http://www.bbc.com/indonesian/

19 Desember, 2007 - Published 14:25 GMT

Ervan Hardoko
Jakarta

Reformasi mengubah wajah radio

Reformasi yang bergulir di Indonesia 1998 lalu tidak hanya mengubah wajah demokrasi Indonesia, tapi juga mengubah wajah dunia radio siaran.

Sejak saat itu, radio siaran khususnya radio swasta bisa memproduksi berita sendiri.

Sejak saat itu pula, radio tak melulu identik sebagai media hiburan namun juga sebagai sumber informasi bagi masyarakat.

Dulu, orang tidak bisa berharap mendengar berita seperti yang sekarang mengisi siaran di radio-radio swasta.

Satu-satunya berita radio adalah berita yang harus direlay dari Radio Republik Indonesia. Radio setidaknya hingga 10 tahun lalu semata sarana penyedia hiburan.

Kini radio juga berfungsi sebagai penyedia informasi bagi masyarakat. Direktur Operasi Radio Suara Surabaya Erol Jonathan mengatakan, perubahan ini mulai berlangsung sejak bergulirnya reformasi.

"Setelah reformasi itu terjadi, radio-radio mulai lebih berorientasi lebih banyak ke pemberitaan dan jurnalistik," kata Erol.

'Lebih kuat'

Pendapat Erol ini didukung Direktur Pemberitaan Radio Trijaya Jakarta, Harri G Amroe.

Meski demikian, menurut Harri, hingga saat ini citra radio sebagai penyedia hiburan masih jauh lebih kuat, terutama di luar Jakarta.

Meski demikian, Harri menilai radio sebagai media penyedia informasi memiliki keunggulan dibanding media massa lainnya yaitu kecepatan.

Pendapat serupa juga disampaikan Direktur Program I Radio Jakarta, Tarsisius Bisma.

"Kita tidak perlu gambar, yang penting pada saat, misalnya ada suatu kejadian atau peristiwa, kita hanya butuh alat komunikasi, langsung disambungkan ke studio, langsung berita itu mengudara," kata Tarsisius.

Dengan kecepatan dalam penyampaian informasi membuat radio kini bukan lagi menjadi anak tiri media massa, kata Erol Jonathan.

Pentingnya radio bagi masyarakat, tambah Erol, setidaknya bisa dilihat dari jumlah pendengar Suara Surabaya.

"Radio sudah menjadi sumber berita yang utama," katanya.

Saat ini radio tersebut memiliki pendengar sekitar 700 ribu orang di Surabaya saja.

Sedangkan siaran lewat internet, erol mengklaim didengar oleh sekitar 15 ribuan orang di 25 negara.

Beragam pendapat

Warga Jakarta memberikan pendapat berbeda soal peran siaran radio bagi mereka.

"Kalau saya dengar radio, ya yang penting ada hiburan pertama, plus ada informasinya dong," kata seorang pria.

Radio juga bersaing dengan media lain sebagai sumber informasi dah sarana hiburan sesuai dalam kehidupan keseharian. "Kalau di mobil ya radio, kalau di kantor ya internet, kalau di rumah ya televisi," tambahnya.

Soal masa depan Radio? Harri G Amroe dari Radio Trijaya Jakarta yakin sampai kapan pun radio akan selalu diperlukan masyarakat.

"Di Jakarta atau pun di Indonesia, [radio] media yang sangat simpel yang tetap akan dibutuhkan orang," katanya.

Menurut data survey BBC, di Jakarta saja kini terdapat 69 stasiun radio. 11 stasiun radio di antaranya memiliki pendengar di atas 1 juta orang.

Dari lima radio dengan pendengar terbanyak ternyata didominasi radio dengan porsi hiburan lebih besar, khususnya yang menyuguhkan musik dangdut.

Dengan banyaknya stasiun radio dengan berbagai segmen, menunjukkan masih banyak orang yang mencintai media radio.