Adakah hubungan polusi udara dengan bunuh diri?

    • Penulis, Richard Fisher
    • Peranan, BBC Future

Bagaimana Anda mencegah orang bunuh diri? Tidak ada jawaban yang mudah, tapi satu hal sudah jelas: bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius. Lebih dari 700.000 orang bunuh diri di seluruh dunia setiap tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Setiap tahun, pada 10 September 2023, WHO memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, dengan maksud memfokuskan perhatian pada skala kematian yang diakibatkannya serta penyebabnya.

Orang-orang di AS barangkali akan sangat khawatir ketika mengetahui bahwa bunuh diri di sana telah meningkat hampir 40% selama dua dekade terakhir. Setiap tahun, hampir 50.000 orang di AS bunuh diri – satu kematian setiap 11 menit – dan negeri itu sekarang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di kalangan negara kaya dan maju. (Sebagai perbandingan, tingkat bunuh diri di Inggris sekitar 25% lebih rendah dari AS.)

Mencegah kematian-kematian ini adalah persoalan kompleks, dan tidak ada solusi cepat. Walau demikian, penelitian dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa ada upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh para politikus dan pejabat kesehatan masyarakat — dan upaya-upaya tersebut melampaui respons yang sudah biasa seperti berinvestasi di layanan kesehatan mental, atau mengurangi kesepian.

Misalnya, pada tahun 2018 para peneliti di jurnal ilmiah Science melaporkan bagaimana Denmark berhasil mengurangi tingkat bunuh dirinya secara signifikan dengan membatasi akses ke cara-cara bunuh diri paling berbahaya, serta membangun Klinik Pencegahan Bunuh diri yang khusus bagi orang-orang dengan pikiran bunuh diri.

Sekarang, bidang baru penelitian yang menjanjikan mulai muncul dan barangkali, sekilas, tampaknya tidak berkaitan: meningkatkan kualitas udara. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai studi telah mengidentifikasi kaitan antara meningkatnya level polusi udara dan risiko bunuh diri. Bagaimana sebaiknya kita menanggapi bukti ini?

Apa kata penelitian?

Pada 2021, Seulkee Heo dan koleganya di Universitas Yale menelaah 18 studi yang mengeksplorasi hubungan antara polusi udara dan bunuh diri.

Mereka menemukan kaitan signifikan antara meningkatnya risiko bunuh diri dengan materi partikulat – emisi dari pembakaran kayu, kebakaran hutan, atau debu konstruksi – serta gas sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dari fasilitas industri, pembakaran bahan bakar fosil dan beberapa kendaraan.

Hal ini sejalan dengan studi telaah pada 2019 yang dipimpin oleh Isobel Braithwaite dari Universitas College, London.

Dengan menganalisis data dari berbagai studi, Braithwaite dan kolega menemukan bahwa, ketika level materi partikulat tinggi, risiko bunuh diri tampaknya terukur lebih tinggi selama periode tiga hari. Telaah ini juga didukung oleh hipotesis bahwa paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan kemungkinan depresi.

Baca juga:

Sejumlah studi telah dilakukan di Eropa dan Asia, tetapi analisis baru-baru ini terhadap data dari AS, yang diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research di Cambridge, Massachusetts, menemukan bahwa ketika level materi partikulat di kota-kota AS meningkat sebanyak satu mikrogram per kubik meter, tingkat bunuh diri harian meningkat sampai 0,5%. (Namun tidak seperti studi-studi yang lain, makalah satu ini tidak terbit di jurnal ilmiah yang telah melalui proses telaah-sejawat.)

Bagaimana mekanisme biologisnya?

Belum diketahui secara pasti, namun para peneliti punya beberapa dugaan. Polusi udara yang masuk ke paru-paru dapat menghambat masuknya oksigen ke aliran darah, dan kemudian ke otak.

Studi lainnya yang tidak terkait dengan bunuh diri menunjukkan bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan gangguan kognitif, serta efek-efek lainnya.

Dalam kasus risiko bunuh diri, para peneliti curiga bahwa polusi dapat mengakibatkan inflamasi di otak, defisit serotonin, dan gangguan pada jalur respons stres, yang kemudian membuat perilaku depresi dan impulsif lebih mungkin terjadi.

Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa udara yang buruk dapat memengaruhi cara orang berpikir: mengakibatkan kesulitan konsentrasi (brain fog) yang dapat mendorong ide bunuh diri tanpa mereka sadari.

Apa saja catatan yang perlu diketahui?

Studi-studi yang ditelaah oleh tim di Yale dan UCL mengkaji asosiasi - membandingkan statistik - alih-alih sepenuhnya [unpicking] mekanisme dan faktor apa saja yang dapat menyebabkan polusi memengaruhi otak.

Sebagaimana riset manapun yang mengkaji korelasi, selalu ada kemungkinan pengaruh lingkungan lain yang berperan.

Misalnya, dalam analisis mereka Heo dan kolega juga meninjau studi yang menemukan korelasi antara bunuh diri dan suhu tinggi, juga menemukan hubungan signifikan antara hari yang panas dengan peningkatan tingkat bunuh diri.

Dengan asumsi semua faktor lain sama, kenaikan suhu sebesar 7C mengakibatkan tingkat bunuh diri naik sebesar 9%, jelas salah satu peneliti dari Yale Michelle Bell. "Semakin panas suhunya, risikonya semakin besar," ujarnya.

Sementara banyak studi yang menyelidiki polusi udara memperhitungkan kemungkinan efek hari yang panas, selalu ada tantangan ketika berusaha untuk menguraikan keduanya, karena mereka berhubungan dekat.

Temperatur yang lebih tinggi dapat mengakibatkan lonjakan polusi udara, tulis Heo dan kolega, dan orang-orang lebih mungkin menghirup polusi udara pada hari yang panas karena mereka membuka jendela.

Area ketidakpastian lainnya dalam sains ini adalah apakah polusi udara menimbulkan dampak yang berbeda pada pemikiran bunuh diri antara laki-laki dan perempuan. (Bagaimanapun, yang kita tahu adalah bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh laki-laki. Di AS, sekitar 80% orang yang bunuh diri pada tahun lalu adalah laki-laki.)

Bukankah polusi udara sudah jelas-jelas buruk bagi kesehatan masyarakat?

Menghirup polusi udara juga buruk bagi kita dalam banyak cara lain - bukti-bukti saintifiknya sudah mapan.

Bulan September ini juga menandai Hari Internasional Udara Bersih untuk Langit Biru, pada tanggal 7 September, yang dipimpin oleh PBB.

Penyelenggara kampanye itu menyoroti bahaya kesehatan polusi udara, menekankan bahwa "partikel-partikel polusi yang sangat kecil dan tak terlihat masuk jauh ke dalam paru-paru, aliran darah, dan tubuh kita ... serta bertanggung jawab atas sekitar satu-pertiga kematian akibat stroke, penyakit pernapasan kronik, dan kanker paru-paru, serta seperempat kematian akibat serangan jantung."

Jadi, bagaimana pengetahuan baru ini membantu kita mencegah bunuh diri?

Pengalaman masa lalu, dari negara-negara seperti Denmark dan lainnya, menunjukkan bahwa kesuksesan mengurangi tingkat bunuh diri memerlukan berbagai intervensi, pada skala lokal maupun nasional.

Polusi udara hanya meningkatkan kemungkinan bunuh diri sebanyak beberapa persen, tetapi mengeliminasinya tidak akan menyelesaikan masalah.

Bagaimanapun, jika kaitan dengan bunuh diri telah dikonfirmasi dan dielaborasi oleh lebih banyak penelitian, itu akan menyediakan lebih banyak alasan untuk peringatan publik dan kampanye kesadaran ketika masalah udara buruk menjadi parah, kata Heo dan kolega.

Dengan perubahan iklim, mereka memperingatkan, desertifikasi (penggurunan), kekeringan, dan kebakaran hutan menjadi lebih mudah terjadi, dan kalau kita perhitungkan risiko tambahan orang-orang melakukan bunuh diri, maka upaya mengatasinya memerlukan urgensi yang ekstra.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The puzzling link between air pollution and suicide, di BBC Future.