Patung Discobulus: Yunani, Nazi, dan tubuh indah

Adolf Hitler membeli tiruan Discobulus buatan Romawi yang terbuat dari marmer seharga lima juta lira di tahun 1938 dan memajangnya di museum Glyptothek di Munich (Kredit foto: Interfoto/Alamy).
Keterangan gambar, Adolf Hitler membeli tiruan Discobulus buatan Romawi yang terbuat dari marmer seharga lima juta lira di tahun 1938 dan memajangnya di museum Glyptothek di Munich (Kredit foto: Interfoto/Alamy).

Nazi Jerman kerap terinspirasi oleh karya seni periode klasik, tetapi ada satu patung Yunani Kuno yang membuat Adolf Hitler terpesona, laporan Alastair Sooke.

Sejak jaman dahulu, seni Klasik Yunani telah menebarkan pengaruh kepada para kolektor yang kaya dan berkuasa. Kaisar Romawi, Hadrian, demikian terpikatnya oleh karya seni dan budaya Yunani sehingga mendapat julukan 'Graeculus' atau 'Orang Yunani'. Ia menghiasi rumah peristirahatannya di Tivoli, di sebelah timur kota Roma, dengan reproduksi karya seni Yunani. Pada masa Pencerahan, para kardinal dan Paus berlomba untuk memiliki mahakarya seni Yunani yang berasal dari Italia. Dan pada abad ke-18, masa kejayaan Perjalanan Besar, para pria terhormat dari seluruh Eropa melakukan perjalanan ke Italia untuk membeli sebanyak mungkin karya seni kuno.

Namun di abad 20, masa hidup karya seni antik Yunani berbelok ke arah yang lebih muram. Untuk memahami maksud saya, silakan tonton adegan pembukaan yang terkenal dari film dwilogi karya sutradara Leni Riefenstahl, Olympia (1938), yang mendokumentasikan Olimpiade Berlin, yang dikenal juga dengan nama "Olimpiade Nazi" yang digelar dua tahun sebelumnya.

Dengan latar belakang musik yang dramatis, kamera bergerak perlahan melintasi reruntuhan Akropolis di Athena, sebelum menatap lama beberapa patung kuno yang dipuja, menampilkan keindahan ideal dan kegagahan artistik. Akhirnya, dengan latar belakang terbalut kabut, kita melihat salah satu patung Yunani paling terkenal: sebuah patung seorang atlit yang sedang membungkuk, bersiap untuk melempar cakram. Bagi para penggemar karya seni kuno, patung ini dikenal dengan nama Discobulus (atau pelempar cakram).

Permukaan patung itu berkilauan minyak, meskipun seakan siap untuk bertanding, patung itu tiba-tiba mengabur di film itu. Ia lalu digantikan dengan seorang atlit yang mengambil pose serupa. Perlahan ia mulai berayun maju mundur, sebelum melontarkan cakram di tangannya dengan sepenuh tenaga. Pesan menggetarkan itu disampaikan dengan tegas dan puitis namun efisien: kejayaan Yunani Klasik lahir kembali di Nazi Jerman.

'Semangat dan keindahan'

Ketika saya membuat film untuk serial TV BBC tentang karya seni kuno Yunani, saya menemukan bahwa Riefenstahl dengan cerdas berfokus kepada Discobulus - mengingat Adolf Hitler bisa dibilang amat gandrung pada karya seni ini, ketimbang pada yang lain. Bahkan Hitler demikian mabuk kepayang olehnya, sehingga pada tahun 1938 ia membeli patung itu.

Discobulus aslinya dibuat dengan perunggu oleh empu Yunani, Myron, pada abad kelima SM, kini sudah lenyap (Kredit foto: Rotatebot/Wikipedia).
Keterangan gambar, Discobulus aslinya dibuat dengan perunggu oleh empu Yunani, Myron, pada abad kelima SM, kini sudah lenyap (Kredit foto: Rotatebot/Wikipedia).

Discobulus dalam film Riefenstahl sebenarnya merupakan sebuah tiruan dari marmer buatan Romawi, sedangkan patung aslinya terbuat dari perunggu yang dibuat oleh pematung Myron, salah seorang empu seni Klasik Yunani pada abad kelima sebelum Masehi. Myron sendiri dipuja untuk ketrampilannya dalam membuat karya seni dengan realisme yang menakjubkan, termasuk sebuah patung sapi dari perunggu di Akropolis. Untuk Discobulus, ia berkreasi dengan menangkap pose atlit saat beraksi. Untuk menghasilkannya, ia menggunakan komposisi berpilin yang kuat, menyiratkan beban energi yang terpendam.

Kini patung Myron yang hilang itu diketahui dari beberapa tiruannya yang terbuat marmer, termasuk yang dikenal sebagai 'Discobulus Towney' yang ada di British Museum. Ditemukan tahun 1791 di Vila Hadrian di Tivoli -namun direstorasi dengan keliru sehingga kepalanya menghadap ke arah yang salah- patung tersebut menjadi pusat dari sebuah pameran utama di British Museum yang berjudul Mendefinisikan Keindahan: Tubuh dalam Karya Seni Yunani Kuno.

