‘Satu tungku tiga batu’ - Warisan leluhur Fakfak di Papua yang ‘melampaui toleransi’ tetapi dikritik kalangan muda

    • Penulis, Silvano Hajid
    • Peranan, Wartawan BBC News Indonesia

Masyarakat Fakfak - yang dijuluki miniatur Indonesia di Papua - mewarisi nilai toleransi "satu tungku tiga batu" peninggalan leluhur berabad-abad lampau. Lantas, bagaimana masyarakat Fakfak merawat warisan itu di tengah gempuran modernitas?

Perang suku tak berkesudahan berabad-abad lalu membuat para leluhur di Fakfak, Papua Barat, bersumpah untuk hidup damai. Mereka meninggalkan falsafah "Idu-idu maninina" dalam bahasa setempat, yang berarti "kami ingin damai".

Sumpah itu melahirkan istilah "agama keluarga" yang sarat nilai toleransi. Istilah tersebut merujuk keadaan ketika dalam satu marga dan kerabat dekat terdapat sejumlah anggota keluarga yang menganut agama Islam atau Kristen Protestan atau Katolik.

Istilah "agama keluarga" itu pula yang mendorong pemerintah daerah menciptakan slogan "satu tungku tiga batu", yang menurut antropolog, "melebihi toleransi" karena mampu melampaui batas-batas "kerangkeng agama".

Sayangnya, tradisi itu kini mulai dimanfaatkan untuk kepentingan politik segelintir orang.

Sejumlah generasi muda pun mempertanyakan motif politik praktis yang mengatasnamakan agama,

Mereka beranggapan hal itu berpotensi menimbulkan konflik di Fakfak, Papua Barat, provinsi yang pernah meraih peringkat teratas dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama versi Kementerian Agama pada 2019 silam.

Satu tungku tiga batu sebagai 'tatanan hidup'

"Agama keluarga" masih hadir dalam ruang privat 144 marga di Fakfak. Salah satunya tercermin dalam kehidupan keluarga besar Eni Kapaur pada bulan Ramadan.

Rumah keluarga Kapaur yang terletak di Kampung Merapi menghadap jalan raya dan membelakangi laut. Bising kendaraan yang melintas dan suara deburan ombak pada sore kala itu bersua di rumah tersebut.

Eni, 44 tahun, tengah menjalani ibadah puasa. Di rumahnya, dia ditemani oleh dua kerabat dekatnya yang beragama Kristen Protestan.

Mereka tinggal di rumahnya selama masa yang disebut Eni sebagai "kepala puasa", yakni tiga hari pertama pada bulan Ramadan.

Baca juga:

“Ketika bulan puasa ini, mereka datang, mereka tidak melupakan saya, mereka seperti ingin bilang, bahwa saya tidak sendiri, sama-sama meramaikan saya punya bulan suci Ramadan,” tutur Eni.

Para leluhur, yang disebut tua-tua oleh warga setempat, mengajarkan mereka untuk saling mengunjungi.

Rosalina Tangahma adalah kakak sepupu Eni yang datang sehari sebelumnya. Perempuan berusia 60 tahun yang akrab disapa Mama Tua itu menyiapkan hidangan sahur dan berbuka untuk Eni dan keluarga.

Mama Tua duduk di lantai beralas tikar anyaman daun lontar. Pintu rumah sengaja dibuka lebar-lebar agar embusan angin dari bukit dan laut datang bergantian.

Sambil menunggu waktunya tiba untuk memasak dan menyiapkan hidangan berbuka, Mama Tua mengisi waktu dengan menganyam tomang – tas anyaman khas Fakfak yang terbuat dari daun lontar.

“Harusnya [menganyam] malam, karena daun bisa lemas tidak mudah patah, kalau siang begini daun jadi kering,” jelas Mama Tua.

Dia mengurungkan niatnya untuk menganyam pada malam hari karena harus tidur lebih cepat dan bangun sebelum waktu sahur tiba. Namun Mama Tua tak keberatan dengan hal itu.

