Yang saya dapatkan ketika hidup sebagai David Bowie

Sumber gambar, Will Brooker
Saya bangun pada pagi hari tanggal 11 Januari 2016 dari mimpi saya tentang David Bowie. Ini bukan hal yang aneh.
Saya memimpikan Bowie hampir setiap malam sejak bulan Juni tahun lalu, saat saya memulai untuk secara serius mempelajari hidup dan pekerjaannya.
Mulanya saya ingin melakukan riset untuk sebuah buku, tetapi kemudian saya menyadari betapa banyaknya buku mengenai Bowie yang sudah diterbitkan.
Jadi, saya mengubah sudut riset dengan mencoba hidup dalam budaya yang dialami Bowie dalam berbagai titik dalam hidupnya.
Saya memulainya dengan mempelajari semua biografi tentang Bowie yang bisa saya temukan.
Selain itu, semua yang saya tonton, dengar, dan baca ditentukan oleh film dan acara TV, pertunjukan, album, dan novel yang disukai Bowie: mulai dari tahun-tahun ketika dia bermimpi untuk menjadi terkenal di tahun 1960-an di kawasan London selatan, melalui masa-masa ketika dia sangat 'haus' untuk mengetahui banyak hal di New York, Paris, Los Angeles, dan Berlin di tahun 1970-an sampai pada masa grup band barunya yang berjaya memimpin di tahun 1990-an sampai awal 2000-an.
Untuk dapat memahami keadaan mental dan emosinya dalam kurun waktu utama ini, saya memutuskan menjalani fase-fase hidupnya dan mengadopsi kepribadiannya.
Dicemooh di media sosial
Saya mengubah jenis makanan yang saya makan, rambut saya, dan gaya hidup saya. Saya mengurung diri di kamar-kamar hotel hanya ditemani cabe merah, susu, buku-buku tulisan Nietzsche dan Aleister Crowley.
Saya keluar mengenakan tata rias teater penuh dan sepatu bot platform. Saya menelusuri jalan-jalan yang dilalui Bowie, dari Brixton sampai New York dan Berlin.
Ketika surat kabar-surat kabar mengetahui mengenai penelitian saya pada musim panas 2015, saya juga mempelajari rasanya menjadi subjek berita internasional, menjadi keanehan yang dibahas dan terkadang dicemoohkan di arus utama dan media sosial.
Ketika David Bowie meninggal bulan Januari lalu, Twitter dipenuhi dengan ciutan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Banyak penggemarnya mengutip lirik lagunya yang dirasakan sangat menyentuh, atau kalimat-kalimatnya dalam film terbaiknya, The Man Who Fell To Earth.

Sumber gambar, Will Brooker
Banyak juga yang berusaha menghibur diri dengan mengatakan bahwa Bowie memang benar manusia dari angkasa, dari bintang, penyelamat, dan juga bahkan makhluk asing dari planet yang turun ke bumi untuk sementara sebelum kembali lagi ke tempat asalnya.
Saya tidak pernah bertemu Bowie. Teman-teman dahulu bergurau bahwa mungkin suatu hari Bowie akan menelepon saya dan mengundang saya datang ke rumahnya untuk mengobrol, atau tiba-tiba dia menghentikan mobil limousinenya di depan saya, memberi kejutan.
Pribadi Bowie
Tetapi sekarang, tentu saja saya tak mungkin akan bisa bertemu Bowie.
Tetapi saya sudah berjalan-jalan di daerah bekas tempat tinggalnya di Beckenham, London selatan, menginap di hotel kesukaannya di New York, dan duduk di bar gay di Berlin yang sering dikunjunginya bersama penyanyi rock Amerika Iggy Pop.
Saya tidak membaca buku lain kecuali biografi Bowie selama enam bulan, dan tidak mendengarkan apa pun kecuali lagu-lagu yang didengarkan Bowie.
Saya menyanyikan lagu-lagunya bersama sebuah band yang memang khusus menampilkan karya Bowie, dan kemudian diperkenalkan sebagai David Bowie di atas panggung kabaret dan foto saya berdampingan dengan foto Bowie diterbitkan di surat kabar Spanyol, Rusia, Kanada dan Belanda.
Setelah setengah tahun berusaha menciptakan koneksi David Bowie, saya mulai memiliki perasaan pribadi tentang dia.

