You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Seperti apa tradisi perayaan Natal di Islandia, Venezuela, Jepang hingga Australia?
Tradisi perayaan Natal di beberapa negara memperlihatkan sisi berbeda dari kelaziman umum. Namun, semua memiliki garis tepi yang sama, mereka merayakannya lebih komunal, lebih reflektif, dan jauh dari dunia yang materialistis.
Jika Anda merasa makna Natal yang sebenarnya terkubur di bawah tumpukan kertas kado, itu mungkin sesuatu yang lazim. Tapi coba lihat bagaimana negara lain merayakannya, dan mungkin bisa memberi Anda wawasan baru yang mengejutkan.
Tradisi perayaan Natal memang sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.
Hal itu bisa terjadi lantaran perbedaan lanskap, sejarah, nilai-nilai, dan iklim di masing-masing negara.
Walaupun banyak negara ada tradisi bertukar hadiah, namun ada ritual-ritual di negara itu yang sangat berbeda.
Kebiasaan yang telah lama dicintai ini, menunjukkan kepada kita, Natal tidak perlu bersifat transaksional.
Natal dapat bersifat kolaboratif, kreatif, atau berbasis komunitas.
Mulai melantunkan lagu-lagu Natal di gereja yang diterangi lilin hingga menghormati keluarga secara diam-diam—atau bahkan menghargai laba-laba.
Mulai dari mengenang orang-orang terkasih yang telah meninggal hingga mengikuti permainan lintas generasi.
Berikut tujuh tradisi Natal yang dapat Anda adopsi di mana pun Anda berada.
Di Islandia, penerbit merilis banyak buku baru menjelang Natal—sebuah fenomena musiman yang dikenal sebagai jólabókaflóð atau "banjir buku Natal".
Tradisi ini berasal dari Perang Dunia Kedua, ketika sebagian besar barang dijatah kecuali kertas, menjadikan buku sebagai hadiah Natal yang paling praktis.
Saat ini, tradisi ini secara khusus membantu mendukung industri penerbitan Islandia.
Mulai memperkuat kecintaan terhadap bahasa Islandia, yang beresiko punah, hingga menyenangkan para pecinta buku di seluruh negeri.
Pada 24 Desember 2025, keluarga bertukar hadiah, makan malam Natal, dan kemudian menghabiskan malam dengan membaca buku-buku baru mereka,
Itu dilakukan dengan cahaya lilin, mungkin saja dengan sekotak cokelat dan minuman di samping mereka.
Ini adalah ritual yang terasa khas Islandia, tetapi salah satu yang paling mudah ditiru di mana pun.
Sebagai negara yang sebagian besar warganya tidak menganut Kristen, Jepang merayakan Natal dengan caranya sendiri yang khas.
Alih-alih perayaan yang berpusat pada keluarga, Malam Natal lebih mirip Hari Valentine—malam romantis untuk pasangan.
Jalanan yang diselimuti salju bersinar dengan lampu Natal, restoran menawarkan menu spesial, dan hotel mewah seringkali sudah penuh dipesan.
Makanan Natal juga sangat berbeda: orang Jepang merayakannya dengan makan kurisumasu keki, kue bolu berlapis ringan dengan krim dan stroberi yang dipotong sempurna.
Untuk mengikuti semangat tradisi ini: luangkan sedikit waktu khusus untuk pasangan Anda di tengah hiruk-pikuk aktivitas keluarga di masa Natal yang biasanya terjadi.
Hari Natal di Australia berpusat pada sinar matahari, makanan, dan keluarga.
Ini juga saatnya mengambil sekaleng bir, alat pemukul, dan siapkan gawang. Inilah cara menikmati tradisi Natal bagi keluarga Australia yang hebat: pertandingan kriket ala Natal.
Semua orang diundang dan berapa pun usia Anda dipersilakan ikut bergabung.
Hanya untuk satu hari, kriket bukan tentang siapa pemenangnya, tetapi tentang semua orang ikut berpartisipasi.
Jika keponakan Anda yang berusia lima tahun tertangkap di posisi slip pada percobaan pertamanya, seseorang mungkin akan menutup mata dan membiarkannya memukul lagi.
