'THR mepet dengan kebutuhan Lebaran' - Merayakan Idulfitri di tengah kenaikan harga-harga

Warga membuat kulit ketupat untuk dijajakan di pasar tradisional Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Selasa (9/4/2024).

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Warga membuat kulit ketupat untuk dijajakan di pasar tradisional Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Selasa (9/4/2024).

Seiring dengan kenaikan harga-harga bahan pokok saat Ramadan dan Idulfitri, banyak warga masyarakat mengaku pendapatan mereka sulit mengimbangi harga-harga yang menjulang. Sedangkan sejumlah pedagang di beberapa daerah mengeluh karena dagangannya sepi pembeli. Kondisi tersebut berbeda dengan Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya yang disebut mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Mamah Bethram, 47, tahun ini memutuskan tidak mudik untuk bertemu keluarganya di Sumatera Utara karena tabungannya tidak cukup untuk pulang ke kampung halaman.

Pada saat libur Lebaran, perempuan yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga itu pergi ke Pasar Senen. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika ia membeli banyak baju dan oleh-oleh untuk keluarganya, kini ia hanya membeli satu baju dan topi untuk dirinya sendiri.

“Semua barang sekarang mahal dan pemasukan saya malah menurun. Jadi bagaimana mau belanja?” keluh Bethram saat ditemui di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Ia merasa sedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarganya karena gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang melonjak naik bahkan sejak Februari awal.

Suasana pedagang-pedagang di Pasar Senen sehari setelah Lebaran.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Suasana pedagang-pedagang di Pasar Senen, Rabu (10/04).

Ekonom dari The Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, mengatakan konsumsi masyarakat pada periode pasca-Lebaran biasanya mendatangkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.

Namun pada Lebaran kali ini, Indef memperkirakan konsumsi masyarakat menurun sehingga pertumbuhan ekonomi akan lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Andry mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pasca-Lebaran tahun ini boleh jadi merupakan yang paling rendah dalam lima tahun terakhir - jika tidak memperhitungkan periode Covid-19, ketika pertumbuhan ekonomi negara berada di angka minus.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

“Kalau [pertumbuhan ekonomi] hanya 5% atau lebih rendah, bisa disebut lebih buruk daripada masa sebelum Covid,” ujar Andry.

Meski Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Ahmed Zaki Iskandar, memproyeksikan pergerakan ekonomi selama periode mudik Lebaran dapat mencapai Rp386 triliun, Andry merasa target itu tidak akan tercapai.

Sebab, saat masyarakat melakukan mudik ke daerah asal, tabungan mereka tidak cukup untuk belanja Lebaran.

“Karena sudah tertekan daya belinya, ini yang menurut saya mereka akan mengerem [untuk berbelanja], karena uangnya sudah habis duluan di awal,” ujar Andry kepada BBC News Indonesia pada Rabu (10/04).

Menurut data dari Badan Pusat Statistik, inflasi pada Maret 2024 mencapai 3,05%.

Meskipun masih lebih rendah dibandingkan dari periode yang sama tahun lalu, yakni 4%, namun kenaikan harga terbesar terjadi pada sektor makanan dan minuman.

“Makanan itu sudah di 8% sekarang. Dan ini juga trennya sudah naik sejak Februari, trennya untuk makanan, minuman dan tembakau itu di 7,2%. Tahun lalu itu di 6%, ini salah satu indikasinya,” jelas Andry.

“Jadi uang masyarakat ini justru "makan tabungan". Mereka THR-nya banyak, bukannya dibawa ke daerah tapi malah dihabiskan misalnya untuk makanan, minuman karena harganya terlampau tinggi,” tambahnya.

Pedagang: ‘Harusnya omzet tinggi, tapi duit susah‘

Sehari setelah Lebaran, gedung utama Pasar Senen Jaya, Jakarta Pusat tutup. Deretan yang biasa dipenuhi penjual makanan seperti es cendol, bakso, gorengan, dan nasi goreng kini tinggal terpal yang menutupi gerobak-gerobak.

