Apakah The Walk karya Zemeckis pantas membuat sakit kepala?

the walk

Sumber gambar, Sony Pictures Entertainment

Keterangan gambar, Film Zemeckis ini membuat penonton menggigil karena vertigo.

Subuh tanggal 7 Agustus 1974, seniman Prancis Philippe Petit menginjakkan kakinya ke sebuah kabel yang terbentang di antara dua menara kembar World Trade Center.

Ia berjalan, selama 45 menit, dari satu gedung ke gedung lainnya dan kembali lagi ke gedung tempat memulai perjalanan, di ketinggian lebih dari 396 meter dari atas tanah.

Pertanyaan segera muncul: mengapa ia melakukannya? Apakah ia merupakan versi kontemporer dari akrobat klasik? Atau jenis baru artis pertunjukan eksistensial? Atau orang gila yang ingin mati?

Dalam adegan pembukaan The Walk, film dokumenter drama karya Robert Zemeckis yang magis dan memikat, Petit -yang diperankan Joseph Gordon-Levitt berbicara langsung kepada kita, sementara obor Patung Liberty, dan kedua menara kembar tampak tegak berdiri di belakangnya.

Ia mengatakan pertanyaan mengapa merupakan hal yang tidak akan pernah dijawabnya, dan keindahan film ini adalah penontonlah yang menjawabnya untuk dia – untuk merasakan apa yang dirasakan Petit.

Film dokumenter tahun 2008 yang berjudul Man on Wire mengisahkan cerita yang sama dengan rasa tegang yang hebat.

Tetapi, penitian di ketinggian itu sendiri tidak difilmkan, sehingga sepenuhnya harus tergantung pada foto saja.

Itu artinya, sebagaimana bagusnya pun, Man on Wire tidak akan pernah sepenuhnya mencapai katarsis kekaguman yang dijanjikannya.

The Walk, sebaliknya, memenuhi katarsis itu.

Ketika kita melihat sekilas sosok Petit asli di atas kawat dari kejauhan, penitian ini tidak salah lagi menampillan unsur-unsur kitsch tahun 1970-an: kelihatan seperti aksi antiotoritas dalam keanarkisan, tetapi ada semangat bermain gila-gilaan muncul dari dalamnya.

Namun, dalam film Zemeckis ini, ketika Petit berjinjit ke kawat itu, kita juga ikut hadir di sana bersamanya, dan pengaruhnya sangat berbeda; hal ini tampak lebih menakjubkan daripada tantangannya sendiri.

Ketinggian menara itu hanya merupakan separuh dari alasan mengapa penitian itu menakutkan. Separuh lagi adalah karena jarak di antara menara itu – 45 meter ruang terbentang dengan kedalaman yang terlihat bagaikan kekosongan mutlak.

zemeckis

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Sang sutradara Robert Zemeckis (kanan) berfoto bersama pemeran tokoh Phillipe Petit, Joseph Gordon-Levitt, di Empire Tower, Rusia.

Beranjak maju di atas kawat metalnya, Petit terlihat bagaikan menari dengan gerak sangat lamban dalam pesona cahaya pagi yang bagaikan tidak nyata.

Petit berada di zona keseriusan berbahaya, dan gambar 3D film ini menyihir, bahkan ketika Anda mengigil karena vertigo.

Siapa pun juga dapat menggunakan tipu muslihat digital untuk menciptakan kembali Menara Kembar itu, tetapi hanya penyulap penyair teknologi seperti Zemeckis yang bisa membuat Anda merasa seolah-olah menara itu memang ada di sana, dan bahwa kita pun ada di sana.

Ketika Petit menyelesaikan perjalanannya, lalu memutuskan, begitu saja tiba-tiba saat itu, untuk kembali, menyeberangi kawat metal itu sekali lagi, kita tidak bisa percaya bahwa dia memilih bahaya dengan begitu riang, dan keberaniannya mulai tampak lebih hebat lagi. Benar-benar menakjubkan.

Di kehampaan

Untuk beberapa saat, penampilan Gordon-Levitt sangat mengganggu perhatian.

Rambutnya, entah mengapa, terlihat bagaikan wig yang buruk, dan kalaupun aksen Prancisnya cukup baik, ini membuatnya malah kelihatan seperti tokoh karikatur setan Paris yang terlalu bersemangat dan memuja diri sendiri di acara televisi Saturday Night Live.

