Mayat pengungsi Rohingya ditemukan di perairan Aceh Jaya, korban kapal 'terbalik' di Aceh Barat?

Sumber gambar, Antara Foto
Sebanyak tiga etnis Rohingya yang terdiri dari dua perempuan dewasa dan satu anak-anak ditemukan di perairan Aceh Jaya dalam kondisi meninggal dunia. Diperkirakan mereka adalah korban kapal karam di perairan Meulaboh, Aceh Barat beberapa hari lalu.
"Saat ini yang kita temukan tiga, [terdiri dari] dua jenis kelamin perempuan dewasa dan satu laki-laki, anak-anak," kata Kepala Pos SAR Meulaboh, Juanda Sodo, Sabtu (23/03).
Ketiganya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teuku Umar Calang.
Juanda mengungkapkan temuan jenazah diduga warga Rohingnya itu bermula dari laporan nelayan soal jasad terapung di perairan Aceh Jaya. Semula, tim gabungan menemukan dua jenazah perempuan yang di perairan.
Kemudian, pada pukul 17.10 WIB, ditemukan kembali satu korban dengan jenis kelamin laki-laki.
"Diperkirakan anak-anak karena masih kecil," cetus Juanda.
"Jadi memang mayat itu yang mengapung tidak di satu titik, makanya pencariannya sedikit makan waktu dan menyebar dengan menggunakan [perahu karet] LCR dan satu boat nelayan," ujarnya kemudian.
Menurut informasi dari nelayan, masih ada beberapa mayat diduga etnis Rohingya lainnya yang terombang-ambing di perairan Aceh Jaya.
Tim gabungan yang terdiri dari Badan SAR Nasional (Basarnas), TNI-Polri dan BPBD Aceh Jaya kembali melakukan pencarian korban yang masih terapung di laut pada Minggu (24/03).

Sumber gambar, Antara Foto
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Komandan Operasi Satgas SAR Aceh Jaya, Mirza, membenarkan ada penemuan mayat di dua lokasi, yakni perairan laut Calang dan Rigaih.
Pihaknya menduga ketiga mayat tersebut merupakan jasad para pengungsi Rohingnya yang menjadi korban kapal karam di kawasan Meulaboh Aceh Barat beberapa hari lalu.
"Kita prediksi jasad tersebut warga Rohingnya korban kapal karam," ujarnya, seperti dikutip dari Antara.
Dugaan tiga jasad tersebut adalah para pengungsi Rohingya karena memang sejauh ini tidak ada informasi lain soal warga Aceh Jaya yang hilang di lautan.
Pada Kamis (20/03), puluhan pengugsi Rohingya ditemukan terombang-ambing di perairan Aceh Barat setelah kapal mereka terbalik, hanya 75 orang selamat dan dievakuasi ke daratan.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) dan badan PBB untuk migrasi (IOM) menekankan besarnya potensi korban jiwa karena pengungsi yang diselamatkan mengatakan kapal tersebut sebenarnya mengangkut 151 orang.
"Jika hal ini benar, maka ini akan menjadi insiden dengan korban jiwa terbesar sepanjang tahun ini," tulis UNHCR dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/03).

Sumber gambar, Antara Foto
Disambut penolakan warga
Sebelumnya, kedatangan puluhan pengungsi Rohingya yang dievakuasi dari kapal yang terbalik di perairan Meulaboh, Aceh Barat, sempat disambut aksi penolakan warga. Pihak berwenang telah memindahkan para pengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Wakapolres Aceh Barat, Iswahyudi, mengatakan bahwa saat 69 pengungsi yang berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat pada Kamis (21/03) sedang dalam perjalanan tempat penampungan sementara di Desa Berureugang, Kecamatan Kaway XVI, mereka dihalangi warga setempat.
“Mereka menyekat jalan, membuat barikade di jalan yang akhirnya kendaraan tidak bisa lewat karena pada saat membawa pengungsi tadi kita kawal,” ujar Iswahyudi kepada BBC News Indonesia pada Kamis (21/03).
Untuk menghindari kericuhan, kepolisian akhirnya membawa para pengungsi ke Gedung Palang Merah Indonesia (PMI) di Suwakraya, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, M. Asmiruddin Al Nur, mengatakan bahwa para pengungsi akan ditampung di tempat bekas perawatan pasien Covid-19 milik pemerintah daerah yang letaknya di Desa Beureugang, Kecamatan Kaway, Kabupaten Aceh Barat.
Ketua Perkumpulan Suaka Indonesia, Atika Yuanita Paraswaty, mengatakan bahwa sentimen negatif terhadap pengungsi Rohingya masih cukup kuat di kalangan masyarakat, terutama dengan banyaknya berita hoaks dan disinformasi seputar para pengungsi.
“Mereka perlu pendampingan, itu yang pasti. Itu jadi kekhawatiran kami juga, terkait dengan penolakan warga. Itu sudah tidak bisa dilepaskan lagi dari kondisi saat ini. Dengan bergejolak berita-berita negatif,” kata Atika.
Menurut catatan badan PBB yang menangani pengungsi UNHCR, sampai dengan awal Januari 2024, jumlah pengungsi yang berada di Aceh sudah mencapai 1.800 jiwa, termasuk 140 orang yang bertahan dalam kurun waktu satu tahun.
Namun, gelombang kedatangan orang Rohingya ke Aceh diwarnai sentimen negatif warganet Indonesia. Bahkan, narasi kebencian dan hoaks soal Rohingya marak beredar di media sosial.