Berjalan lebih jauh ke dalam, terdapat tenda berisi pendagang-pedagang baju yang berpindah dari gedung utama ke lokasi parkir untuk mencoba memikat para pengunjung membelanjakan uang THR mereka.

Meski ada beberapa pengunjung, tidak banyak yang membeli lebih dari satu atau dua barang. Sebagian besar hanya melihat-lihat saja.

“Hei belanjaaa!!“ teriak seorang pedagang baju kepada para pengunjung yang hanya lewat dan melirik barang dagangan mereka. Suaranya terdengar nyaring di tengah suara penjual-penjual lain yang berusaha menarik pembeli ke kios mereka.

Seorang penjaga toko milik Beni yang menjual baju dan jaket di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Seorang penjaga toko milik Beni yang menjual baju dan jaket di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Mamah Berthram menghampiri sebuah toko baju dan memilih satu baju bercorak bunga-bunga. Sang penjual mencoba menawarkan dua atau tiga potong lagi tapi ia hanya membeli satu yang dipilihnya.

“Saya hanya beli satu baju dan satu topi. Iseng saja lihat-lihat sini,“ kata Berthram, seraya mengaku tidak banyak belanja pada Lebaran kali ini karena barang-barang serba mahal.

Beni, 41, pemilik toko baju tempat Berthram belanja, menghela napas sambil melihat para pengunjung yang hanya melewati tokonya.

Ia mengatakan pada Lebaran kali ini, tokonya sepi pengunjung. Hal ini terlihat jelas dari omzetnya yang jatuh drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga:

”Tahun lalu lebih tinggi, bisa sampai Rp15 juta [per hari],” tutur Beni.

Kini, omzetnya saat Lebaran hanya berada di kisaran Rp2 juta sampai Rp5 juta. Ia mengaku kaget karena biasanya musim Lebaran mendatangkan banyak pengunjung.

”Perasaan kami akan tinggi [pendapatan] seharusnya Lebaran tahun ini. Tapi memang keadaannya begini. Memang lagi susah duit,” ungkap Beni.

‘Harga-harga bahan pokok naik terus’

Iis, 50, seorang pegawai perusahaan swasta, pergi ke Pasar Senen bersama putranya yang baru akan mulai bersekolah di pesantren. Ia datang ke salah satu kios penjual celana bahan dan membiarkan putranya melihat-lihat.

Sama seperti Mamah Berthram, ia tidak mudik untuk Lebaran tahun ini. Namun, alasan Iis adalah karena ia kehabisan tiket pulang ke Surabaya, daerah asalnya.

Meskipun tinggal cukup jauh di Cikarang, Jawa Barat, ia tetap rela naik kereta bersama anaknya untuk pergi ke Jakarta Pusat dan mencari peralatan bagi anaknya yang akan memulai jenjang SMP.

Ia mengaku hanya datang ke pasar untuk membeli celana. Ini jarang sekali ia lakukan karena biasanya ia lebih memfokuskan anggarannya untuk membeli kebutuhan pokok.

”Karena keperluan kami banyak, jadi kami lebih mementingkan keperluan daripada baju.

”Semua harga naik, apalagi beras dan minyak. Ya biasa lah, apa-apa naik. Biarpun naik, kebutuhan pokok harus dibeli,” ujar Iis.

Suwati sudah berjualan bakso sejak 1998. Namun baru mulai berjualan dekat Pasar Senen usai wabah Covid-19 reda.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Suwati sudah berjualan bakso sejak 1998. Namun baru mulai berjualan dekat Pasar Senen usai wabah Covid-19 reda.

Setelah selesai membeli celana, Iis dan anaknya pergi ke gerobak mie ayam bakso yang dimiliki oleh Suwati, 47, yang sedang melakukan panggilan video bersama ibunya yang berada di Sragen, Jawa Tengah untuk mengucapkan selamat Idulfitri.

Suwati mengatakan bahwa baru ada sedikit pengunjung yang datang membeli mie ayamnya. Bahkan pada hari Lebaran, ia hanya mendapatkan setengah dari omzet yang biasa ia dapat.