Aturan berbeda-beda dari satu rumah tangga ke rumah tangga lainnya, beberapa lebih ketat ketimbang yang lain.
Bagi mereka yang tinggal di iklim dingin, berharaplah cuaca yang lebih baik atau mainkan permainan papan saja.
Menghormati kerabat yang telah meninggal adalah inti dari tradisi perayaaan Natal di Finlandia.
Pada Malam Natal, keluarga mengunjungi pemakaman untuk menyalakan lilin bagi orang-orang terkasih yang telah meninggal.
Menurut This Is Finland, tiga perempat rumah tangga Finlandia ikut serta, mengubah pemakaman menjadi lanskap salju yang tenang dan cahaya lilin yang berkelap-kelip.
Pemakaman bisa ramai pada saat ini, tetapi tetap dianggap sebagai momen kedamaian dan refleksi yang langka di tengah kesibukan musim ini.
Kunjungan ke pemakaman sering diikuti oleh tradisi Finlandia lainnya yang sangat dihargai: sauna keluarga di Malam Natal.
Di wilayah barat Ukraina, dekorasi Natal yang paling umum bukanlah bola atau bintang, tetapi jaring laba-laba yang dihiasi permata.
Tradisi ini berasal dari Legenda Laba-laba Natal, sebuah cerita rakyat Eropa Timur.
Legenda itu bercerita tentang seekor laba-laba menghiasi pohon Natal seorang perempuan yang terlalu miskin untuk membeli segala ornamen Natal.
Dia bangun di pagi hari dan mendapati pohonnya berkilauan dengan jaring-jaring perak, dan sejak hari itu, keluarganya tidak pernah kekurangan lagi.
Orang Ukraina membuat jaring-jaring halus dari kertas dan kawat dan melilitkannya di sekitar pohon Natal yang berkilauan.
Menemukan laba-laba atau sarang laba-laba asli di pohon dianggap membawa keberuntungan, dan sudah menjadi kebiasaan untuk tidak membersihkan sarang-sarang tersebut selama periode ini.
Cara termudah untuk mengadopsi tradisi ini: biarkan sarang-sarang laba-laba tersebut tidak terganggu.
Hari klippe klistre—secara harfiah "memotong dan menempel"—adalah ritual penting Denmark.
Rumah, sekolah, dan tempat kerja di seluruh negeri mengadakan sesi kerajinan untuk membuat karangan bunga yang rumit, bintang kepang, dan hati kertas untuk membawa keceriaan Natal ke ruang kelas, kantor, dan ruang tamu.
Ini adalah kesempatan untuk hygge—konsep gaya hidup ala Denmark—secara bersama dan membangun rasa kebersamaan melalui aktivitas yang kreatif.
Selama beraktivitas itulah, akan disajikan æbleskiver (donat Natal kecil), kue, dan gløgg, anggur mulled Denmark yang kuat.
Setelah bertahun-tahun berlatih, orang Denmark tampaknya mampu mengubah gulungan kertas tertipis sekalipun menjadi sesuatu yang ajaib—bahkan untaian kertas sederhana pun dapat membawa sentuhan kerajinan Skandinavia ke rumah Anda.
Ibadah Natal di gereja-gereja Venezuela penuh sukacita, kebersamaan, dan seringkali meriah, diiringi lonceng, petasan, dan terkadang kembang api menjelang Natal.
Namun, kebiasaan yang paling khas adalah bagaimana orang-orang bermain sepatu roda.
Tradisi bersepatu roda ini digelar saat mereka menuju ibadah Misa de Aguinaldo (Misa Pagi Hari) yang diadakan antara 16 dan 24 Desember sekitar pukul 05:00 atau 06:00.
Anak-anak sering tidur lebih awal agar siap untuk ibadah subuh, dan banyak orang dewasa berseluncur sepanjang malam untuk mencapai gereja secara bersama-sama.
Ini adalah ritual yang dicintai yang mengubah momen khidmat menjadi sesuatu yang riang dan penuh kebersamaan.
Mereka akan bersepatu roda dengan para tetangganya di jalan-jalan yang tenang secara berdampingan.