Sumber gambar, Hidayatullah
Bagaimana kondisi para pengungsi Rohingya usai diselamatkan?
Saat kapal SAR Kresna 232 sampai di di Pelabuhan Jetty Ujong Karang pada Kamis (21/03) sore, beberapa pengungsi Rohingya terlihat lemas karena terapung selama kurang lebih dua hari. Bahkan, beberapa dari mereka mengalami dehidrasi.
Sejumlah petugas SAR membawa pengungsi yang kondisinya sudah sulit bergerak menggunakan tandu dan menggotong mereka ke tempat yang aman.
Adapun total pengungsi Rohinya yang berhasil dievakuasi pada Kamis (21/03) berjumlah 69 orang, terdiri dari 42 pria, 18 perempuan dan sembilan anak.

Sumber gambar, Antara Foto
Jika digabung dengan enam orang yang diselamatkan oleh nelayan sehari sebelumnya, total pengungsi yang berhasil diselamatkan sebanyak 75 orang. Mereka terdiri dari 44 pria, 22 perempuan dan sembilan anak.
Kasi Operasi dan siaga Basarnas Banda Aceh, M. Fathur Rahma, mengatakan bahwa proses evakuasi berlangsung selama tiga jam. Proses evakuasi cukup sulit lantaran hanya menggunakan satu kapal, katanya.
“Alhamdulillah berdasarkan luas area SAR map yang kita petakan pada hari ini membuahkan hasil, mendapat korban dan berhasil kita evakuasi dengan selamat sebanyak 69 orang,” ujar Fathur.

Sumber gambar, Antara Foto
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) dan badan PBB untuk migrasi (IOM) menekankan besarnya potensi korban jiwa karena pengungsi yang diselamatkan mengatakan kapal tersebut sebenarnya mengangkut 151 orang. Dari jumlah itu, hanya 75 yang berhasil diselamatkan.
"Jika hal ini benar, maka ini akan menjadi insiden dengan korban jiwa terbesar sepanjang tahun ini," tulis UNHCR dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/03).
Namun, ketika ditanya terkait nasib pengungsi lainnya, Fathur mengatakan: “Kami hanya melakukan evakuasi dan tidak menemukan adanya laporan bahwa terdapat korban yang meninggal dunia di atas kapal yang kita lakukan evakuasi."
Baca juga:
Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, M. Asmiruddin Al Nur, mengatakan kepada BBC News Indonesia bahwa saat ditemukan, kondisi mereka cukup lemah karena mengalami dehidrasi setelah terjebak di tengah laut.
“Kami sudah siapkan ambulans apabila memang ada pengungsi yang membutuhkan tindakan medis yang cepat,” ungkap Asmiruddin.
Korban yang terluka dibawa ke Rumah Sakit Cut Nyak Dien Meulaboh, ujarnya.

Sumber gambar, Antara Foto
Penolakan satu kampung terhadap pengungsi Rohingya
Wakapolres Aceh Barat, Iswahyudi, mengatakan bahwa warga setempat di jalan menuju Desa Beureugang, Kecamatan Kaway XVI membarikade akses jalan bagi truk berisi pengungsi Rohingya yang diselamatkan dari kapal yang terbalik.
Dalam video yang ia bagikan, warga setempat berkerumun mendekati truk tersebut sambil membawa tongkat-tongkat kayu dan berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah pengungsi.
Pada akhirnya, truk tersebut terpaksa mundur dan berbalik arah. Saat itu terjadi, para warga kampung itu terdengar bersorak sorai.
“Akhirnya terjadi penolakan dari warga, turun semua masyarakat, ibu-ibu, orang laki, dewasa dan sebagainya,”
“Daripada timbul masyarakat yang kita tidak inginkan, sementara suasana juga masih suasana Ramadan jadi atas persetujuan Pak Bupati, mereka diarahkan ke Gedung PMI,” kata Iswahyudi kepada BBC News Indonesia.