“Dibandingkan tahun lalu sama sekarang lebih ramai tahun lalu. Omzet tahun ini sehari paling Rp500.000 sampai Rp1 juta. Dua tahun lalu lebih ramai, bisa dapat Rp1,5 juta sampai Rp2 juta,” ujar Suwati.

Setelah menyiapkan mie ayam bakso kepada Iis, kedua perempuan itu mulai membicarakan kenaikan harga-harga bahan pokok rumah tangga.

"Ini belanjaan pada naik, ayam, bawang, cabe naik. Cabe kemarin Rp60 [ribu], padahal sehari besoknya naik lagi. Bawang putih mahal. Bumbu lain naik, ayam juga naik," keluhnya.

Pedagang Pasar Tanah Abang: ‘Tidak ada perbedaan signifikan’

Ketua Paguyuban Pedagang Tanah Abang, Yasril Umar, mengatakan Pasar Tanah Abang ramai pengunjung seminggu menjelang Lebaran.

“Iya, macet menjelang Lebaran, banyak pengunjung yang datang ke Tanah Abang. Jalan utama menuju Tanah Abang itu dimanfaatkan oleh parkir liar. Jadi tinggal satu lajur menuju Pasar Tanah Abang,” kata Yasril.

Masyarakat memadati Pasar Tanah Abang untuk berbelanja kebutuhan Lebaran di Jakarta, Sabtu (30/3) atau 11 hari menjelang Idulfitri.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Masyarakat memadati Pasar Tanah Abang untuk berbelanja kebutuhan Lebaran di Jakarta, Sabtu (30/3) atau 11 hari menjelang Idulfitri.

Namun, saat ditanya mengenai omzet tahun ini dibandingkan Lebaran tahun-tahun sebelumnya, Yasril mengatakan bahwa ia dan kebanyakan rekan-rekan pedagangnya tidak melihat ada perbedaan jauh.

“Tidak ada perbedaan signifikan. Mungkin hampir sama [dengan tahun-tahun lalu], kemarin sempat ada geliatnya menjelang Ramadan atau sebelum Ramadan. Lumayan buat nutup biaya operasional dan belanja Lebaran,” ungkap pedagang baju muslimah tersebut.

Pedagang pasar di Padang khawatir dagangan busuk karena tidak dibeli

Tak hanya di Jakarta, para pedagang di Pasar Raya Padang, Sumatra Barat, juga mengeluh sepinya pengunjung yang berbelanja sejak bulan Ramadan hingga Idulfitri.

Pada hari pertama Idulfitri, terlihat hanya beberapa pedagang yang berjualan di Pasar Raya Padang.

Beberapa pedagang yang tetap memilih berjualan saat Lebaran mengaku stok dagangan mereka masih banyak.

"Kalau tidak dijual hari ini nanti bisa busuk dan tidak bisa dijual lagi," kata Yenti, pedagang alpukat di Pasar Raya Padang kepada wartawan Halbert Chaniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Menurutnya, Lebaran tahun ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu karena minat beli masyarakat yang jauh berkurang dibandingkan tahun lalu.

Yenti, pedagang di Pasar Raya Padang sedang menunggu pembeli yang sepi

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Keterangan gambar, Yenti, pedagang di Pasar Raya Padang sedang menunggu pembeli yang sepi.

"Tahun lalu, jam 10.00 atau 11.00-an semua dagangan saya sudah habis. Saat ini saya baru satu orang yang membeli buah alpukat ini," katanya.

Ia mengatakan kurangnya minat masyarakat untuk membeli buah menurun akibat mahalnya harga bahan pokok yang harus dipenuhi masyarakat terlebih dahulu.

Menurut Yenti, berkurangnya minat beli masyarakat tidak hanya terjadi saat Lebaran saja, tapi sejak awal Ramadan.

"Saat bulan puasa juga keadaannya sudah seperti ini. Pendapatan saya sangat jauh berkurang. Bahkan, untuk pulang modal saja susah," lanjutnya.

Baca juga:

Hal serupa dialami oleh Mayar, 76, seorang pedagang sayur. Ia menyatakan bahwa minat beli masyarakat jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena harga bahan pangan yang semakin melonjak naik.