Paruh pertama film ini, yang menggambarkan kehidupan Petit sebagai pemain pantomim dan aktobat jalanan, ditulis tidak terlalu baik dan tidak terlalu rapi.

Tidak ada seorang pun di dekatnya, seperti tokoh kekasihnya (Charlotte Le Bon) yang dikenalnya ketika ia memata-matainya menyanyikan lagu Leonard Cohen, yang terlihat berbobot.

Tetapi tidak apa-apa, karena Petit, yang digambarkan sebagai filsuf-badut merupakan satu-satunya kepribadian yang diperlukan film ini.

Gordon-Levitt mampu bermain-main tetapi tetap dengan penuh renungan, sehingga terus mengejutkan.

Akibatnya, Petit, sebagai karakter di film ini, mendapatkan kekuatan dan jiwa seiring berjalannya film.

Petit mula-mula menjadi perhatian karena membentangkan kawatnya di antara menara-menara gereja Notre Dame, dan segera setelah ia melihat foto World Trade Center yang sedang dibangun, ia tahu di mana ia harus mengaitkan kawatnya berikutnya.

Bagaimana membentangkan kawat di sana, dan melakukan penitian itu, memerlukan perencanaan berbulan-bulan, dan untuk sementara The Walk masuk ke lonjakan yang sangat seru.

Petit mendapatkan kiat bagaimana memasang kawatnya dari seorang pemain sirkus veteran yang menjadi pembimbingnya.

Tokoh ini diperankan Ben Kingsley dalam aksen Ceko yang buruk dan topi yang membuatnya kelihatan seperti Freddy Krueger.

Ia lalu mengumpulkan semua bala bantuannya, sebuah tim yang semuanya memiliki keahlian yang sama, termasuk seorang ahli matematika Prancis yang - ya – takut akan ketinggian.

Anda pasti berpikir bahwa hal itu seharusnya tidak memungkinkan dia bergabung dalam tim ini, tetapi memang begitu buruknya operasi tersebut.

Lalu penitian itu dimulai, dan sejak itu kita pasti terpesona dalam ketegangan sehingga kita merasa berhenti bernapas; kita hampir tak berani bernapas.

philippe petit

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Seniman Prancis peniti ketinggian Philippe Petit mengunjungi lantai 86 Empire State Building, New York, untuk merayakan dirilisnya film "The Walk".

Jadi, mengapa Petit melakukan penitian itu? Seperti para penantang berani lainnya, ia ingin menunjukkan kepada dunia seperti apa jika manusia terhapus dari semua rasa takut.

Motivasinya juga berkaitan dengan menara itu sendiri.

Menara kembar itu baru didirikan, dan menjadi monumen bagi semangat perusahaan baru yang tidak ramah dan mendominasi.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, karena menara kembar itu melambangkan kekuasaan kukuh Amerika, mereka menjadi sasaran serangan 9/11, dan The Walk menunjukkan kepada kita bahwa Petit – yang menyebut rencananya sebagai “serangan” – memaksudkan pula penitiannya sebagai semacam ‘serangan’ terhadap kedua menara itu.

Hanya saja dia menyerang menara itu dengan kasih sayang.

Aksi Petit untuk menyeimbangkan tubuhnya di udara sangatlah absurd dan gila, heroik dan indah, dan dengan melakukannya dia juga memandikan gedung-gedung itu dengan rasa kemanusiaan yang tidak dimiliki gedung itu sebelumnya.

Ia mengatakan – tanpa menyuarakannya – bahwa manusia lebih besar daripada gedung-gedung itu.

The Walk, walaupun seharusnya bisa memiliki skenario yang lebih baik, merupakan pengalaman yang mengubah hidup kita.

Itu juga yang menjadi alasan bagi Philippe Petit untuk menawarkan pertunjukan menantang maut ini sebagai bentuk rasa yakinnya, bukan saja keyakinannya akan dirinya sendiri tetapi juga untuk semua orang.

Ia mengangkat kita semua ke tempat yang sedikit lebih tinggi.

<italic>Versi lengkap dalam bahasa Inggris dapat Anda simak <link type="page"><caption> lewat tautan ini </caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20150928-film-review-is-robert-zemeckis-the-walk-worth-the-vertigo" platform="highweb"/></link>- dan simak cerita lain dalam <bold><link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>.</bold></italic>