'Dunia semakin dingin' dan empat mitos iklim lainnya yang viral di media sosial, mana yang benar?

Sumber gambar, EPA
- Penulis, Marco Silva
- Peranan, BBC Verify
- Waktu membaca: 7 menit
Di tengah KTT iklim COP30 yang tengah berlangsung di Brasil, awal November ini, klaim keliru dan menyesatkan tentang perubahan iklim masih beredar di media sosial, beberapa di antaranya telah dibaca jutaan orang. BBC mengulas lima klaim tersebut dan menjelaskan mengapa klaim-klaim itu tidak benar.
Klaim 1: Perubahan iklim bukan buatan manusia
Unggahan tak berdasar yang menyebut manusia tidak mengubah iklim terus menyebar dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Spanyol, Rusia, dan Prancis.
Benar bahwa bumi telah mengalami siklus pemanasan dan pendinginan sepanjang sejarahnya, yang sebagian besar didorong oleh faktor-faktor alami, seperti aktivitas vulkanik atau variasi aktivitas matahari.
Namun, perubahan itu terjadi dalam jangka waktu yang panjang, biasanya ribuan, bahkan jutaan tahun.
Dalam 150 tahun terakhir saja, planet ini telah menghangat sekitar 1,3° Celsius, menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).
Meskipun angka itu mungkin terdengar kecil, para ilmuwan mengatakan laju pemanasan ini belum pernah terlihat, setidaknya selama ribuan tahun.
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan pemanasan tersebut "jelas" disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama melalui pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas.
IPCC adalah badan PBB yang menyatukan para ilmuwan untuk meninjau penelitian iklim dan memberikan laporan berbasis bukti tentang apa yang akan terjadi pada planet ini.

Sumber gambar, Getty Images
Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan gas rumah kaca, sebagian besar karbon dioksida (CO2), yang bertindak seperti selimut di sekeliling bumi, memerangkap energi berlebih di atmosfer dan menyebabkan planet memanas.
"Perubahan iklim bukanlah masalah keyakinan; melainkan bukti," ujar Joyce Kimutai, ilmuwan iklim dari Imperial College di London.
"Jejak aktivitas manusia terlihat jelas di setiap sudut sistem iklim planet ini," sambungnya.
Klaim 2: Dunia semakin dingin, bukan semakin panas
Beberapa pengguna media sosial—di tempat-tempat seperti Polandia atau Kanada—bilang bahwa cuaca yang lebih dingin dari biasanya di wilayah mereka menjadi bukti bahwa para ilmuwan berbohong tentang pemanasan global.
Klaim planet ini mendingin juga tersebar di dunia maya. Tapi, itu salah besar.

Sumber gambar, Getty Images
Cuaca mengacu pada kondisi jangka pendek di atmosfer bumi, sedangkan iklim menggambarkan pola jangka panjang dalam periode yang panjang.
"Catatan suhu global jangka panjang dengan jelas menunjukkan permukaan bumi secara keseluruhan semakin hangat, meskipun beberapa wilayah mengalami pendinginan jangka pendek atau lokal," kata Joseph Basconcillo, seorang pakar iklim di Filipina.
Adapun WMO mengatakan, sejak 1980-an, tiap dekade lebih hangat daripada dekade sebelumnya—sebuah tren yang diperkirakan akan terus berlanjut.
Disebutkan tahun 2024 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata global sekitar 1,55°C ke atas pada akhir 1800-an.
Klaim 3: CO2 bukan polutan
Akun media sosial yang menyangkal perubahan iklim akibat ulah manusia sering mengklaim karbon dioksida "bukan polutan" melainkan "makanan nabati".
Unggahan yang BBC lihat dalam bahasa Portugis dan Kroasia itu bahkan menunjukkan keberadaan CO2 dalam jumlah besar di atmosfer hanya akan berdampak baik bagi alam.
Polutan adalah zat yang, ketika masuk ke lingkungan, dapat membahayakan ekosistem atau kesehatan manusia.
Pada tingkat normal di atmosfer, CO2 sangat penting bagi kehidupan di bumi. Tanpa gas rumah kaca seperti CO2, planet kita akan terlalu dingin untuk mendukung kehidupan, menurut NASA.
Tumbuhan juga menggunakan CO2—digabung dengan air dan sinar matahari—untuk menghasilkan oksigen dan bahan organik, yang membentuk dasar dari sebagian besar rantai makanan di planet ini.
Namun, ketika terdapat terlalu banyak CO2 di atmosfer, para ilmuwan mengklasifikasikannya sebagai "polutan" karena mulai menyebabkan kerusakan.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Kadar karbon dioksida mencapai rekor tertinggi pada 2024, setelah meningkat sejak 1750 dari sekitar 280 ppm (bagian per juta) menjadi 423 ppm, menurut WMO.
Para ilmuwan telah secara mengaitkan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer yang disebabkan oleh manusia ini dengan pemanasan global. Mereka menyatakan bahwa hal ini memiliki konsekuensi yang luas bagi ekosistem.
"Hutan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran, tanaman pangan rusak akibat kekeringan atau banjir, dan satwa liar kehilangan habitat karena ekosistem menjadi tidak seimbang," papar Michelle Kalamandeen, seorang ahli ekologi, ilmuwan konservasi, dan konsultan yang berbasis di Kanada.
IPCC menyatakan peningkatan CO2 di atmosfer dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, tapi mungkin tidak cukup untuk mengimbangi dampak negatif perubahan iklim, termasuk tekanan panas dan kelangkaan air.
Klaim 4: Pembakaran, bukan perubahan iklim, yang menyebabkan kebakaran hutan
Ketika kebakaran hutan besar terjadi—seperti pada awal tahun ini di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Turki—beberapa pengguna media sosial berfokus pada pembakaran yang disengaja sebagai penyebab, dan mengabaikan faktor-faktor seperti perubahan iklim.

