhan dokter muda yang sedang magang.

Polisi kemudian menangkap seorang pekerja relawan rumah sakit sehubungan dengan apa yang mereka katakan sebagai kasus pemerkosaan dan pembunuhan.

Namun, ada tuduhan bahwa ada upaya menutup-nutupi dan penghilangan jejak. Kasus ini kemudian dilimpahkan dari polisi setempat ke Biro Investigasi Federal.

Meskipun dengan sumber daya yang terbatas, pawai 'Reclaim the Night' di Kolkata tampaknya telah diorganisir dengan sangat cermat. Dalam sebuah pengumuman, para penyelenggara menyambut para perempuan dan orang-orang dari identitas seksual dan gender yang terpinggirkan dalam pawai tersebut.

“Laki-laki dipersilakan untuk hadir sebagai sekutu dan pengamat,” imbuh pernyataan tersebut.

Baca Juga:

Mereka juga menekankan bahwa para politisi tidak diperbolehkan hadir, dan meminta agar tidak ada bendera partai yang dibawa dalam aksi tersebut.

Ini bukan pertama kalinya pawai Reclaim the Night dilakukan di India.

Terinspirasi oleh pawai serupa di tempat lain di dunia yang dilakukan oleh para perempuan yang menuntut hak-hak mereka untuk berjalan di tempat umum tanpa rasa takut, sebuah pawai diadakan pada tahun 1978 di Bombay (sekarang Mumbai) untuk memprotes pemerkosaan seorang perempuan di jalan.

Blank Noise, sebuah proyek seni berbasis komunitas dan kolektif aktivis, telah mengorganisir beberapa aksi jalan tengah malam di Delhi untuk mendorong para wanita untuk menegaskan hak mereka untuk berjalan dengan bebas di malam hari.

Tetapi dalam hal skala, pawai Kolkata – yang digaungkan oleh pawai-pawai yang lebih kecil di kota-kota lain – merupakan yang terbesar.

“Kami merebut malam itu. Kami tidak pernah melihat hal seperti ini di kota ini. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Saya harap ini akan membangunkan pihak berwenang,” kata Chaitali Sen, seorang pengunjuk rasa.

Mengapa dokter magang rentan terhadap kekerasan?

Pembunuhan dan pemerkosaan terhadap dokter magang di rumah sakit pemerintah baru-baru ini telah memicu cerita mengenaskan bagaimana tenaga kesehatan bekerja dalam ancaman.

Laporan-laporan mengenai dokter, terlepas dari jenis kelaminnya, yang diserang oleh pasien dan keluarga pasien telah mendapatkan perhatian yang luas.

Perempuan – yang merupakan hampir 30% dari dokter dan 80% dari staf perawat di India – lebih rentan dibandingkan dengan rekan-rekan pria mereka.

Kejahatan di rumah sakit Kolkata minggu lalu mengungkap risiko keamanan yang mengkhawatirkan yang dihadapi oleh staf medis di banyak fasilitas kesehatan milik pemerintah India.

Rumah Sakit RG Kar – tempat kejadian pembunuhan dan pemerkosaan terhadap dokter magang – merawat lebih dari 3.500 pasien setiap harinya. Para dokter magang lebih banyak bekerja dengan sif hingga 36 jam.

Rumah sakit yang tidak memiliki ruang istirahat khusus, telah memaksa mereka rehat di ruang seminar, lantai tiga.

“Rumah sakit selalu menjadi rumah pertama kami; kami hanya pulang ke rumah untuk beristirahat. Kami tidak pernah membayangkan bisa seaman ini. Sekarang, setelah kejadian ini, kami merasa takut,” kata Madhuparna Nandi, seorang dokter junior di National Medical College Kolkata.

Perjalanan dokter Nandi sendiri menyoroti bagaimana para dokter perempuan di rumah sakit pemerintah India pasrah bekerja dalam kondisi yang membahayakan keamanan mereka.

Di rumah sakitnya, tempat ia menjadi residen di bidang ginekologi dan kebidanan, tidak ada kamar kecil dan toilet terpisah untuk dokter perempuan.

“Saya menggunakan toilet pasien atau perawat jika mereka mengizinkan. Ketika saya bekerja lembur, terkadang saya tidur di tempat tidur pasien yang kosong di bangsal atau di ruang tunggu yang sempit dengan tempat tidur dan baskom,” kata dokter Nandi.

Dia mengatakan bahwa dia merasa tidak aman bahkan di ruangan tempat dia beristirahat setelah sif 24 jam yang dimulai dengan tugas rawat jalan dan berlanjut hingga ke bangsal dan ruang bersalin.

Suatu malam di tahun 2021, saat puncak pandemi Covid, beberapa pria menerobos masuk ke kamarnya dan membangunkannya dengan menyentuhnya, mendesak: “Bangun, bangun. Lihat pasien kami.”

“Saya benar-benar terguncang oleh kejadian itu. Tetapi kami tidak pernah membayangkan akan sampai pada titik di mana seorang dokter dapat diperkosa dan dibunuh di rumah sakit,” kata dokter Nandi.

Apa yang terjadi terhadap dokter magang tersebut bukanlah insiden yang satu-satunya di India.

Kasus lain yang juga mengejutkan adalah Aruna Shanbaug, seorang perawat di sebuah rumah sakit terkemuka di Mumbai, yang dibiarkan mengalami kondisi gangguan fungsi otak kronis berkepanjangan – setelah diperkosa dan dicekik seorang perawat pada 1973.