Mama Tua menuturkan bahwa kehadirannya dalam "kepala puasa" di rumah Eni untuk menghindari apa yang yang dia sebut "baku pisah".

Suaranya yang halus dan terdengar samar seperti berbisik menjelaskan, “Saya bantu adik, Kristen bantu Islam, bersatu tiga hari ini, sudah biasa bagi kami. Lebaran nanti kami kumpul di sini. Kalau nanti Natal, adik bantu kami. Tidak boleh baku pisah, tidak boleh putus keluarga.”

Embusan angin paling kuat yang mengibarkan gorden pembatas ruang utama dan ruang makan, menjadi penanda untuk Mama Tua pergi ke dapur, menyiapkan hidangan berbuka.

Dapur keluarga Kapaur terpisah dari bangunan rumah. Ketika berjalan menuju dapur, terlihat makam leluhur Kapaur di halaman belakang.

Eni bercerita, dahulu kakek buyutnya, Ambar Kapaur, memberikan sebagian tanah adatnya untuk membangun masjid, gereja Katolik dan gereja Protestan.

“Itu yang disebut sebagai agama keluarga, satu tungku tiga batu. Idu-idu maninina, artinya dingin, sejuk, tenang, beliau memberikan contoh kepada kami," tutur Eni.

"Itu kami pakai sebagai tatanan hidup.”

Sambil menunggu waktu berbuka, Eni menjelaskan bahwa arti kata idu-idu maninina sebenarnya sifatnya universal bagi masyarakat Fakfak.

Dia mengibaratkan bahasa sebagai "kakak", pihak paling bijak yang mengayomi adik.

“Ketika ada persoalan, kita bicara dahulu, tidak boleh langsung ada tindakan," tuturnya.

"Di Fakfak, bahasa itu adalah kakak, bicara dahulu, jika tidak selesai baru bisa ke ranah hukum. Tetapi kalau masih bisa dibicarakan dengan adat, mari kita berbicara dulu.”

Menurut Eni, cerminan agama keluarga dan filosofi satu tungku tiga batu bukan hal yang istimewa baginya, lantaran tradisi itu "sudah mandarah daging", katanya.

Lebih lanjut Eni menuturkan bahwa tradisi itu diturunkan lewat tutur orang tua kepada anak-anaknya, selain contoh keseharian mereka dengan keberagaman agama di Fakfak.

“Kami sudah dapat sejak kami lahir, kami berkembang dan terbentuk dengan itu.”

Usai berkegiatan di dapur, tibalah waktu berbuka puasa. Eni dan keluarganya tengah menyantap hidangan berbuka, sementara Mama Tua mengajarkan keponakannya mengunyah pinang. Dan hari pertama Ramadan sudah sepenuhnya gelap.

Keesokan harinya, BBC News Indonesia berjumpa dengan Anton Tangahma, 40 tahun, yang tinggal tak jauh dari rumah tua Kapaur.

Anton, yang beragama Katolik, menilai toleransi di Fakfak merupakan nikmat dalam hidupnya.

Anton menuturkan di depan rumahnya terdapat gereja tempat umat Nasrani beribadah. Berapa langkah dari pintu belakang, berdiri tegak sebuah masjid, tempat eribadatan umat Muslim

Dua pintu rumah ibadah itu saling berhadapan. Kondisi itu membuat Anton dan keluarga terbiasa dalam keadaan beragam.

“Ketika Minggu saya dengar puji-pujian di gereja, pada hari Jumat saya dengar [khotbah] salat Jumat di masjid.”

Kendati memeluk agama Katolik, Anton memiliki keluarga dekat yang memeluk agama Islam. Bahkan ayahnya dahulu adalah seorang Muslim.