Sumber gambar, Getty Images
Unggahan viral tentang penangkapan pelaku pembakaran sering dibumbui dengan ejekan terhadap ilmuwan dan politisi yang mengaitkan kebakaran tertentu dengan perubahan iklim.
Namun, meskipun banyak kasus kebakaran memang dimulai secara sengaja atau tidak sengaja oleh manusia, menggeneralisasi kebakaran hutan menjadi satu penyebab tunggal adalah sangat menyesatkan, kata Dolores Armenteras, yang meneliti ekologi kebakaran di Universitas Nasional Kolombia.
Menghubungkan kebakaran tertentu dengan perubahan iklim memang sulit—sebagian karena ada faktor yang memengaruhi kebakaran hutan, termasuk bagaimana hutan dikelola, cuaca, dan topografi.
Tetapi, kita tahu perubahan iklim menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya dan penyebaran kebakaran hutan.
IPCC menyatakan di wilayah seperti Amerika Utara bagian barat atau Eropa selatan, perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan yang disebut "cuaca kebakaran": kombinasi kondisi kering jangka panjang, panas ekstrem, dan angin kencang.
Dalam kondisi tersebut, sumber penyulut—baik yang alami, seperti petir, maupun manusia, seperti pembakaran atau kecelakaan—yang dikombinasikan dengan vegetasi yang melimpah bisa menyebabkan kebakaran hutan ekstrem.
"Pertanyaannya bukanlah pembakaran atau perubahan iklim," kata Armenteras.
"Melainkan bagaimana iklim yang memanas dengan kondisi yang lebih ekstrem memperkuat konsekuensi dari setiap sumber penyulutan, menciptakan kebakaran dahsyat yang sekarang kita amati di banyak tempat".

Sumber gambar, AFP via Getty Image
Klaim 5: 'Rekayasa' iklim menyebabkan cuaca ekstrem
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Klaim bahwa hujan lebat, banjir, atau badai disebabkan oleh manipulasi cuaca atau rekayasa iklim terus bermunculan di internet secara berkala.
Ketika banjir bandang melanda Dubai di Uni Emirat Arab atau di Valencia, Spanyol, tahun lalu banyak pengguna media sosial dengan cepat menyalahkan rekayasa iklim tersebut.
Namun, manipulasi cuaca dan rekayasa iklim—yang berbeda satu sama lain—tidak memberi penjelasan apapun terkait cuaca ekstrem yang dialami berbagai belahan dunia.
Memanipulasi cuaca memang praktik yang bisa dilakukan. Salah satu teknik yang paling umum, yaitu penyemaian awan, telah diterapkan di lebih dari 30 negara dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di China, Meksiko, dan India, menurut laporan pemerintah AS.
Teknik itu dilakukan dengan menjatuhkan partikel kecil, seperti perak iodide, ke dalam awan. Tujuannya untuk mendorong uap air mengembun atau membeku sehingga meningkatkan kemungkinan hujan atau salju.
"Teknik manipulasi cuaca berpotensi pada skala lokal dalam periode waktu yang sangat singkat," kata Govindasamy Bala, profesor di Pusat Ilmu Atmosfer dan Kelautan di Institut Sains India.
"Oleh karena itu, teknik ini tidak bisa memperhitungkan perubahan iklim yang semakin cepat di setiap bagian atau sudut planet ini selama beberapa dekade terakhir."

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Meskipun terdapat beberapa perdebatan mengenai efektivitas modifikasi cuaca seperti penyemaian awan, para ilmuwan sepakat bahwa teknik tersebut bukan faktor tunggal yang menyebabkan banjir besar atau badai berskala besar.
Rekayasa iklim, di sisi lain, mengacu pada upaya untuk memanipulasi lingkungan dengan tujuan mengubah iklim.
Salah satu bentuk rekayasa iklim yang sering disebutkan adalah modifikasi radiasi matahari, dengan menyemprotkan partikel halus zat tertentu ke atmosfer, untuk memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa. Secara teori, artinya, untuk mendinginkan bumi.
Selain sejumlah kecil eksperimen yang sangat terlokalisasi, rekayasa energi matahari tidak dilakukan dalam skala besar di mana pun di dunia.
Namun, di sejumlah negara, termasuk Inggris, telah bermunculan investasi untuk penelitian rekayasa energi matahari dalam beberapa tahun terakhir. Tujuannya, untuk memahami apakah teknik itu bisa membatasi pemanasan global yang berbahaya.
Pertanyaannya, apa yang melatarbelakangi beberapa cuaca ekstrem yang dialami dunia saat itu?
Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim membuat beberapa jenis cuaca ekstrem, seperti gelombang panas atau curah hujan ekstrem, lebih mungkin terjadi dan lebih intens.









