BBCIndonesia.com
  • Bantuan
Diperbaharui pada: 27 Februari, 2009 - Published 10:42 GMT
Email kepada temanVersi cetak
Dampak krisis ekonomi di Asean
Sukanya Samang
Sukanya Samang, salah seorang warga Thailand yang terkena PHK
Sementara para pemimpin Asia Tenggara mengadakan pertemuan puncak yang didominasi oleh masalah kemerosotan dunia, wartawan BBC Jonathan Head mencermati kondisi ekonomi di kawasan.

Sukanya Samang selama ini belum pernah mendengar konsep "decoupling". Kalau pun dia pernah, dia pasti tahu artinya dari pengalaman getirnya sendiri bahwa itu mitos.

Gagasan yang digulirkan beberapa tahu terakhir adalah bahwa perekomian kawasan Asia Timur berkembang begitu cepat, dengan permintaan domestik dan perdagangan di antara sesamanya meningkat, mereka akan menjadi kurang rentan terhadap kelesuan ekonomi di bagian lain dunia.

Tidak seperti krisis keuangan Asia 1997, kebanyakan bank di kawasan cukup sehat, dengan eksposur terbatas ke masalah pinjaman berisiko tinggi yang macet, dan banyak negara memiliki cadangan devisa asing yang sangat bagus.

Sukanya Samang adalah seorang dari banyak warga miskin Tahiland yang mengisi lowongan pekerjaan yang terbuka selain perusahaan manufaktur dari Eropa, Amerika, Jepang, Korea dan Taiwan membangun pabrik di kawasan Asia Selatan yang upah buruhnya lebih rendah.

Suaminya bekerja sebagai satpam. Dan, sampai Januari, dia bekerja di gudang yang mengemas suku cadang mobil untuk raksasa industri otomotif Thailand.

Dia mempunyai bayi laki-laki berusia 18 bulan, dan hamil tua dengan anak keduanya.

Namun, ketika dia dan rekan sepekerjaannya kembali dari libur tahun baru, mereka mendapat kabar bahwa mereka diliburkan.

Perusahaan mereka dengan licik memecat mereka hanya satu hari sebelum mereka genap bekerja satu tahun, artinya mereka tidak mendapat kompensasi.

Dia mengatakan, dia tidak punya gambaran soal rencana berikutnya. Pengeluran ongkos untuk kesehatannya sudah sangat berat.

"Yang mereka lakukan kepada kami tidak adil," ujar rekan sekerja Sombat Doklam. "Kami tidak menerima peringatan, sehingga kami tidak punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan lain. Dan kini, tidak ada pekerjaan di sekitar."

Kini, para pekerja korban PHK itu duduk-duduk di asrama yang telah menjadi rumah mereka setahun terakhir.

Sebagian besar dari mereka akan pulang kampung ke tempat asal mereka di Thailand barat laut yang miskin dengan mengendari sepeda motor.

Sepeda motor itu lambang kemakmuran yang baru mereka dapat. Mereka masih menanggung hutang atas pembelian kendaraan bermotor itu, dan mungkin mereka harus segera melepasnya.

'Kesulitan nyata'

Mitos decoupling porak-poranda di Thailand dengan statistik sederhana. Beberapa dekade setelah negara ini mengkampanye pertumbuhan berbasis ekspor, ekonomi domestik ternyata masih kecil.

Banyak pabrik ditutup di Thailand
Banyak pabrik ditutup di Thailand akibat resesi global

Di luar dugaan ekspor Thailand mencapai dua pertiga dari GDP. Sebagai perbandingan angka itu hanya sepertiga di Cina.

Negara tetangga, Malaysia lebih bergantung pada pasar asing; Singapura jauh lebih bergantung lagi.

Dengan demikian, tidak mungkin Asia Tenggara bisa menghindari masalah yang ditimbulkan oleh krisis kredit bermasalah di pasar Barat.

Ekspor dari Singapura merosot sebesar 35% bulan Januari. Penurunan itu mencapai 25% di Thailand, dan itu terjadi setelah kemerosotan 15% bulan Desember.

Ekonomi Thailand mengalami kontraksi dengan laju tahunan lebih dari 6% pada kuartal pertama tahun 2008. Singapura memprediksi ekonominya akan menyusut 5% tahun ini.

