Hari AIDS Sedunia: Upaya perempuan Papua menepis stigma dan merangkul sesama
Kaum perempuan mendominasi angka kasus HIV di Papua. Stigma dan diskriminasi, kondisi geografis, serta pandemi, membuat penanganan HIV dan AIDS menjadi lebih pelik.
Salah satunya Konstance Raweyai yang dinyatakan positif HIV enam tahun lalu. Sejak itu, dia tidak bisa lepas dari obat anti-retroviral virus atau ARV sepanjang sisa hidupnya.
Awalnya, Konstansce mengaku sempat putus asa. "Saya menangis, sampai tidak mau makan. Sudah putus asa, tidak mau hidup," ujar Konstance.
Sang anak semata wayang yang kemudian menjadi jangkarnya untuk terus menjalani hidup.
Simak juga:
Konstance kini menjadi motivator bagi sesama pengidap HIV di Papua untuk terus berjuang melawan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu.
"Saya mau mendorong mereka untuk ke layanan kesehatan maupun untuk berobat, agar mereka tetap sehat walaupun terinfeksi," papar Konstance.
HIV/AIDS sudah lama menjadi isu kesehatan utama di Papua, bahkan menjadi ancaman mematikan.
Sayangnya, dua tahun belakangan, isu itu tertimbun oleh pandemi Covid-19 dan konflik tak berkesudahan antara militer Indonesia dan kelompok pro-kemerdekaan Papua.
Tahun lalu, kasus AIDS di Papua ada di urutan teratas nasional dengan 23.629 kasus. Sementara kasus HIV di Papua ada di posisi keempat dengan 37.662 kasus.
Video Produksi:
Produser: Ayomi Amindoni
Video Editor: Valdya Baraputri