“Kakek saya dahulu belum memiliki agama, dia membagi agama kepada anak-anaknya, ua [kakak ayah] memeluk Islam, sementara ua yang lain memilih agama mereka ketika dewasa. Ayah saya yang anak bungsu memeluk Islam.”

Anton bercerita, karena ayahnya kala itu takut disunat, sang ayah melarikan diri hingga ke Distrik Kokas, rumah kakek buyut Anton – sekitar dua jam perjalanan darat dari Kampung Merapi.

“Ayah saya akhirnya memeluk Katolik karena bertemu ibu saya yang sudah memeluk Katolik.”

Antropolog di Fakfak, Ronald Helweldery, mengatakan nilai-nilai yang sudah mandarah daging dalam masyarakat Fakfak “melebihi toleransi”.

“Toleransi di dalam diri saya adalah sekadar menjaga tenggang rasa, sementara yang dilakukan oleh masyarakat Fakfak melebihi toleransi,” ujar antropolog yang juga seorang pendeta tersebut.

“Pandangan keberagaman saya masih rendah jika dibandingkan masyarakat Fakfak [yang] lebih tinggi."

"Mereka sudah mampu melampaui batas-batas kerangkeng agama, secara doktrin dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Dalam penelitiannya, Ronald menjelaskan bahwa idu-idu maninina yang berarti "kami ingin damai, damai, damai" telah dirawat selama berabad-abad oleh masyarakat Fakfak.

“Ini narasi praktik sosial yang mereka hidupi lama sekali, lebih dari dua abad, dengan cara ini kita bisa membayangkan bahwa satu tungku tiga batu tidak ada artinya jika tidak ada agama keluarga.”

Leluhur yang bersumpah menyudahi konflik

Lebih jauh, Ronald menjelaskan bahwa toleransi yang "melampaui batas-batas kerangkeng agama" di Fakfak, telah terjalin berabad-abad silam.

Selama ratusan tahun, sejak 1498 hingga 1809, terjadi krisis kemanusiaan dan perang antar suku di Fakfak yang disebut sebagai perang Hongi.

Perang fisik, adu kekuatan supranatural, tradisi potong kepala dan praktik perbudakan terhadap suku yang kalah membuat para leluhur yang kala itu berperang merasa harus menyudahi semua itu.

Dalam penelitiannya, Ronald menyebut bahwa pada puncak peristiwa yang tejadi pada awal abad 20, semua pihak yang terlibat konflik sepakat membuat ritual yang disebut sebagai "sumpah batu".

“Mulai hari itu, mereka membuang kata-kata kasar, melepaskan senjata sampai kekuatan supra-alam yang menimbulkan perang dan kejahatan, mereka lepaskan dengan meludah di batu, mereka akhiri perang dan ingin hidup damai.”

Ronald melanjutkan, sejarah panjang itu mengajarkan mereka bahwa hidup dalam perang tidaklah berguna.

“Hidup penuh kecurigaan dan ada spirit saling menaklukkan, maka muncul bahasa sebagai cita-cita orang Fakfak, idu-idu maninina.”

Ketika perang suku berkecamuk, setidaknya pada abad ke-16, agama Islam masuk ke Fakfak.

Kesultanan Ternate dan Tidore di Kepulauan Maluku, yang secara geografis dekat dengan Fakfak, memengaruhi persebaran Islam, khususnya di wilayah pesisir Fakfak.

Dalam penelitiannya, Ronald mengemukakan bahwa penyebaran agama Islam dilakukan melalui perkawinan dan perdagangan.

Ketika Protestan dan Katolik datang pada pengujung abad ke-19 bersamaan dengan kedatangan Belanda, perjumpaan antar agama ini berlangsung dengan damai.

Ronald menjelaskan, bagi mereka, masyarakat pesisir yang sudah memeluk Islam disebut sebagai "kakak".

“Ketika agama Kristen dan Katolik datang, mereka yang sudah memeluk Islam di pantai mengatakan bahwa saudara mereka di gunung belum beragama.

