Teka-teki kematian calon gubernur Maluku Utara Benny Laos – Apa saja yang sudah diketahui sejauh ini?

Waktu membaca: 7 menit

Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda-Sarbin Sehe, unggul dalam Pilkada 2024, berdasarkan hitung cepat atau quick count sementara Indikator Politik Indonesia.

Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe memperoleh 50,73% suara. Mereka unggul jauh dari tiga pasangan calon lainnya.

Komisi Pemilihan Umum menetapkan Sherly Tjoanda sebagai calon gubernur Maluku Utara menggantikan mendiang suaminya Benny Laos di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.

Enam pekan sebelum Pilkada Serentak, calon Gubernur Maluku Utara, Benny Laos, meninggal dunia setelah speedboat alias perahu motor yang ditumpanginya terbakar di Pulau Taliabu pada Sabtu (12/10).

Kematian mantan Bupati Morotai itu memunculkan sejumlah pertanyaan hingga kecurigaan adanya sabotase.

Berikut sejumlah hal yang sudah diketahui sejauh ini.

Bagaimana kronologi kejadian tersebut?

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara, Benny dan rombongannya dijadwalkan melakukan kampanye di Desa Kawalo, Kecamatan Taliabu Barat.

Kapal milik Benny Laos yang diberi nama Bela 72 awalnya berlabuh sementara untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) di pelabuhan regional di Desa Bobong, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu pada Sabtu (12/10).

Akan tetapi, saat pengisian BBM berlangsung, tiba-tiba terjadi ledakan disusul kobaran api.

Kapal motor itu dilalap api dan sejumlah penumpang berupaya menyelamatkan diri dengan terjun ke laut.

Menurut juru bicara Kepolisian Daerah Maluku Utara, Bambang Suharyono, kapal terbakar sekitar pukul 14:05 WIT.

“Seluruh rombongan termasuk calon Gubernur Maluku Utara Benny Laos berada di dalam [kapal] saat kejadian naas itu terjadi. Jadi dugaan sementara adalah terjadi kesalahan dalam pengisian BBM,” ujar Bambang dalam keterangan resmi Polda Maluku Utara.

Benny meninggal dunia pada usia 52 tahun. Selain dia, lima orang meninggal dunia dalam insiden tersebut, yaitu Ester Tantri selaku anggota DPRD Maluku Utara dari Partai Demokrat dan Mubin A Wahid selaku Ketua DPW PPP Provinsi Maluku Utara.

Kemudian anggota Polres Kepulauan Sula, Bripka Hamdani Buamonabot; Nasrun selaku PNS Kepulauan Sula, serta Mahsudin Ode Muisi.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Sherly Tjoanda yang merupakan istri Benny Laos tampak menangisi kematian suaminya. Sherly sendiri menderita luka bakar dalam insiden tersebut.

Dalam video tersebut, Sherly mengatakan kepada Benny agar tidak pergi ke Pulau Taliabu, Maluku Utara, karena keterbatasan fasilitas.

Sherly juga menyebut fasilitas medis di Taliabu terbatas seperti obat-obatan dan alat pendeteksi detak jantung. Namun, Benny tetap berkeras untuk melihat kondisi setempat secara langsung.

Juru bicara pasangan calon (paslon) Benny-Sarbin Sehe, Muksin Amrin, mengonfirmasi keabsahan video itu kepada BBC News Indonesia.

Mengapa sejumlah warganet mencurigai adanya sabotase?

Unggahan Sherly Tjoanda di akun Instagramnya, @s_tjo, dipenuhi komentar-komentar warganet yang menyampaikan rasa belasungkawa.

Ada pula beberapa warganet yang mencurigai adanya sabotase dan mendesak polisi mengusut insiden tersebut.

Di jejaring media sosial X, sejumlah warganet juga mempertanyakan apakah kebakaran kapal itu murni kecelakaan.

Pada Minggu (13/10), media lokal Halmahera Post memberitakan kesaksian ABK kapal Bela 72 yang mengeklaim ada dua orang yang yang sempat naik ke kapal kemudian turun sebelum Benny naik ke kapal.

