|
Malam Minggu di Banda Aceh | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Setelah bencana tsunami menerjang Banda Aceh, dan meluluh-lantakkan sebagian wajah kota ini, pusat kegiatan yang baru juga muncul, antara lain sebagai tempat ngobrol. Wartawan BBC Heyder Affan di Banda Aceh, malam Minggu 29 Januari 2005, sengaja berkeliling kota Banda Aceh untuk melihat apakah kegiatan masyarakat mulai hidup kembali di Banda Aceh, sebeulan lebih setelah bencana. Di Jalan Hasan Saleh, di wilayah Neusu, Banda Aceh, suasana pukul 2000 WIB malam masih etap ramai. Lampu-lampu jalan terang sekali, dan hampir semua toko di sepanjang jalan ini, Kendaraan roda empat, becak motor, hilir mudik di jalan ini, seolah bencana tsunami yang menewaskan sedikitnya 200 ribu orang Aceh, satu 1 bulan lalu, sudah jauh di belakang sana. Di pasar inilah Zuraidah, yang mengenakan setelan celana jeans, oblong putih dan kerudung, menemani tantenya menjual buah-buahan. Lokasi kios penjual buah yang ditempati Zuraidah, persis di depan supermarket terbesar di kota ini, yaitu Pante Pirak.
Supermarket di tempat inilah yang kini paling ramai dikunjungi, setelah gedung pusatnya di pusat kota rontok akibat gempa. Di sini orang sampai antri untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Tidak jauh dari Pante Pirak, sejumlah pedagang membuka stand, menjual pakaian dan sepatu. Setelah tsunami menghancurkan sebagian besar pusat pertokoan di pusat kota, orang-orang memang berpaling ke wilayah Neusu. Daerah ini memang lolos dari terjangan gelombang air pasang, dan sejumlah anak muda pun berdatangan ke sini. Selain super market, warung kopi juga menjadi tujuan tempat ngumpul dari para pemuda di Banda Aceh. Di salah satu warung kopi, Heyder Affan berteju 2 orang pemuda, dan salah satunya, Muslim, berambut gondrong. Dia mengatakan perlu ke warung kopi untuk menhilangkan trauma, sementara kawannya, Yudi, mengatakan tidak punya tempat lagi untuk ngobrol selain warung kopi. Tradisi minum kopi, bagi masyarakat Aceh, sudah lama melekat dalam kehidupan malam. Itulah sebabnya, warung kopi berderet-deret di sepanjang jalan yang ramai dan selalu dipenuhi pengunjung, terutama para lelaki. Di sini suasananya ramai, dan sesekali terdengar juga tawa. Namun sebenarnya sebagian dari mereka justru membahas bencana tsunami, membicarakan nasib sanak-saudara, atau kerabat mereka yang hilang. |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||