"Kakak memberi jalan supaya para misionaris menemui saudara-saudara mereka yang ada di gunung dan belum beragama," jelasnya.

Ronald kemudian mencontohkan sebuah metafora untuk menjelaskan karakter masyarakat Fakfak kepada dunia luar.

“Kehidupan beragama mereka seperti rumah, terdapat tiga kamar, kakak yang Islam di kamar pertama, adik pertama yang Protestan di kamar kedua, sementara adik terakhir di kamar ketiga."

"Jika ada masalah, mereka keluar kamar dan membicarakan masalah itu di ruang keluarga,” jelas Ronald.

Metafora itu, menurut Ronald, adalah keadaan ketika agama tidak menciptakan kiblat-kiblat yang memisahkan mereka dalam segregasi.

Ronald menambahkan, masyarakat Fakfak memahami hidup mereka seperti satu keluarga yang hidup dalam satu rumah, Oleh sebab itu, mereka menyebutnya sebagai "agama keluarga".

Konsep agama keluarga itu didukung dengan sistem kekerabatan dan kesatuan silsilah. Di Fakfak, terdapat istilah pemersatu yang disebut "Mbaham Matta".

Walau etnis dan agama mereka berbeda, masyarakat Fakfak berasal dari satu nenek moyang yang sama, yakni dari Gunung Mbaham.

Sementara istilah Matta merujuk pada warga pesisir Fakfak yang bertemu suku-suku lain dan membangun kehidupan mereka di pantai. Mbaham Matta menganggap para pendatang juga saudara.

Dalam penelitiannya, Ronald mengungkap bahwa filosofi agama keluarga ini mampu menangkap konflik sosial di tengah masyarakat. Terbukti ketika kerusuhan Ambon pecah pada 1999 hingga 2001 tidak merembet hingga Fakfak.

“Konflik hampir pecah, tetapi masyarakat Fakfak menolak konflik. Itu terjadi bukan karena elemen negara hadir, melainkan elemen filosofi agama keluarga,” kata dia.

Senada dengan Ronald, peneliti dan pengamat sosial budaya masyarakat Fakfak, Saidin Ernas mengemukakan bahwa ketika integrasi sosial sudah ada sejak dahulu, sistem budaya selalu punya mekanisme sendiri untuk kembali tertib secara sosial.

“Konflik adalah bagian yang inheren, tetapi, sistem sosial akan menemukan caranya sendiri untuk menertibkan masyarakat.”

Lebih lanjut, Saidin menjelaskan bahwa perisitiwa masa lampau yang diwariskan lintas generasi telah membentuk karakter Fakfak saat ini.

“Mereka termasuk yang paling awal di Papua mengalami perjumpaan dengan budaya luar Papua,” kata Saidin Ernas.

Karena letak geografis Fakfak yang berada di ‘leher Papua’ dekat dengan dunia luar, memungkinkan mereka memiliki keterbukaan dengan orang luar.

Faktor itulah yang membentuk budaya sosial masyarakat Fakfak.

Saidin menyebut hal ini sebagai budaya kosmopolit, atau budaya yang memberikan dan menyediakan keterbukaan yang seluas-luasnya bagi berbagai peradaban, untuk terlibat secara aktif dan setara dalam membentuk sebuah akulturasi dan sintesis kebudayaan unggulan.

Satu tungku tiga batu: Pesan toleransi atau instrumen politik?

Said Hindom, mantan Wakil Bupati Fakfak periode 2005-2010 mengingat kembali proses pencetusan satu tungku tiga batu sebagai identitas Kabupaten Fakfak, hampir dua dekade lalu.

“Kami angkat ‘satu tungku tiga batu’, karena waktu itu saya sebagai wakil Bupati dan mantan Bupati, Wahidin Puarada melihat ada potensi di tengah masyarakat secara adat, agama dan pemerintah.”

Itu dilakukan sebagai bagian dari upaya merawat agama keluarga.

