Film Jaws itu sesungguhnya film komedi

brody jaws

Sumber gambar, universal

Keterangan gambar, Ditonton 40 tahun kemudian, bukannya seram, film ini malah lucu.

Produser David Brown teringat saat uji coba pemutaran film ini 40 tahun lalu, “orang menjerit-jerit dan tak berhenti.” Saat itu dia langsung tahu bahwa film ini akan sukses besar.

Kritikus kontemporer menilai film ini “mengguncang syaraf”, “mesin pembuat takut yang bekerja dengan kesaksamaan komputer”. Beberapa dekade kemudian, film ini menempati daftar-daftar “film-film paling menyeramkan sepanjang masa”, dan para penggemar beratnya membanggakan, betapa masa kecil mereka dibuat ketakutan olehnya.

Kevin Smith, penulis dan sutradara film Clerks and Chasing Amy berkata kepada harian The Observer bahwa dia tidak cuma takut berenang di laut, dia juga takut duduk di toilet. “Logika saya, di toilet ada air, jadi mungkin saja hiu-hiu juga berenang di toilet.”

Justru itulah masalahnya. Kalau Anda menonton Jaws sebagai orang dewasa di tahun 2015, mungkin Anda akan mengagumi dialognya yang mudah dikutip, atau bersenandung mengikuti musik John Williams, atau memuji si jenius Spielberg, yang menghantui pikiran Anda dengan hiu tanpa memperlihatkan hiunya.

Tapi kemungkinan besar, Anda tidak akan ketakutan.

Saya tidak bermaksud bahwa Anda tidak akan tegang ketika menunggu untuk melihat sirip si hiu. Atau Anda tidak akan melompat sedikit, saat segitiga hitam yang seram itu muncul di layar. Tetapi, saya setuju kenapa film ini diberi rating PG (untuk remaja dengan panduan orang tua), bukannya R (khusus dewasa), padahal saya salah satu penonton film yang paling mudah ketakutan.

Sekarang ini, Jaws lebih mungkin menyebabkan orang menjerit karena lucu ketimbang takut.

Jika Jaws memang asyik ditonton, lebih asyik sebagai film komedi daripada film horror. Tepatnya, sebagai dua macam komedi. Komedi pertama adalah tentang polisi kota besar yang tersasar di komunitas pulau terpencil; dalam kata lain, ini jenis komedi “ikan yang menggelepar di luar air”.

Jenis kedua adalah komedi tentang tiga sahabat yang tidak serasi, bercanda-canda di sebuah perahu.

Matahari, selancar dan jeritan

Komedi yang pertama bertempat di Amity, pantai wisata di New England dengan pagar khas rumah kelas menengah Amerika, di mana Brody --penduduk New York yang takut air-- diangkat sebagai kepala polisi.

Pada saat mayat turis yang tercabik-cabik terdampar di pantai, Brody ketakutan bahwa ada seekor ikan hiu pemakan manusia di daerah itu. Tetapi, tidak ada orang yang peduli.

Media berkumpul di tempat kejadian, penduduk setempat pontang-panting mencoba menangkap hiu untuk meraih hadiah US$3.000 dan wali kota -selayak badut- hanya khawatir dengan publisitas buruk yang akan mempengaruhi reputasi kotanya.

Pada titik ini, film itu menjadi satire tentang ketidakmampuan sebuah kota kecil, serupa dengan olok-olok Carl Gottlieb yang ditampilkan di film-film Marx Brothers.

Saat Richard Dreyfuss (yang bermain sebagai ahli kelautan di film itu) tampil sebagai seorang yang gelisah, sebagian besar penonton akan teringat pada komedian layar besar lain. Pauline Kael, kritikus film legendaris menyebut bahwa Jaws itu "lucu seperti lucunya film-film Woody Allen" --yang penuh karakter gelisah.

Ketimbang menakutkan, serangan-serangan hiu di film ini malahan aneh. Ini karena kita telah dibuat tidak sensitif oleh film-film sekarang, yang semakin mengerikan seiring berjalannya waktu selama empat dekade.

Faktor lainnya, karena sutradara-sutradara film horor zaman sekarang -dengan alat-alat yang canggih- bisa membuat film-film jauh lebih mengerikan dari apa yang mungkin dibuat pada tahun 1975.

Faktor lain lagi adalah hiu karet yang sekarang ini tampak menggelikan.

