You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Donald Trump ingin mengendalikan minyak Venezuela, bagaimana caranya?
- Penulis, Archie Mitchell
- Peranan, Reporter bisnis
- Penulis, Natalie Sherman
- Peranan, Reporter bisnis
- Waktu membaca: 4 menit
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah berikrar untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela setelah merebut kekuasaan dari Presiden Nicolás Maduro. Trump juga mengatakan AS akan "mengelola" negara itu hingga transisi yang 'aman'.
Trump ingin perusahaan-perusahaan minyak AS menginvestasikan miliaran dolar ke Venezuela, yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Bumi, demi memanfaatkan sumber daya alam yang sebagian besar belum dimanfaatkan.
Dia mengatakan perusahaan-perusahaan AS akan memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang "sangat rusak" dan "mulai menghasilkan uang untuk negara itu".
Namun para ahli memperingatkan tantangan besar dalam rencana Trump.
Mereka bilang rencana tersebut akan menelan biaya miliaran dolar dan memerlukan waktu hingga satu dekade untuk menghasilkan peningkatan produksi minyak yang signifikan.
Jadi, bisakah AS benar-benar mengendalikan cadangan minyak Venezuela? Dan akankah rencana Trump berhasil?
Venezuela punya cadangan minyak terbukti paling besar di dunia, yaitu sebesar 303 miliar barel.
Namun, jumlah minyak yang diproduksi Venezuela saat ini sangat kecil.
Produksi minyak Venezuela telah menurun tajam sejak awal tahun 2000-an karena mantan Presiden Hugo Chavez dan kemudian pemerintahan Maduro memperketat kendali atas perusahaan minyak milik negara, PDVSA, yang menyebabkan banyak staf berpengalaman angkat kaki.
Meskipun beberapa perusahaan minyak Barat, termasuk perusahaan AS Chevron, masih aktif di negara itu, operasi mereka menyusut secara signifikan karena AS telah memperluas sanksi terhadap Venezuela.
Salah satu sanksi tertuju pada ekspor minyak, guna membatasi akses ekonomi Maduro.
Rangkaian sanksi—yang pertama kali diberlakukan AS pada 2015 saat pemerintahan Presiden Barack Obama atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia—juga telah membuat investasi ke Venezuela terputus.
"Tantangan sebenarnya yang mereka hadapi adalah infrastruktur mereka," kata Callum Macpherson, kepala komoditas di Investec.
Pada November 2025, Venezuela memproduksi sekitar 860.000 barel per hari, menurut laporan pasar minyak terbaru dari Badan Energi Internasional.
Itu hampir sepertiga dari jumlah 10 tahun yang lalu dan kurang dari 1% dari konsumsi minyak dunia.
Cadangan minyak negara itu terdiri dari minyak yang disebut "berat, asam". Minyak ini lebih sulit dimurnikan, tetapi berguna untuk membuat diesel dan aspal. AS biasanya memproduksi minyak "ringan, manis" yang digunakan untuk membuat bensin.
Menjelang serangan dan penangkapan Maduro, AS juga menyita dua kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela, serta memerintahkan blokade terhadap kapal-kapal tanker tertentu agar tidak bisa masuk dan keluar negara tersebut.
Baca juga:
Homayoun Falakshahi, analis komoditas senior di platform data Kpler, mengatakan hambatan utama bagi perusahaan minyak yang berharap untuk mengeksploitasi cadangan minyak Venezuela adalah hambatan hukum dan politik.
Berbicara kepada BBC, ia mengatakan bahwa mereka yang berharap untuk melakukan pengeboran di Venezuela perlu menandatangani perjanjian dengan pemerintah, yang tidak akan mungkin dilakukan sampai pengganti Maduro menjabat.
Perusahaan-perusahaan kemudian akan mempertaruhkan investasi miliaran dolar pada stabilitas pemerintahan Venezuela di masa depan, tambah Falakshahi.
"Bahkan jika situasi politik stabil, ini adalah proses yang membutuhkan waktu berbulan-bulan," katanya.
Perusahaan yang berharap memanfaatkan rencana Trump perlu menandatangani kontrak dengan pemerintah Venezuela yang baru, sebelum memulai proses peningkatan investasi infrastruktur di Venezuela.
Para analis juga mengingatkan bahwa diperlukan puluhan miliar dolar—dan kemungkinan 10 tahun—untuk mengembalikan tingkat produksi minyak Venezuela.
Neil Shearing, kepala ekonom grup di Capital Economics, mengatakan rencana Trump akan memiliki dampak terbatas pada pasokan global dan harga minyak.
Dia mengatakan kepada BBC bahwa ada "sejumlah besar rintangan yang harus diatasi dan jangka waktu dari apa yang akan terjadi sangat panjang" sehingga harga minyak pada 2026 kemungkinan akan mengalami sedikit perubahan.
Shearing mengatakan perusahaan-perusahaan tidak akan berinvestasi sampai pemerintahan yang stabil terbentuk di Venezuela. Adapun proyek-proyek tersebut tidak akan menghasilkan keuntungan selama "bertahun-tahun".
"Masalahnya selalu kurangnya investasi selama beberapa dekade, salah urus, dan biaya ekstraksinya sangat mahal," katanya.
Dia menambahkan bahwa kalaupun Venezuela dapat kembali mencapai tingkat produksi sebelumnya, yaitu sekitar tiga juta barel per hari, negara tersebut masih akan berada di luar 10 produsen minyak terbesar di dunia.
Shearing menyebut negara-negara OPEC+ memproduksi jumlah minyak yang besar dan dunia saat ini "tidak mengalami kekurangan minyak".
Chevron adalah satu-satunya produsen minyak Amerika yang masih aktif di Venezuela, setelah menerima lisensi untuk memproduksi saat pemerintahan mantan Presiden Joe Biden pada 2022, meskipun AS menerapkan rangkaian sanksi.
Perusahaan tersebut, yang saat ini bertanggung jawab atas sekitar seperlima ekstraksi minyak Venezuela, mengatakan bahwa mereka fokus pada keselamatan karyawannya dan mematuhi "semua hukum dan peraturan yang relevan".
Perusahaan-perusahaan minyak besar lainnya sejauh ini bungkam di depan umum mengenai rencana tersebut, hanya Chevron yang membahas situasi di Venezuela.
Namun, Falakshahi mengatakan para petinggi perusahaan minyak akan berdiskusi secara internal tentang peluang di Venezuela.
Ia menambahkan: "Keinginan untuk pergi ke suatu tempat terkait dengan dua faktor utama, situasi politik dan sumber daya di lapangan."
Terlepas dari situasi politik yang sangat tidak pasti, Falakshahi mengatakan "potensi keuntungan mungkin dianggap terlalu besar untuk diabaikan".