Jadi, apa yang bisa dilakukan pemeirntah di kawasan untuk meredakan dampak? Tidak banyak

Ekonomi akan mendominasi pertemuan puncak di Hua Hin, Thailand akhir pekan ini, tapi kesepuluh negara anggota tidak bisa berbuat banyak selain berharap dan berdoa pemulihan dini terjadi di Eropa dan Amerika Serikat.

"Kami bisa mempertahankan mesin Thailand mungkin selama beberapa tahun ke depan," kata Menteri Keuangan Thailand Korn Chatikavanij dalam wawancara dengan BBC setelah meloloskan paket situmulus senilai 11 miliar dollar di parlemen.

"Saya berharap ada cukup waktu bagi para mitra dagangan kami untuk pilih. Jika ekonomi dunia gagal pulih, maka kami seperti orang lain di sini, akan mengalami kesulitan nyata," tambah Korn.

Bukti anekdotal masalah ekonomi mudah sekali ditemukan di Thailand.

Di sebuah busana kelas atas di Bangkok, seorang wanita pramuniaga mengatakan kepada saya bahwa angka penjualan menurun 80% dalam satu tahun terakhir, memusnahkan komisi yang biasanya mencapai dua pertiga gajinya.

Dia khawatir bahwa dia tidak akan bisa membayar angsuran mobil yang dia beli baru-baru ini.

Seorang sopir taksi mengatakan, dia harus bekerja lembur hingga menjalani shift tambahan setelah istrinya kehilangan pekerjaan di pabrik - tapi dia melihat jumlah penumpang merosot tajam tahun ini.

Kementerian Tenaga Kerja Thailand mengumumkan, 163 perusahaan tutup bulan Januari. Lembaga itu yakin sedikitnya setengah juta pos pekerjaan hilang tahun ini.

"Itu jika rencana stimulus berhasil," kata Korn Chatikavanij. "Jika tidak, jumlah itu bisa mencapai satu juta."

Untuk negara yang sudah mengalami dampak krisis politik berlarut-larut, ini adalah prediksi yang menakutkan.

Tempat cerah?

Di Filipina, salah satu kekhawatir terbesar adalah bahwa jutaan warga yang bekerja di luar negeri, yang kirima uangnya mencapai lebih dari 10% dari GDP, akan mulai kehilangan pekerjaan mereka di negara lain.

Trend yang sama juga bisa mempengaruhi Birma, negara yang begitu miskin dan terkucil dari ekonomi dunia, sehingga sulit untuk melihat masalah kredit berisiko tinggi mendatangkan dampak di sana.

Namun, puluhan ribu warga Birma yang bekerja sebagai pelaut di armada pelayaran dunia - dan pelayaran terpukul oleh kelesuan ekonomi global.

Adakah tempat yang cerah di Asia Tenggara? Negara terbesar di kawasan, Indonesia kurang bergantung pada ekspor sehingga mungkin akan bisa menahan dampak krisis lebih baik daripada para tetangganya.

Namun, dengan begitu banyak dari 240 juta warganya hidup di sekitar garis kemiskinan, dan 2,5 juta pencari kerja baru memasuki pasar tenagakerja setiap tahun, kelesuan ekonomi apa pun akan membawa dampak.

Namun, bagaimana dengan negara termuda dunia, dan salah satu negara termiskinnya? ta, Timor Leste yang mungil, dengan wilayah setengah dari salah satu pulau di Indonesia yang bisa dikatakan tidak punya ekonomi dalam tahun-tahun pertama kehadirannya, sebenarnya tumbuh lebih dari 10% tahun lalu.

Saya bertemu dengan Presiden Yimor Leste Jose Ramos-Horta bulan lalu, dan dia luar biasa optimistis soal prospek negaranya tahun depan.

Pendapat dari gas dan minyak lepas pantai Timor Leste akan merosot tajam tahun ini, memang, demikian kata sang presiden, tapi saat itu pemerintah baru mulai membelanjakan pendapatan. Dan, belanja itu jelas mendatangkan dampak positif.

Timor Leste mulai tumbuh dari landasan kegiatan ekonomi yang sangat rendah. tapi, setidaknya itu akan menyelamatkannya, dari dampak dahsyat kelesuan yang bisa jadi lebih buruk daripada krisis traumatis yang menelan Asia Tenggara 11 tahun silam.

Berita utama saat ini
Email kepada temanVersi cetak
Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
BBC Copyright Logo^^ Kembali ke atas
Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
Bantuan | Privacy