Kapolres Pulau Taliabu, AKBP Totok Handoyo, mengonfirmasi kepada BBC News Indonesia bahwa saksi ABK itu memang menyebut adanya dua orang tidak dikenal (OTK) dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

“Ya, memang, ada dua orang. Tapi kita belum tahu perannya karena penyebab terjadinya kebakaran ini belum pasti,” ujar Totok ketika dihubungi pada Senin (14/10).

“Apakah [disebutnya dua orang ini] sekadar motif saja untuk menyelamatkan diri agar tidak terjerat hukum? Biar bagaimanapun, ABK dan kapten kapal bertanggung jawab terhadap keselamatan maupun keamanan penumpangnya," sambung Totok.

Totok juga menyatakan pihaknya sempat memperingatkan kepada rombongan Benny Laos karena proses pengisian BBM dilakukan ketika mesin kapal sedang menyala.

“Sebelum ledakan terjadi, Wakapolres Pulau Taliabu sempat mengingatkan agar berhati-hati saat pengisian BBM karena mesin kapal dalam keadaan menyala,” ujar Totok.

Terpisah, Juru bicara Polda Maluku, Bambang Suharyono, mengatakan pihaknya terus memeriksa saksi-saksi dalam kejadian tersebut.

“Sekarang sudah 11 saksi [diperiksa],” ujar Bambang ketika dpada Senin (14/10).

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Maluku Utara, Asri Effendy, meminta kepada masyarakat bersabar untuk menunggu hasil investigasi dan menghindari munculnya isu-isu yang kontraproduktif terhadap penyelidikan.

Ketua Tim Pemenangan Benny-Sarbin, Rahmi Husein, mengatakan pihaknya “tidak mau berspekulasi” soal dugaan sabotase.

“Biarlah aparat kepolisian melakukan penyelidikan secara profesional. Kita serahkan sepenuhnya,” ujarnya ketika dimintai tanggapan pada Senin (14/10).

Akademisi dan pengajar Universitas Bumi Hijrah Tidore, Isra Muksin, mengamati paslon Benny-Sarbin dan paslon Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus-Sahril Thahir gencar melakukan kampanye secara intens dari desa ke desa dan pulau ke pulau.

“Tapi yang jauh lebih gencar itu paslon Benny Laos-Sarbin,” ujarnya.

Menurut Isra, pendekatan Benny ini membuatnya mendapat banyak dukungan dan simpati. Sehingga Isra bisa memahami munculnya spekulasi publik soal kematian Benny.

Bagaimana kematian Benny Laos mempengaruhi kontestasi Pilgub Maluku Utara?

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Maluku Utara, Mohtar Alting, menyebut aturan Pilkada 2024 mengharuskan pengganti calon yang meninggal diajukan tujuh hari sesuai kalender pascakematian.

Meninggalnya Benny Laos pada 12 Oktober membuat tim pemenangan Benny-Sarbin dikejar waktu untuk mengajukan pengganti cagub itu dalam kontestasi Pilkada Gubernur Maluku Utara.

“[Tanggal] 18 Oktober persis [untuk pengajuan terakhir]. Pukul 11:59 WIT [Waktu Indonesia Timur],” ujar Mohtar ketika dihubungi pada Senin (14/10).

Ketua Tim Pemenangan Benny-Sarbin, Rahmi Husein, dalam konferensi pers pada Senin (14/10) mengatakan pihaknya mengajukan Sherly Tjoanda untuk menggantikan posisi mendiang Benny dalam Pilkada.

“Waktu kita sangat terbatas. Kita tidak boleh menunda-nunda. Kita [semua] sudah sepakat hanya ada satu nama yang kita usulkan. Mudah-mudahan seluruh pimpinan partai koalisi di Jakarta juga menyetujui,” ujar Rahmi.

“Kami sudah memutus orang khusus untuk bertemu dengan [Sherly]. Butuh waktu dan butuh momen yang pas untuk kemudian ini dikomunikasikan.”