"Tomat saja harganya saat ini Rp24.000 per kilogramnya. Biasanya hanya Rp12.000," ungkapnya.

Karena kenaikan harga yang cukup tinggi tersebut, Yenti merasa masyarakat tidak mau membeli dengan jumlah yang banyak dan ada kemungkinan mengurangi jumlah konsumsi.

Mayar, pedagang sayuran di Pasar Raya Padang berusaha menjual bahan-bahan pokok.

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Keterangan gambar, Mayar, pedagang sayuran di Pasar Raya Padang berusaha menjual bahan-bahan pokok.

Sementara, salah seorang warga Kota Padang, Yelfarina, menyatakan bahwa dirinya memang mengurangi belanja selama Lebaran tahun ini.

"Semuanya serba mahal. Terpaksa bahan yang dibeli di pasar agak sedikit dikurangi dari biasanya," katanya.

Ia mengatakan bahwa kenaikan harga bahan pokok seperti cabai hingga beras sangat menyulitkan masyarakat, terlebih saat Idulfitri saat ini.

"Biasanya membuat lontong dengan beras [membutuhkan] empat sampai lima kilogram, saat ini hanya bikin tiga kilogram saja. Untuk gulainya juga dikurangi seperti cabainya," katanya.

Menurutnya, dengan begitu ia bisa mencukupi kebutuhan saat kumpul bersama keluarganya serta orang-orang yang akan bertamu ke rumahnya.

"Setidaknya ada makanan yang disuguhkan kepada tamu saat mereka datang ke rumah," katanya.

THR tidak cukup untuk menutup kebutuhan Lebaran

Ita, 31, ibu rumah tangga, warga Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menuturkan bahwa belanja untuk Lebaran tahun ini terpaksa harus dia tekan, karena pendapatan menurun.

Ita, yang dua tahun lalu sempat bekerja sebagai pekerja migran di Taiwan, saat itu masih sanggup belanja Lebaran bagi keluarganya. Namun, usai kembali dari Taiwan dan tidak bekerja lagi, kondisi keuangannya membuatnya harus menyesuaikan anggarannya.

"Sekarang saya sudah kembali ke Indonesia, pendapatan keluarga enggak sebesar saya masih di sana. Otomatis belanja untuk Lebaran ini disesuaikan sesuai kebutuhan utama saja," ucap Ita.

Untuk acara Lebaran keluarganya, Ita mengatakan ia membutuhkan setidaknya sekitar Rp3 juta. Uang itu sudah mencakup bahan masakan meriah, kue Lebaran, baju Lebaran untuk anak-anak dan keponakan serta pemberian kepada orang tua.

"Suami saya kerja di bengkel motor dengan upah di bawah Rp3 juta. Plus THR yang didapat sebenarnya mepet dengan kebutuhan Lebaran sampai sebulan. Tapi alhamdulillah tergolong masih cukup," katanya.

Depot penjual bakso Samijo ketika masih melayani pelanggan.

Sumber gambar, Roni Fauzan

Keterangan gambar, Depot penjual bakso Samijo ketika masih melayani pelanggan.

Sementara, Samijo, 68, seorang pedagang bakso di Desa Bajing, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah mengeluhkan omzet jatuh hingga 50% lebih dalam dua tahun terakhir.

"Saya rasa sehabis Covid normal sampai sekarang. Artinya, menurunnya luar biasa, separuh lebih. Omzet dibanding tahun-tahun sebelumnya, saya rasa jauh. Tapi kayaknya [yang mengalami kondisi ini] bukan saya sendiri," ujar Mijo, panggilan akrabnya.

Baca juga:

Bagi pedagang bakso di daerah pedesaan seperti Mijo, momen Lebaran biasanya menjadi kesempatan emas untuk mendapatkan penghasilan lebih dibandingkan hari-hari biasa dari para pemudik di desanya.

Namun sayangnya, setelah pandemi Covid-19 sampai sekarang, kondisinya belum pulih juga.