“Seiring perkembangan zaman, pembangunan, ada perilaku yang pasti berubah, maka kita perlukan suatu simbol kebersamaan orang asli Fakfak.”

Ketua Lembaga Adat Mbaham Matta, Valentinus Kabes, mengatakan, ‘satu tungku tiga batu’ menyimbolkan tradisi orang Mbaham Matta memasak menggunakan tungku yang ditopang tiga batu.

Sambil menenteng tomang berisi daun lontar dan tembakau untuk merokok, Valentinus berucap, tiga batu itu diibaratkan sebagai adat, agama dan pemerintah.

Ini menjawab perkembangan zaman ketika Budha, Hindu dan Konghucu masuk ke Fakfak.

Sebelumnya, pemaknaan tiga batu sebatas agama yang dikenal masyarakat Fakfak berabad lampau di dalam keluarganya; Islam, Kristen Protestan, Katolik.

“Adat terlebih dahulu, karena kita lahir dari adat, lalu agama masuk, kita berbeda agama tapi dalam satu keluarga, kemudian pemerintah terbentuk, kita disekolahkan, lalu kita yang mengelola Fakfak lewat pemerintahan," jelas Valentinus.

Peneliti dan pengamat sosial budaya masyarakat Fakfak, Saidin Ernas mengatakan, apa yang dijelaskan oleh Valentinus merupakan bagian dari redefinisi ulang nilai-nilai yang diturunkan dari leluhur.

“Saya mempelajari bahwa ‘satu tungku tiga batu’ merupakan diksi baru, itu merupakan bagian dari upaya menginstitusionalkan semangat toleransi dalam sistem politik lokal,” ujar Saidin.

Dia menyebut bahwa nilai 'satu tungku tiga batu’ kemudian diadopsi dalam hampir semua aktivitas sosial, keagaman, politik, bahkan ekonomi, sehingga menjadi apa yang disebutnya sebagai "norma yang melembaga".

Akan tetapi, Saidin mengungkapkan bahwa redefinisi nilai toleransi yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Fakfak itu dapat menimbulkan masalah,

Dalam penelitiannya, Saidin menuturkan kearifan lokal yang sudah eksis ini menjadi instrumen politik.

“Upaya untuk menerjemahkan kearifan lokal masyarakat Fakfak ke dalam narasi baru atau pemaknaan baru, cenderung menimbulkan masalah, seperti krisis nilai karena terjadi politisasi terhadap simbol budaya," kata Saidin.

"Ada semacam politik akomodasionis yang pada akhirnya mengorbankan hal-hal yang bersifat kualitatif.”

Dalam penelitiannya, Saidin menyebut bahwa Pemerintah Kabupaten Fakfak mengadopsi filosofi ‘satu tungku tiga batu’ sebagai asas untuk membentuk kehidupan politik di Fakfak yang seimbang dan harmonis.

Namun, itu kemudian memunculkan konsensus politik untuk membagi jabatan politik berdasarkan kekuatan agama dan etnis.

“Misalnya bila bupatinya seorang Muslim, maka wakilnya harus Nasrani.”

Merespons hasil penelitian itu, mantan Wakil Bupati Fakfak, Said Hindom, mengatakan bahwa untuk menentukan suatu jabatan harus dilandasi dengan proporsi agama dan etnis yang ada di Fakfak.

Said mendefinisikan itu sebagai rasa keadilan untuk orang Fakfak.

Sementara antropolog, Ronald Helweldery, berpendapat kendati filosofi ‘satu tungku tiga batu’ lahir dari para pejabat yang asli orang Fakfak, menurutnya tidak ada motif politik di dalamnya ketika pertama kali dicetuskan.

Meski demikian, Ronald menegaskan bahwa "pengaruh politik bisa merusak filosofi agama keluarga".