Sumber gambar, Wil White
Bagi saya, yang paling memukau adalah bahwa David Bowie tidak pernah benar-benar ada. Uang royalti yang didapatkannya dibayarkan kepada David Jones (Bowie terlahir sebagai David Jones).
Iman, istrinya, menikah dengan David Jones. Semua penampilan hebat –tokoh yang menciptakan tokoh-tokoh lain seperti Ziggy Stardust dan Thin White Duke– merupakan hasil kreasi David Jones.
Jelas bukan dewa
Dan David Jones bukan dewa atau mahkluk dari planet asing. Dia hanya manusia biasa yang terus menerus membuat sesuatu yang baru: selalu tidak sabar, selalu menantang, selalu mencoba untuk bekerja sama dan menonjolkan orang-orang paling hebat yang bisa ditemukannya dalam semua bidang.
David Jones tidaklah sempurna.
Dia pernah menjadi remaja yang merasa harus bisa sukses dan kemudian gagal selama bertahun-tahun, sebelum menemukan gaya yang tepat untuk saat yang tepat.
Tiba-tiba saja dia naik daun.
Dia menjadi kesepian, terasing dan paranoid di Los Angeles, serta kemudian jatuh ke dalam got setelah bermalam-malam dihabiskannya untuk minum bir di Berlin.
Jones adalah pria yang menjadi kesal dan bosan ketika diwawancara, yang menjawab dengan ketus dan menceritakan dusta.
Dia sering ramah dan baik, sopan dan menawan, tetapi dia juga bisa berperilaku kasar dan tidak masuk akal kepada orang-orang yang seharusnya diperlakukan dengan lebih baik.
Dia meragukan dirinya sendiri. Dia membuat penilaian yang salah. Dia merilis musik yang buruk dan juga yang bagus. Dia berkembang, tumbuh dan belajar.
Itulah bagi saya yang menjadi warisan David Bowie: bahwa dia manusia biasa seperti kita semua –berasal dari keluarga biasa dengan masalah yang dihadapi kebanyakan keluarga– yang memiliki impian yang artistik dan berani mengejar impian itu.
Dan Bowie tidak berhenti di situ saja.
Dia tidak berhenti ketika sudah kelelahan dengan karakter Ziggy Stardust dan juga kecapaian karena ketenaran pop penuh glamor yang didapatkannya.
Dia membawa Ziggy ke Amerika dan memadukannya dengan musik jazz avant-garde Aladdin Sane.
Dia juga tidak berhenti ketika janda penulis George Orwell melarangnya membuat musikalisasi drama 1984 (tulisan George Orwell).
Dia mengambil saja nama para tokohnya dan konsepnya dan mengubahnya menjadi Diamond Dogs. Ketika pertunjukan ini gagal, dia meninggalkannya.

Sumber gambar, Will White
Ketika hanya sedikit penonton muncul di konser besarnya, dia mengundang mereka semua untuk duduk di depan dan memberi mereka pertunjukan yang intim.
Dia tidak berhenti ketika dia hampir membunuh dirinya sendiri dengan kokain: dia membuat sebuah album epik, Station to Station, yang diilhami keadaan psikosis paranoidnya.
Lalu dia melarikan diri ke Berlin dan menciptakan art-rock. Dia tidak berhenti ketika tahun 1980-an membuatnya jadi salah satu nama besar belaka.
Dan bahkan kanker tidak bisa membuatnya berhenti.
Luar biasa
Dia tahu seberapa banyak waktu yang dimilikinya dan menuliskan lagu perpisahannya, merilisnya, dan memberi kita hadiah pada hari ulang tahun terakhirnya.
Bagi saya itulah yang nyata tentang David Bowie.
Dia seperti kita semua dan menunjukkan apa yang bisa kita lakukan.
Dia memang luar biasa tetapi saya percaya dia memberi kita semua ilham atau inspirasi untuk menjadi luar biasa, atau paling tidak mencobanya dan tidak putus asa.
*Judul lagu dan lirik lagu Bowie, 'Changes.
Jika Anda ingin <link type="page"><caption> mengomentari artikel ini</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160112-what-i-learned-when-i-lived-as-david-bowie" platform="highweb"/></link> atau tulisan-tulisan lain yang Anda lihat di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>, segeralah menuju halaman Facebook kami atau kirimi kami pesan di Twitter.









