http://www.bbc.com/indonesian/

13 Juli, 2009 - Published 07:09 GMT

Satu korban lagi di Freeport

Otoritas setempat menemukan mayat seorang polisi didekat tambang milik perusahaan Amerika Serikat Freeport, menjadikan korban tewas dalam peristiwa penembakan akhir pekan kemarin menjadi tiga orang.

Menurut kantor berita AP, seorang warga negara Australia yang diketahui sebagai ahli tambang dan seorang penjaga juga terbunuh dan 7 lain terluka dalam peristiwa penembakan di jarak sekitar 3,2 kilometer dari lokasi kompleks penambangan Grasberg di Provinsi Papua.

Di lokasi ini pada tahun 2002 juga pernah terjadi peristiwa penembakan serupa dengan korban 2 guru sekolah asal Amerika dan seorang warga Indonesia tewas.

Pihak berwenang Indonesia menyebut penembakan itu sebagai ulah gerakan separatis, tapi polisi mengatakan mereka menemukan proyektil peluru yang biasa digunakan militer dilokasi penembakan, menyebabkan keraguan apakah gerakan separatis berada dibelakang insiden ini.

Korba terkahir seorang polisi yang sebelumnya dilaporkan hilang pada hari Minggu, ditemukan dalam keadaan tewas hari Senin.

Juru bicara kepolisian Papua Letkol Nurhabri mengatakan, Brigade Mobil dikerahkan untuk membantu mencari para pelaku penembakan.

'' Kami telah mengerahkan brigade mobil masuk kedalam hutan'', katanya seperti dikutip kantor berita AP, sambil menambahkan lokasi yang berat membuat pasukan ini belum menemukan satu petunjuk dan terus mencari.

Polisi tambahan juga dikerahkan di sekitar lokasi tambang Grazberg, namun Nurhabri enggan menyebut berapa jumlah pasukan yang bertugas.

Komplek pertambangan Grasberg di Papua adalah salah satu penambangan operator tunggal terbesar sedunia.

Situs Freeport menyebut di lokasi ini menyimpan kandungan emas dan tembaga terbesar sedunia.

Tambang ini oleh gerakan separatis dianggap sebagai perpanjangan tangan kepentingan pemerintah Indonesia di Papua, dan menjadikan kawasan ini sebagai salah satu kawasan berbahaya dan dijaga oleh militer.

Pemerintah Indonesia melarang media asing melaporkan secara bebas di Papua, yang dijaga oleh lebih dari 10.000 tentara.

Lokasi penembakan juga tertutup bagi wartawan lokal.