Trump buka peluang turut menyerang Houthi setelah 12 orang tewas dalam serangan di bandara Arab Saudi

Seorang petempur dari kelompok Houthi memamerkan senjatanya di Sanaa, Yaman, pada 7 Oktober 2026.
Keterangan gambar, Seorang petempur dari kelompok Houthi memamerkan senjatanya di Sanaa, Yaman, pada 7 Oktober 2026.
    • Penulis, Parul Gupta
    • Penulis, Jaroslav Lukiv
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 5 menit

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuka peluang negaranya bergabung dengan Arab Saudi untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman.

"Mungkin saja. Kami sedang meninjaunya," kata Trump mengenai peluang AS bergabung dengan Saudi menyerang kelompok Houthi.

"Kami baru saja mengetahui serangan terbaru [di bandara]. Jadi kami akan membuat Keputusan—kami bergerak sangat cepat," sambungnya sebagaimana dikutip CBS, mitra BBC di AS.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya, pada Sabtu (10/10).

Kelompok Houthi yang didukung Iran telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut—insiden ketiga di Bandara Riyadh dalam sepekan terakhir.

Trump juga ditanya apakah serangan Houthi di bandara Riyadh akan mengubah keputusannya untuk tidak melancarkan serangan terhadap Iran hingga pemilu sela berakhir.

"Kami akan meninjaunya," ucap Trump.

Serangkaian serangan di Arab Saudi

Sedikitnya 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka dalam serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, kata otoritas setempat, beberapa hari setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim serangan serupa.

Korban tewas meliputi empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu orang dari Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir, menurut otoritas penerbangan sipil Arab Saudi.

Operasional Bandara Internasional King Khalid telah ditangguhkan.

Bandara King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10).
Keterangan gambar, Kepulan asap di Bandara King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10).

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi berjanji akan merespons serangan yang mereka sebut sebagai sebuah "kejahatan perang".

Belakangan ini, pertempuran meningkat antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut.

Pada Sabtu (10/10), sebuah proyektil juga jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, wilayah timur Arab Saudi, menurut pemerintah Arab Saudi.

Serangan tersebut terjadi sehari setelah pihak berwenang menyatakan bahwa tiga warga Arab Saudi, termasuk seorang pilot, tewas dalam dua serangan terhadap bandara tersebut.

Sebanyak tiga orang lainnya juga tewas dalam serangan Houthi terhadap dua bandara di Arab Saudi pada 6 dan 7 Oktober.

Bagaimana serangan terjadi?

Dalam pernyataannya pada Sabtu (10/10), otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mengatakan bahwa sebagian korban luka berada dalam "kondisi kritis".

Otoritas tersebut menyatakan bahwa tingkat kerusakan di bandara masih dalam proses penilaian.

Seorang saksi mata yang mengaku berada di terminal domestik mengatakan bahwa ia melihat gerbang 401 terkena serangan dan menyaksikan "orang-orang terluka tepat di depan mata saya". Dia menambahkan, "Semua orang berlarian."

Menurut kantor berita Reuters, yang mengutip seorang saksi mata, lebih dari selusin ambulans terlihat melaju menuju bandara.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, kemudian mengatakan bahwa serangan terhadap salah satu terminal bandara menyebabkan korban tewas dan luka di kalangan penumpang sipil serta staf bandara.

Ia menggambarkan serangan tersebut sebagai "kejahatan perang yang nyata".

Para pejuang Houthi di Sana, Yaman pada 2019
Keterangan gambar, Houthi telah menjadi kelompok yang kuat di Yaman

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengatakan bahwa ia mengecam keras serangan-serangan terbaru terhadap Arab Saudi, seraya mengonfirmasi bahwa seorang warga negara Amerika tewas dalam serangan tersebut.

Kedutaan-kedutaan besar negara Barat di Arab Saudi telah memperingatkan warga negaranya untuk menjauhi bandara tersebut.

Kementerian Luar Negeri UK meminta warga negara UK menghindari area tersebut "hingga bandara dinyatakan aman".

Sejumlah maskapai penerbangan Teluk menyatakan telah membatalkan penerbangan dari dan menuju bandara tersebut. Maskapai Kuwait Airways menyebut "situasi keamanan" sebagai alasannya.

Data pelacak penerbangan Flightradar menunjukkan bahwa seluruh penerbangan menuju Riyadh dialihkan atau dibatalkan.

Mengapa kelompok Houthi menyerang Arab Saudi?

Kelompok Houthi menyatakan bahwa mereka menargetkan Arab Saudi karena Saudi mendukung pasukan pemerintah dalam perang saudara di Yaman.

Konflik memburuk setelah Houthi merebut wilayah-wilayah strategis di pesisir Laut Merah dalam sebuah ofensif yang berlangsung cepat.

Wilayah yang direbut tersebut termasuk Pelabuhan Mokha di Selat Bab al-Mandab, titik tersempit di Laut Merah yang merupakan jalur sempit penting bagi pelayaran global.

Pasukan pro-pemerintah Yaman kemudian menyatakan bahwa mereka telah "mengamankan" selat tersebut di ujung selatan Laut Merah.

Houthi, Yaman
Keterangan gambar, Kebanyakan populasi Yaman tinggal di kawasan yang dikuasai Houthi

Koalisi pimpinan Arab Saudi dibentuk pada tahun 2015 setelah sejumlah negara Arab bergabung untuk menghentikan upaya Houthi mengambil alih Yaman dari pemerintah yang diakui secara internasional.

Gencatan senjata sementara berhasil dimediasi pada 2022 setelah bertahun-tahun serangan udara dan pertempuran darat menyebabkan ratusan ribu orang tewas serta memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Namun, gencatan senjata tidak resmi tersebut mulai runtuh pada Juli lalu.

Kelompok Houthi kemudian mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi dan mulai melancarkan serangan rudal serta drone ke bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi di Laut Merah.

Mereka mengatakan tindakan itu merupakan balasan atas apa yang mereka sebut sebagai blokade Saudi yang telah berlangsung bertahun-tahun, serta sebagai respons terhadap serangan udara di bandara Sanaa, ibu kota Yaman yang berada di bawah kendali Houthi.