Protes soal kinerja pemerintah dan sistem pendidikan, ribuan Gen Z di India demo dipimpin Partai Kecoak

Pendukung CJP ditangkap aparat India

Sumber gambar, EPA/Shutterstock

Keterangan gambar, Puluhan demonstran ditangkap aparat India dalam demonstrasi di Delhi.
    • Penulis, Michael Sheils McNamee
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 5 menit

Ribuan demonstran dari Generasi Z turun ke jalan-jalan di ibu kota India, Delhi, guna menyerukan pengunduran diri menteri pendidikan negara itu.

Demonstrasi itu bergerak dengan dipimpin "Cockroach Janta Party" (CJP) atau "Partai Kecoak".

Berawal sebagai gerakan satir di dunia maya beberapa bulan lalu, CJP kini menjadi salah satu gerakan anak muda paling terkemuka di India.

Berikut yang perlu Anda ketahui.

Mengapa mahasiswa berdemonstrasi di Delhi?

Meski berawal dari humor, CJP dengan cepat menjadi wadah bagi anak muda India yang merasa tidak puas terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, di tengah tingginya angka pengangguran kaum muda di negara itu.

Walau namanya mengandung kata "partai", CJP bukanlah partai politik.

Gerakan ini dipimpin oleh Abhijeet Dipke, seorang ahli strategi komunikasi politik berusia 30 tahun dan mantan mahasiswa Boston University.

Dia mengatakan kepada BBC bahwa semuanya dimulai sebagai lelucon.

"Saya berpikir kita seharusnya berkumpul bersama, mungkin memulai sebuah platform."

Namun setelah menawarkan kepada khalayak untuk bergabung dengan gerakan tersebut melalui formulir Google, dia menerima puluhan ribu tanggapan.

Hal itu mendorong CJP berkembang menjadi kelompok protes yang serius.

Pada 9 Juli lalu mereka mengumumkan aksi menuju parlemen yang akan berlangsung pada 20 Juli.

Puluhan ribu orang lalu hadir pada unjuk rasa itu di Delhi. Ratusan orang lainnya juga mengikuti aksi protes dan malam doa dengan lilin di kota-kota lain seperti Mumbai, Bengaluru, dan Goa.

Pendukung Cockroach Janta Party (CJP) memegang poster Sonam Wangchuk setelah pihak berwenang memindahkannya ke rumah sakit selama mogok makannya, dalam aksi protes yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan, di Mumbai, India, 19 Juli 2026.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Para pendukung CJP menyerukan pembebasan Sonam Wangchuk.

Aksi protes ini menjadi semakin mendapat sorotan karena perlakuan aparat terhadap Sonam Wangchuk, seorang insinyur dan aktivis terkenal.

Sonam memulai mogok makan pada 28 Juni lalu untuk mendukung CJP di Jantar Mantar, observatorium berusia 300 tahun di pusat Delhi yang sering menjadi lokasi demonstrasi.

Pada 18 Juli lalu, pria berusia 59 tahun itu dibawa ke rumah sakit secara paksa oleh aparat. Tindakan itu memicu kemarahan para pendukung CJP dan menarik perhatian lebih luas terhadap gerakan protes tersebut.

Di rumah sakit, Sonam tetap melanjutkan aksi mogok makan.

Mengapa para pengunjuk rasa disebut demonstran 'kecoak'?

Nama Cockroach Janta Party (Partai Rakyat Kecoak) muncul sebagai respons terhadap komentar Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant.

Baca juga:

Dalam sidang pengadilan pada Mei, ia diduga membandingkan anak muda pengangguran yang beralih ke jurnalisme dan aktivisme dengan kecoak dan parasit.

Belakangan dia menjelaskan bahwa yang dimaksudnya adalah orang-orang dengan "gelar palsu dan tidak sah", bukan kaum muda India secara umum.

Namun saat klarifikasi itu disampaikan, komentar tersebut sudah lebih dulu menyebar luas di internet dan memicu kemarahan.

Aparat keamanan mengayunkan pentungan terhadap para demonstran di lokasi protes selama pawai yang direncanakan oleh pendukung Cockroach Janta Party India menuju parlemen pada hari pembukaan sidang musim hujan, menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan atas kebocoran soal ujian di dekat Jantar Mantar, New Delhi, India, 20 Juli 2026.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Banyak orang terluka ketika polisi mencoba membubarkan kerumunan demonstran pada Senin (20/07) menggunakan pentungan dan gas air mata.

Adapun nama Cockroach Janta Party merupakan plesetan dari Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, yang telah berkuasa sejak 2014.

Sejak CJP dideklarasikan, berbagai relawan anggota gerakan ini hadir dalam kegiatan bersih-bersih dan aksi protes dengan mengenakan kostum kecoak.

Apa yang diinginkan CJP?

CJP memprotes berbagai persoalan yang mereka anggap bermasalah dalam sistem pendidikan India.