Pemakaman Benny sendiri dijadwalkan berlangsung pada Selasa (15/10) di Jakarta. Sherly diharapkan dapat memberikan jawaban setelah pemakaman suaminya.

BBC News Indonesia sudah berusaha menghubungi Sherly untuk artikel ini.

Partai-partai pengusung Benny-Sarbin adalah NasDem, PPP, Partai Demokrat, PKB, PAN, Gelora, Partai Buruh, dan PSI.

Ada tiga rival Benny-Sarbin dalam Pilgub Maluku Utara.

PDIP mengusulkan Sultan Tidore dan anggota DPD, Husain Alting Sjah, yang dipasangkan dengan wakil ketua DPRD Kota Ternate, Asrul Rasyid Ichsan.

Partai Gerindra, Golkar, Perindo, Garuda, dan PBB mengusung Bupati Pulau Taliabu, Aliong Mus, yang dipasangkan dengan wakil ketua DPRD Maluku Utara, Sahril Tahir.

Adapun PKS dan Hanura mengusung Bupati Halmahera Selatan, Muhammad Kasuba, serta anggota DPD RI, Basri Salama.

Menurut akademisi Universitas Bumi Hijrah Tidore, Isra Muksin, basis-basis elektoral yang telah dikunjungi mendiang Benny Laos selama masa kampanye akan semakin solid dengan adanya duka yang begitu mendalam atas kematiannya.

“Mereka [pendukung Benny di basis-basis elektoral] bertanya-tanya siapa penggantinya. Apakah istrinya—yang diusulkan menjadi pengganti—masih trauma untuk menerima pencalonannya?” ujar Isra.

Menurut Isra, Benny-Sarbin oleh para pendukungnya dianggap memiliki rekam jejak baik selama menjabat sebagai Bupati Morotai sehingga dianggap mampu mendatangkan solusi bagi permasalahan di Maluku Utara seperti korupsi dan isu tata kelola pemerintahan.

Isra sendiri berpendapat tidak akan ada banyak pergeseran pendukung. Dia merujuk ke survei Pusat Studi Demokrasi dan HAM (Pusdiham) per Oktober 2024 yang menyebut Benny-Sarbin memiliki elektabilitas sebanyak 40.8% dalam pemilihan Gubernur Maluku Utara, diikuti Husain Alting-Asrul Rahasyid dengan 22.5%, Aliong-Sahril (19.3%), dan M. Kasuba-Basri Salama (12.6%).

Namun secara terpisah, akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Ali Lating, mengatakan hasil survei Pusdiham itu bisa diperdebatkan.

Survei Lembaga survei Aliansi Anak Negeri (AAN) Research & Political Consultant dilaksanakan pada 12-18 September 2024 menyebut elektabilitas Aliong-Sahril sebagai yang tertinggi dengan 29,1%, diikuti Husain Alting Syah-Asrul dengan 19,2%, Benny-Sarbin (14,1%) dan pasangan Muhammad Kasuba-Basri Salama (13,9%).

Menurut Ali, masing-masing paslon memiliki kans yang tidak berbeda karena masing-masing punya basis kultural yang kuat seperti Husain Alting di Tidore atau Muhammad Kasuba di Halmahera Selatan.

Meski begitu, Ali tidak memungkiri mendiang Benny Laos memiliki sumber daya yang cukup karena mendapat dukungan partai-partai yang masif dari DPP pusat.

“Saya kira [partai pendukung Benny] masih punya potensi konsolidasi yang kuat jika [Sherly] menggantikan Benny Laos,” ujar Ali.

Ali berpendapat nama-nama lain yang berpotensi diajukan apabila Sherly memutuskan untuk maju antara lain Ketua Tim Pemenangan Benny-Sarbin, Rahmi Husein yang juga merupakan Ketua DPD Demokrat untuk Maluku Utara dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Taufik Madjid.

Wartawan Juanda Umaternate di Maluku Utara turut berkontribusi untuk artikel ini.