Sumber gambar, Antara Foto
Sebelum pemerintah daerah memutuskan untuk memindahkan para pengungsi ke tempat bekas perawatan pasien Covid-19 di Desa Beureugang, Iswahyudi mengatakan bahwa mereka sudah berusaha melakukan mediasi dengan warga.
“Mereka sudah tahu akan dibawa ke situ, jadi Kapolsek sudah mulai turun dari awal untuk memediasi warga supaya menerima. Jangan sampai nanti semua terjadi hal yang tidak diinginkan dan akhirnya mereka juga tetap tidak mau menerima,” katanya.
Berbeda dengan kebanyakan sikap warga di Desa Beureugang, Rona Julianda, seorang warga Aceh Barat yang menyaksikan kedatangan pengungsi Rohingya setelah dievakuasi oleh Basarnas, menyatakan simpatinya terhadap para pengungsi.
Baca juga:
“Apalagi ini bulan suci Ramadan, mari sama-sama kita memfasilitasi tempat untuk mereka kalau kita tidak bisa berbuat lebih untuk mereka tidak masalah. Intinya kita jangan menolak mereka,” ujar Rona.
Ia pun merasa kecewa karena banyak masyarakat Aceh yang percaya dengan informasi yang berseliweran di media sosial tentang pengungsi Rohingya yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
“Jadi saya melihat manusianya saja, jangan masyarakat termakan berita-berita hoaks di luar sana,” lanjutnya.

Sumber gambar, Hidayatullah
Hoaks dan disinformasi tentang pengungsi Rohingya semakin marak
Ketua Perkumpulan Suaka Indonesia, Atika Yuanita Paraswaty, mengatakan makin banyak sentimen negatif terhadap pengungsi Rohingya menyusul gelombang kedatangan mereka di Indonesia.
Menurut Atika, seringkali masyarakat sudah memiliki persepsi buruk terhadap pengungsi Rohingya, sehingga reaksi pertama mereka adalah penolakan.
“Sebenarnya sudah banyak disinformasi. Padahal, kita seharusnya mengetahui dulu kondisi Rohingya, bahkan dari permasalahan akarnya sampai mereka juga di perjalanan dan tiba di Indonesia,” ungkap Atika.
Ia berharap pemerintah setempat dan pihak berwenang dapat menjamin keamanan para pengungsi sebab mereka sangat rentan terhadap kriminalisasi dan aksi penolakan masyarakat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
“Penanganan pengungsi ini tidak bisa hanya tanggung jawab satu pihak saja tapi memang ini kami sebutnya memang burden sharing dan ini harus dibagi peran-perannya. Bahkan di Perpres [Nomor 125 Tahun 2016] pun sudah seperti itu,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengatakan inilah pertama kalinya Basarnas turun untuk membantu menyelamatkan pengungsi Rohingya yang kecelakaan di tengah laut.
“Ini juga menjadi hal yang positif dan progresif. Kekhawatiran kami juga, di sisi lain, selain ada kekhawatiran dari nelayan, nanti mereka akan ditempatkan di mana.
“Jangan sampai ada lempar tanggung jawab antara Pemda dan juga satgas PPLN [Penanganan Pengungsi Luar Negeri],” kata Atika.
Bagaimana berjalannya proses evakuasi dari Basarnas?
Menurut rilis Basarnas, pada Rabu (20/03) pukul 10.00 WIB sejumlah nelayan Aceh Barat melihat 1 Kapal pengungsi Rohingya Tenggelam di 16 nautical miles arah Barat dari Perairan Suak Uleue. Nelayan kemudian melaporkan kepada pihak kepolisian untuk bantuan SAR.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banda Aceh, Al Hussain, mengatakan bahwa operasi pencarian terhadap kapal pengungsi Rohingya yang terbalik di perairan Aceh Barat sudah berjalan hingga Kamis (21/03) pukul 03.00 WIB dan dilanjutkan kembali pada pukul 07.00 WIB
“Kapal SAR Kresna kembali melanjutkan pencarian dengan area pencarian berada 28 nautical mile dari pelabuhan Meulaboh dengan hitting 296 derajat dengan luas area pencarian pada hari ini sekitar 200 nautical mile dan tidak jauh dari lokasi kejadian kecelakaan,” ujar Al Hussain.

Sumber gambar, Basarnas Banda Aceh