Ia meninggal pada 2015, setelah 42 tahun mengalami kerusakan otak dan kelumpuhan.

Tahun lalu, di Kerala, Vandana Das, seorang dokter magang berusia 23 tahun, ditikam secara fatal dengan gunting bedah oleh seorang pasien yang sedang mabuk.

Di rumah sakit pemerintah yang penuh sesak dengan akses yang tidak terbatas, para dokter sering menghadapi amukan massa dari keluarga pasien setelah kematian atau tuntutan untuk segera mendapatkan perawatan.

Kamna Kakkar, seorang ahli anestesi, mengingat sebuah kejadian mengerikan selama sif malam di unit perawatan intensif (ICU) saat pandemi pada 2021 di rumah sakitnya di Haryana, India utara.

“Saya adalah satu-satunya dokter di ICU ketika tiga orang pria, yang mencatut nama politikus, memaksa masuk dan menuntut obat yang sangat dibutuhkan."

"Saya mengalah untuk melindungi diri saya sendiri, karena saya tahu bahwa keselamatan pasien saya dipertaruhkan,” kata dokter Kakkar.

Namrata Mitra, seorang ahli patologi yang berbasis di Kolkata yang belajar di RG Kar Medical College, mengatakan bahwa ayahnya yang seorang dokter sering menemaninya ke tempat kerja karena ia merasa tidak aman.

“Selama tugas jaga, saya membawa ayah saya. Semua orang tertawa. Tetapi saya harus tidur di sebuah ruangan yang sempit di koridor yang panjang dan gelap dengan pintu besi terkunci yang hanya bisa dibuka oleh perawat jika ada pasien yang datang,” tulis dokter Mitra dalam sebuah unggahan di Facebook pada akhir pekan lalu.

“Saya tidak malu mengakui bahwa saya takut. Bagaimana jika seseorang dari bangsal – petugas, atau bahkan pasien – mencoba sesuatu? Saya memanfaatkan fakta bahwa ayah saya adalah seorang dokter, tetapi tidak semua orang memiliki keistimewaan itu.”

Ketika bekerja di sebuah pusat kesehatan masyarakat di sebuah distrik di Benggala Barat, dokter Mitra menghabiskan malam-malamnya di sebuah bangunan bobrok berlantai satu yang berfungsi sebagai asrama dokter.

“Sejak senja, sekelompok anak laki-laki akan berkumpul di sekitar rumah, membuat komentar-komentar cabul saat kami keluar masuk untuk keadaan darurat.

"Mereka akan meminta kami untuk memeriksa tekanan darah mereka sebagai alasan untuk menyentuh kami dan mereka akan mengintip melalui jendela kamar mandi yang rusak,” tulisnya.

Bertahun-tahun kemudian, saat bertugas jaga darurat di rumah sakit pemerintah, “sekelompok pria mabuk melewati saya, membuat keributan, dan salah satu dari mereka bahkan meraba-raba saya,” kata dokter Mitra.

“Ketika saya mencoba membuat keluhan, saya mendapati para petugas polisi tertidur dengan senjata di tangan.”

Keadaan semakin memburuk selama bertahun-tahun, kata Saraswati Datta Bodhak, seorang ahli farmakologi di sebuah rumah sakit pemerintah di distrik Bankura, Benggala Barat.

“Kedua putri saya adalah dokter muda dan mereka mengatakan kepada saya bahwa kampus-kampus rumah sakit di negara bagian ini dipenuhi oleh elemen-elemen anti-sosial, pemabuk dan calo,” katanya.

Dokter Bodhak mengingat, pernah melihat seorang pria dengan pistol berkeliaran di sekitar rumah sakit pemerintah terkemuka di Kolkata selama kunjungannya.

India tidak memiliki undang-undang federal yang ketat untuk melindungi para pekerja kesehatan. Meskipun 25 negara bagian memiliki beberapa undang-undang untuk mencegah kekerasan terhadap mereka, hukumannya “hampir tidak ada”, kata RV Asokan, presiden Asosiasi Medis India (IMA), sebuah organisasi dokter.

Sebuah survei tahun 2015 oleh IMA menemukan bahwa 75% dokter di India telah menghadapi beberapa bentuk kekerasan di tempat kerja.

“Keamanan di rumah sakit hampir tidak ada,” katanya.

“Salah satu alasannya adalah tidak ada yang menganggap rumah sakit sebagai zona konflik.”

Beberapa negara bagian seperti Haryana telah mengerahkan penjaga pribadi untuk memperkuat keamanan di rumah sakit pemerintah.

Pada tahun 2022, pemerintah federal meminta negara-negara bagian untuk mengerahkan pasukan keamanan terlatih untuk rumah sakit-rumah sakit yang sensitif, memasang kamera CCTV, membentuk tim reaksi cepat, membatasi masuknya “orang-orang yang tidak diinginkan” dan mengajukan pengaduan terhadap para pelanggar. Tidak banyak yang terjadi, jelas.

Bahkan para dokter yang memprotes tampaknya tidak terlalu berharap.

“Tidak ada yang akan berubah... Harapannya adalah para dokter harus bekerja sepanjang waktu dan menerima pelecehan sebagai sebuah norma,” kata Dr Mitra. Hal ini sungguh menyedihkan.