Tetapi, faktor terbesar kenapa Jaws tidak menakutkan adalah karena Spielberg sebenarnya tidak mau film ini jadi menakutkan.

Lihat misalnya adegan saat dua orang tua mengikat satu ujung rantai ke dermaga kayu dan ujung lain ke sebuah potongan daging yang mereka lempar ke laut. Umpannya diambil oleh si hiu, tetapi monster ini cukup kuat untuk menghancurkan dermaganya, sehingga salah satu dari mereka tercebur ke laut.

Ada beberapa detik menegangkan saat dia berenang ke tepi, tapi dalam standar zaman sekarang, adegan seperti ini biasanya berakhir dengan cepat.

Ketimbang membuat adegan ini semenegangkan mungkin, Spielberg membiarkan orang yang tercebur untuk kembali ke daratan secepat mungkin. Bahkan dia diberi dialog lucu: “Boleh kita pulang sekarang?” Spielberg mungkin berusaha keras menakut-nakuti kita, tapi sebenarnya maksud dia adalah menghibur penonton.

Sirip dan aksi menyengir

Poster Jaws

Sumber gambar, Thinkstock

Keterangan gambar, Poster Jaws mempromosikan film yang sebagian gambarnya diambil di sebuah kawasan di Massachussets.

Komedi Jaws bagian kedua bahkan lebih lucu daripada yang pertama.

Dengan tekad menyingkirkan monster pembunuh turis ini, Brody berangkat ke laut bersama Hooper dan Quint, seorang veteran perang. Istri Brody bertanya: apa yang harus ia katakan ke anak-anak tentang ekspedisi ini. Brody mengucap “bilang aku pergi memancing”. Itulah intisari film ini.

Sisanya hanya cerita tentang tiga orang lelaki yang jauh dari istri, anak-anak, para turis dan ributnya politik. Maka mereka bebas minum bir, mengikat simpul dan membandingkan bekas luka di tengah suasana memancing yang santai, sementara musik riang John Williams memastikan bahwa kita sedang menonton sebuah cerita maritim yang riang gembira.

Tentu saja tak lama kemudian, si hiu keluar dari air, dan akhirnya kita bisa melihat gigi-giginya yang tajam. Tetapi, lagi-lagi, Spielberg berhati-hati untuk mengurangi dampak penampakan yang mengejutkan ini. Ia tidak memperlihatkan mulut si hiu sebelum kita sadar.

Sebagai gantinya, kita diperlihatkan reaksi lucu Brody. Matanya terbuka lebar, dengan rokok tetap di mulutnya.

Kemudian Brody masuk ke dalam kapal dan mengucapkan dialognya yang paling terkenal – improvisasi Scheider sendiri: “Kita butuh perahu yang lebih besar”.

Jeritan penonton kalah oleh tawa mereka.

Hal yang jelas tentang Jaws adalah: bahkan saat membuat film thriller tentang hiu sepanjang 7,5 meter yang gemar makan manusia, Spielberg memiliki naluri untuk menghibur penonton, layaknya penghibur keluarga, ketimbang semangat sadistis seorang sutradara film horor.

Karena naluri inilah, Jaws menjadi salah satu film yang paling dipuji sekaligus paling menguntungkan sepanjang sejarah, dan Spielberg disanjung sebagai pelopor sinema populer.

Tetapi, gaya flamboyan film ini juga memiliki pengaruh buruk: tidak ada film Hollywood besar zaman sekarang yang lengkap tanpa gurauan dari Dwayne Johnson atau Robert Downey Jr. Tetapi, di Jaws, kombinasi kegembiraan yang menegangkan dan humor manusiawi saat itu masih terasa segar.

Kombinasi ini terus dipakai oleh Spielberg. Empat tahun setelah film sukses pertamanya, dia mencoba film komedi satu-satunya yang pernah ia buat, dan gagal, berjudul 1941, tetapi dalam proyek selanjutnya, dia kembali ke formula yang membuat Jaws sebuah film klasik.

Hasilnya adalah Raiders of the Lost Ark, dan sisanya hanya sejarah.

<italic>Ikuti artikel ini dalam bahasa aslinnya di sini <link type="page"><caption> Jaws is no horror movie - it's actually a comedy</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20150615-jaws-is-actually-a-comedy" platform="highweb"/></link> dan artikel lainnya di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>.</italic>