Filosofi yang terlalu absurd untuk anak muda

Air laut masih surut di belakang rumah seorang aktivis perempuan, Siti Uswanas. Matahari belum terlalu tinggi di atas kepala. Namun, Siti sudah 'berapi-api' membahas ‘satu tungku tiga batu’.

Siti merupakan kalangan muda yang merasa bahwa filosofi buatan pemerintah terdahulu itu tidak mencerminkan definisi agama keluarga yang sesungguhnya.

Sebab, norma tradisi itu rawan dimanfaatkan dalam politik birokrasi dan politik praktis.

“Definisinya tidak jelas, tergantung momentum apa filosofi itu digunakan," tegas Siti.

Dia memberi contoh, momentum pemilihan kepala daerah atau bahkan Pemilu 2024, penggunaan filosofi itu langsung berhubungan dengan agama.

“Harus ada perwakilan tiga agama dalam pemilihan kepala daerah hingga calon legislatif, itu berpotensi menimbulkan konflik.”

Padahal, bagi Siti, seperti yang dipesankan orang tuanya, dan banyak orang tua lain di Fakfak, pembicaraan mengenai perbedaan agama seharusnya sudah selesai dibahas di dalam rumah.

“Keadilan itu lumrah, tapi toleransi bukan soal keadilan harus siapa Muslim atau non-Muslim yang mengisi sebuah posisi, kalau ada pembicaraan itu berarti sudah memunculkan sebuah perbedaan yang arahnya sudah tidak toleran lagi," kata dia.

Siti dan banyak anak muda di Fakfak menanggap sejumlah kalangan sudah mulai melupakan pesan toleransi dari leluhur.

Dimulai dari kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah tidak ada lagi ketika hari-hari besar keagamaan tiba.

Kebiasaan-kebiasaan lama yang pada umumnya menjadi simbol di permukaan atas kerukunan antar umat beragama.

Sejatinya, menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, Kabupaten Fakfak, Ali Hindom, tercetusnya ‘satu tungku tiga batu’ agar anak muda bisa lebih mengerti warisan leluhur.

“Itu mempopulerkan kehidupan toleransi masyarakat Fakfak yang sudah mengakar,” kata Ali.

Di sisi lain, Siti menilai usaha mempopulerkan filosofi itu sudah tidak relevan lagi sekarang, karena bagi anak muda, ‘satu tungku tiga batu’ terlalu absurd untuk dipahami.

Ditambah lagi, belum ada ruang-ruang diskusi yang bisa menjembatani antara generasi tua dan anak muda.

"Belum ada yang berani menciptakan ruang itu,” menurut Siti.

Pada akhirnya, generasi muda menciptakan ruang diskusi sendiri.

“Tak jarang apa yang mereka bahas, menguap begitu saja keesokan harinya.”

Meski demikian, sejumlah simpul di kalangan muda yang mencoba menghidupkan kembali simbol-simbol kerukunan antar umat beragama.

Seorang pemuda Fakfak yang aktif dalam kegiatan masjid, Muhammad Fachran Uswanas membantah anggapan bahwa anak muda lupa tentang nilai toleransi.

Fachran, yang berusia 22 tahun, pertama kali diperkenalkan filosofi ‘satu tungku tiga batu’ ketika dirinya berusia belasan tahun.

Kepada orang tuanya, dia bertanya makna filosofi tersebut.

“Saya tanya pada orang tua, kehidupan yang menyatu meski beda agama, semua rasa sama, hidup penuh kerukunan," kata Farhan.

“Kita masih paham sedikit, tidak semua anak muda lupa dengan ‘satu tungku tiga batu’, anak muda terlibat dalam banyak kegiatan keagamaan.

"Kami yang Muslim pukul gendang saat upacara peresmian gereja, atau yang Kristen ikut bantu pasang tiang alif masjid, mereka bagi-bagi ikut masak, ikut angkat tiang alifnya.”

Namun, menurut Fachran, agar filosofi itu tidak pudar, maka dibutuhkan pembelajaran di sekolah.