National Eligibility cum Entrance Test (NEET) adalah ujian penerimaan mahasiswa perguruan tinggi kedokteran di seluruh negeri.

Hampir 2,28 juta peserta mengikuti ujian tersebut pada 3 Mei, setelah belajar selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menghadapi ujian yang terkenal sulit itu.

Namun beberapa hari kemudian, ujian tersebut dibatalkan setelah muncul tuduhan bahwa soal-soalnya telah bocor.

Baca juga:

Peristiwa itu menjadi pukulan besar bagi para peserta, yang harus mengulang ujian beberapa minggu kemudian di bawah pengamanan ketat.

Abhijeet Dipke, pendiri gerakan politik satir yang dipimpin anak muda, Cockroach Janta Party (CJP), melakukan mogok makan ketika para pendukung CJP berunjuk rasa di New Delhi, India, 19 Juli 2026.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Abhijeet Dipke mogok makan setelah Sonam Wangchuk dibawa ke rumah sakit. Namun, Dipke mengikuti seruan untuk mengakhiri puasanya pada Senin (20/07).

Kemarahan atas kejadian ini menjadi salah satu alasan CJP memulai aksi protes.

CJP dan sejumlah keluarga juga menuduh sekitar 20 siswa meninggal karena bunuh diri akibat tekanan setelah ujian tersebut dibatalkan.

Ujian NEET juga dilanda kontroversi pada 2024.

CJP menyerukan perombakan sistem pendidikan serta pengunduran diri Menteri Pendidikan, Dharmendra Pradhan.

Menyusul perlakuan terhadap Sonam Wangchuk pada akhir pekan, pemimpin CJP Abhijeet Dipke juga menyerukan agar Modi mengundurkan diri.

Apa dampak protes CJP?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Belum jelas apakah CJP akan berhasil melengserkan menteri pendidikan dan merombak sistem pendidikan India. Namun, yang jelas gerakan ini telah memberikan dampak besar di negara tersebut.

Aksi protes pada Senin (20/07) merupakan demonstrasi terbesar terhadap pemerintahan Modi yang pernah terlihat di Delhi dalam beberapa tahun terakhir.

Polisi mencoba membubarkan massa dengan pentungan dan gas air mata setelah para demonstran berusaha menembus barikade. Aparat juga membongkar panggung serta tenda-tenda darurat di Jantar Mantar, basis utama protes.

Setidaknya 60 demonstran mengalami luka-luka akibat tindakan aparat dan 70 pengunjuk rasa ditahan. Di sisi lain, kepolisian India mengklaim sebanyak 118 anggota mereka terluka.

Namun para demonstran menolak pergi.

Orang-orang terus berkumpul di lokasi itu sepanjang waktu, menghadapi hujan sekaligus panas dan kelembapan tinggi Delhi yang menyengat.

Baca juga:

Sehari setelah tindakan keras polisi, sejumlah pemimpin dari partai oposisi utama India menggelar aksi protes di luar kediaman Modi, mengecam tindakan polisi terhadap para demonstran.

Anggota parlemen Partai Kongres sekaligus pemimpin oposisi, Rahul Gandhi, mengatakan partainya memutuskan untuk berdemonstrasi di luar kediaman Modi karena mereka tidak diizinkan mengangkat topik tersebut di parlemen.

Partai Kongres kemudian membagikan video yang menunjukkan Gandhi dan anggota parlemen partai lainnya ditahan dan dibawa dengan bus polisi.

Mereka dibebaskan beberapa jam kemudian.

Pemimpin oposisi India Rahul Gandhi ditahan polisi selama aksi duduk di luar kediaman Perdana Menteri Narendra Modi, menuntut pertanggungjawaban atas tindakan polisi terhadap para mahasiswa, di New Delhi, India, 21 Juli 2026.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pemimpin oposisi, Rahul Gandhi, ditahan saat berdemonstrasi di luar kediaman PM Modi.

Sejumlah pemimpin oposisi lainnya juga mengkritik respons polisi dan menuntut pertanggungjawaban.

Sementara itu, menteri pendidikan, dalam komentar pertamanya sejak kekerasan pada Senin (20/07), mengkritik Partai Kongres karena "tanpa malu mengeksploitasi mahasiswa sebagai alat politik".

"Bahkan setelah pemerintah menyampaikan kesiapannya untuk mengadakan pembahasan menyeluruh, Partai Kongres memilih pertunjukan politik daripada perdebatan demokratis.

"Tujuan mereka tidak pernah untuk mencari solusi bagi mahasiswa, melainkan menciptakan gangguan demi menjadi berita politik," kata Menteri Pendidikan, Dharmendra Pradhan, dalam unggahan di X, seraya menambahkan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk menangani kekhawatiran para mahasiswa.

Namun, Pradhan tidak secara langsung merujuk pada aksi protes yang sedang berlangsung. CJP juga tidak merespons pernyataannya.