"Lebaran rata-rata omzet bisa mencapai sekitar Rp5 juta per hari. Pada 2022 dan 2023 kemarin dapatnya Rp2 juta saja. Pernah sehari dapatnya hanya tiga porsi-lima porsi saja sehari," kata Mijo saat diwawancara oleh Roni Fauzan yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Rabu (10/4) siang.

'Daya beli masyarakat tertekan inflasi'

Pengamat ekonomi dari Indef, Andry Satrio Nugroho, mengatakan bahwa pada Lebaran tahun ini daya beli masyarakat tertekan oleh kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, khususnya makanan, minuman, dan transportasi.

Sehingga, saat masyarakat melakukan mudik ke daerah asal pun, tabungan mereka tidak cukup untuk belanja Lebaran.

“Karena sudah tertekan daya belinya, ini yang menurut saya mereka akan mengerem [untuk berbelanja], karena uangnya sudah habis duluan di awal,” ujar Andry.

Andry menjelaskan meskipun mayoritas masyarakat sudah menerima tunjangan hari raya (THR) sepenuhnya, uang yang biasanya mereka gunakan untuk berbelanja ria selama libur Lebaran, kini uang itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Meskipun tahun ini Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan memperkirakan sekitar 71,7% penduduk Indonesia akan melakukan mobilitas selama Lebaran 2024, meningkat dari tahun 2023 sebesar 45,%, Andry mengatakan hal itu tidak bisa menjamin kenaikan dalam konsumsi masyarakat.

Sejumlah pemudik menunggu jadwal keberangkatan di Stasiun Kertapati Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (9/4).

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Nova Wahyudi

Keterangan gambar, Sejumlah pemudik menunggu jadwal keberangkatan di Stasiun Kertapati Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (9/4).

“Kalau kami melihat mengapa saat mudik tinggi, kalau dari kacamata ekonomi, mereka bisa jadi tidak memiliki uang tapi yang penting pulang kampung, kalau mereka bisa berutang mereka akan berutang,” kata Andry.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Ahmed Zaki Iskandar, memproyeksikan pergerakan ekonomi selama periode mudik Lebaran mencapai Rp386 triliun.

“Artinya dalam kurun waktu selama liburan panjang Lebaran, katakanlah per kepala mereka spend Rp2 juta selama musim mudik, ada potensi sekitar Rp386 triliun yang menggerakkan perekonomian di Indonesia pada mudik Lebaran,” kata Zaki, seperti dikutip oleh kantor berita Antara.

Menurut Andry, prediksi tersebut tidak tepat. Sebab, tidak semua masyarakat mampu menganggarkan Rp2 juta untuk kebutuhan belanjanya selama Lebaran.

Selain itu, ia mengatakan menurut proyeksi Indef, pertumbuhan ekonomi pasca Lebaran (yakni pada triwulan II 2024) akan menurun jika dibandingkan dengan triwulan I (Januari-Maret), yakni 5%.

Baca juga:

Secara rata-rata per tahun, Andry mengatakan aktivitas konsumsi masyarakat selama periode Lebaran berkontribusi sebesar 30% hingga 40% dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan untuk triwulan II, yakni April hingga Juni.

Namun, konsumsi masyarakat pada periode Lebaran tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi triwulan II 2024 akan turun mungkin di level 4,9% atau 4,8% karena kami melihat momennya tidak berbarengan antara Ramadan dan juga Lebaran ini,” ujar Andry.

Jika dibandingkan dengan 2023, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I berada pada 5,04% sementara pasca-Lebaran alias triwulan II berada pada 5,17%.

Sedangkan pada 2022, triwulan II setelah Lebaran berada pada level 5,40%. Dan pada 2021, berkat kebangkitan daya beli dari Covid-19, triwulan II mampu mencapai 7,8%.

Jika tidak memperhitungkan periode Covid-19, ketika pertumbuhan ekonomi negara berada di angka minus, Andry mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pasca-Lebaran tahun ini boleh jadi merupakan yang paling rendah dalam lima tahun terakhir.

“Kalau [pertumbuhan ekonomi] hanya 5% atau lebih rendah, bisa disebut lebih buruk daripada masa sebelum Covid,” ujar Andry.