“Selama saya sekolah, saya tidak pernah mendapat pelajaran tentang itu, dan perlu dipelajari di sekolah.”

Senada dengan Fachran, antropolog Ronald Helweldery melihat diperlukan peran pendidikan formal untuk bisa melestarikan kearifan lokal ini.

"Mungkin bisa masuk dalam muatan lokal, sehingga selain di rumah, anak-anak bisa belajar 'agama keluarga' di sekolah," kata Ronald.

Tarawih tenang dijaga pemuda gereja

Ketika malam tiba, Masjid Jami di Kota Fakfak dipenuhi warga yang antusias menjalankan salat tarawih berjamaah.

Kontur perbukitan di Kota Fakfak membuat jalanan mengikuti kelok naik-turun tanahnya.

Para warga beradatangan, ada yang berjalan kaki dan mengendarai sepeda motor mereka. Jalanan sempit itu penuh sesak sebagai lahan parkir dan lalu lalang kendaraan.

Albertus Fawawan dan adik-adiknya, sudah dua Ramadan mengatur lalu lintas di depan Masjid.

Mereka adalah pemuda gereja setempat yang sukarela datang ke masjid.

Albertus mengingatkan para pengendara agar memelankan laju kendaraannya ketika melintas di depan masjid. Baginya ini bukan sekadar mencari pahala.

“Kita sesama manusia harus saling menjaga satu sama lain, begitu juga Muslim, ketika kami punya Natal, mereka juga menjaga kami.

"Mereka punya hajat, kami Nasrani turut menjaga,” ungkap Albertus.

Para pemuda ini menunjukkan simbol-simbol interaksi antar agama seperti yang diharapkan oleh Ketua Lembaga Adat Mbaham Matta, Valentinus Kabes.

“Kita punya hidup masih ada 1.000 tahun ke depan, itu bagian yang harus kita jaga.”

Valentinus mengaku, selama ini pertemuan adat hanya melibatkan para petinggi adat untuk bermusyawarah.

“Bagaimana Fakfak kemarin, kini dan ke depan dibahas dalam musyawarah.”

Namun, anak muda tidak pernah dilibatkan. Ketua Lembaga Adat itu masih percaya, estafet pengetahuan tentang nilai toleransi Fakfak hadir di rumah, dari orang tua ke anaknya.

Meski demikian, Valentinus menyadari bahwa pertemuan lintas generasi dibutuhkan.

“Mungkin kelak kita bisa fasilitasi ada tempat budaya agar para pemuda bisa berkumpul, [generasi] tua yang kasih belajar mereka.”

Konsep pertemuan lintas generasi sejatinya masih berkaitan erat dengan bahasa yang dianggap "kakak" oleh masyarakat Fakfak.

Antropolog, Ronald Helweldery memiliki gagasan agar pertemuan lintas generasi itu dikemas lebih segar.

“Dialog untuk anak muda harus dengan format yang lebih dekat dengan mereka dan harus lebih sering dilakukan.”

Menyambut gagasan pertemuan lintas generasi ini, Siti Uswanas bersedia bila kelak dipertemukan dengan para pemuka adat dan mengemukakan gagasan-gagasannya tentang merawat nilai toleransi masyarakat Fakfak.

Seperti yang diungkap peneliti dan pengamat sosial budaya masyarakat Fakfak, Saidin Ernas, integrasi sosial budaya masyarakat Fakfak sudah ada sejak dulu, mereka mengalami proses alkulturasi budaya dengan tradisi lain.

“Goncangan-goncangan itu mungkin ada, tetapi bisa dinetralisir oleh sistem budaya setempat, bisa dari 'satu tungku tiga batu' atau nilai-nilai yang tersembunyi selama ini.”

Nilai tersembunyi yang disebut Eni Kapaur sudah mendarah daging itu menjadikan Provinisi Papua Barat meraih peringkat pertama dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama 2019 versi Kementerian Agama.