Metode ‘gunting genetik’ dapat memangkas HIV dari sel tubuh, kata ilmuwan

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Michelle Roberts
- Peranan, Editor rubrik kesehatan digital
Para ilmuwan mengaku berhasil menghilangkan HIV dari sel yang terinfeksi. Hal ini dilakukan berkat teknologi pengeditan gen Crispr yang memenangkan Hadiah Nobel.
Bekerja seperti gunting, tetapi pada tingkat molekuler, metode Crispr memotong DNA sehingga bagian yang "buruk" dapat dihilangkan atau dinonaktifkan.
Terobosan ini pada akhirnya diharapkan mampu menghilangkan virus dari tubuh secara keseluruhan. Kendati demikian, masih banyak tes yang diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektifitasnya.
Obat-obat HIV yang tersedia saat ini dapat menghentikan HIV tetapi tidak mengeliminasinya.
Tim dari Universitas Amsterdam mempresentasikan sinopsis atau abstrak dari temuan awal mereka pada konferensi medis minggu ini. Para ilmuwan menekankan bahwa penelitian mereka masih sebatas "pembuktian konsep" dan tidak akan menjadi pengobatan untuk HIV dalam waktu dekat.
Dr James Dixon, profesor muda bidang teknologi sel punca dan terapi gen di Universitas Nottingham, menyepakati hal ini. Menurut Dixon, temuan lengkap masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
"Butuh lebih banyak tes untuk menunjukkan bahwa hasil pengujian sel ini dapat terjadi di seluruh tubuh untuk terapi pada masa depan," ucapnya.
"Masih banyak pengembangan yang diperlukan sebelum ini bisa berdampak pada orang yang hidup dengan HIV."
'Sangat menantang'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Ilmuwan lain juga mencoba menggunakan Crispr untuk melawan HIV.
Excision BioTherapeutics mengatakan setelah 48 minggu, tiga relawan dengan HIV tidak mengalami efek samping yang serius.
Namun, Dr. Jonathan Stoye, seorang ahli virus di Institut Francis Crick di London, mengatakan penyingkiran HIV dari semua sel terkena virus di dalam tubuh "sangatlah menantang".
"Efek pengobatan yang tidak tepat sasaran, dengan kemungkinan efek samping jangka panjang, tetap menjadi perhatian," katanya.
"Oleh karena itu, tampaknya masih butuh waktu bertahun-tahun sebelum terapi berbasis Crispr seperti ini menjadi sesuatu yang rutin – bahkan dengan asumsi bahwa ini terbukti efektif."
Emmanuelle Charpentier dan Jennifer Doudna menerima Penghargaan Nobel Kimia 2020 atas temuan mereka yang dikenal sebagai "gunting genetik" Crispr-Cas9.
Teknologi ini adalah cara untuk membuat perubahan spesifik dan presisi pada DNA yang berada dalam sel hidup.
Mereka mencetak sejarah sebagai dua perempuan pertama yang mendapatkan hadiah Nobel, tanpa kolaborator laki-laki yang namanya turut dicantumkan dalam penghargaan tersebut.
HIV menginfeksi dan menyerang sel-sel sistem kekebalan dan mampu membuat memperbanyak dirinya sendiri dalam bentuk “salinan”.
Bahkan dengan pengobatan yang efektif, beberapa virus HIV bisa memasuki fase istirahat atau laten - sehingga mereka masih mengandung DNA, atau materi genetik HIV, meskipun tidak secara aktif memproduksi virus baru.
Kebanyakan orang yang hidup dengan HIV membutuhkan terapi antiretroviral seumur hidup mereka. Jika berhenti minum obat, virus yang dorman dapat aktif kembali dan menjadi kambuh lagi.
Beberapa orang yang langka tampaknya telah 'sembuh', setelah terapi kanker yang agresif memusnahkan beberapa sel yang terinfeksi. Namun, ini tidak akan pernah direkomendasikan hanya untuk mengobati HIV.