Versi patung yang memperdaya Hitler adalah sebuah replika lain lagi yang dikenal dengan nama 'Discobulus Lancellotti', sesuai nama keluarga Italia yang pernah memilikinya. Ditemukan di sebuah rumah yang dimiliki oleh keluarga di Bukit Esquiline tahun 1781, patung itu kini berada di Museum Nasional di Roma.

Nazi Jerman terinspirasi oleh Yunani dan Romawi Kuno, dan Discobulus ditampilkan dengan mencolok dalam adegan pembukaan film karya Leni Riefenstahl, Olympia (Kredit foto: Tobis-Filmverleith).
Keterangan gambar, Nazi Jerman terinspirasi oleh Yunani dan Romawi Kuno, dan Discobulus ditampilkan dengan mencolok dalam adegan pembukaan film karya Leni Riefenstahl, Olympia (Kredit foto: Tobis-Filmverleith).

Hitler bukan pemimpin politik pertama dalam sejarah modern yang memandang karya seni Yunani sebagai simbol status yang ampuh: Napoleon, misalnya, terobsesi dengan patung Venus de’ Medici. Namun fakta bahwa Hitler -yang memiliki pandangan kuat tentang seni visual- demikian tergoda oleh Discobulus, memiliki arti yang penting.

Salah satunya, ia ingin dikaitkan dengan era ketika sebuah karya dihasilkan: abad kelima sebelum Masehi, yang dianggap sebagai masa keemasan sejarah Yunani Kuno ketika Athena di bawah Pericles menyaksikan pembangunan Parthenon. Tambahan lagi, ia berharap mewarisi nilai-nilai yang ia percaya dikandung oleh patung tersebut -harmoni, semangat dan keindahan ideal- yang berentangan dengan seni Modern yang ia anggap hina sebagai wakil dari "kemerosotan".

Pertunjukan keliling barang antik

Kesempatan Hitler untuk mendapatkan patung itu muncul tahun 1930 ketika keluarga Lancellotti menghadapi masa sulit dan menjual patung tersebut. Awalnya, patung itu sudah diincar oleh Museum Metropolitan di New York, tetapi harga yang diminta, delapan juta lira, dianggap terlalu mahal. Pada tahun 1937, Hitler menyatakan minatnya pada patung tersebut. Setahun kemudian, terlepas dari kekuatiran awal otoritas Italia karena patung tersebut akan dibawa ke luar Italia, Discobulus akhirnya terjual kepada Hitler dengan harga yang masih tinggi yaitu lima juta lira. Dengan didanai oleh Pemerintah Jerman ketika itu, uang disampaikan secara tunai kepada wakil keluarga Lancellotti di istana mereka.

Tiruan Discobulus dari marmer di British Museum direstorasi dengan keliru sehingga kepalanya menghadap ke arah yang salah (Kredit foto: The Trustees of the British Museum).
Keterangan gambar, Tiruan Discobulus dari marmer di British Museum direstorasi dengan keliru sehingga kepalanya menghadap ke arah yang salah (Kredit foto: The Trustees of the British Museum).

Pada akhir Juni 1938, Discobulus tiba di Jerman dan dipajang bukan di Berlin melainkan di museum Glyptothek di Munich. Pada tanggal 9 Juli, patung secara resmi diberi sebagai hadiah kepada rakyat Jerman. Hitler berpidato kepada kerumunan orang ketika itu, "Anda tidak boleh melewatkan Glyptothek, karena di sana Anda akan melihat betapa menakjubkan manusia dengan keindahan tubuhnya... dan Anda akan menyadari bahwa kita hanya bisa bicara tentang kemajuan ketika kita tak cuma memiliki keindahan seperti itu, tapi jika mungkin, melampauinya."

"Tanpa tradisi seni Klasik, ideologi visual Nazi akan sedikit berbeda," kata Profesor Rolf Michael Schneider dari Universitas Ludwig Maximilian, Munich. “Seperti halnya pemburu, mereka memburu obyek paling berharga -dan karena patung tak bisa menolak, mereka menggunakan Discobulus untuk kepentingan ideologi mereka yang jahat. Tubuh Arya yang sempurna, warna putih (dari marmer), keindahan, laki-laki kulit putih ideal: atau secara lugas, patung itu menjadi semacam citra diri Herrenrasse atau ‘ras unggulan’ – demikianlah Nazi menyebut diri mereka sendiri dan orang Jerman.”

Dengan kata lain, Discobulus menjadi model ideal bagi propaganda Nazi: sebagaimana dikatakan Ian Jenkins, kurator senior koleksi Yunani Kuno di British Museum, bahwa patung itu dipilih sebagai "sebuah trofi bagi mitos ras Arya". Dan sekalipun hanya berada di Jerman tak lebih dari satu dekade (pada tahun 1948 patung itu kembali ke Italia, dan dipajang di Museum Nasional di Roma lima tahun kemudian), waktunya masih akan lama sebelum noda cemar patung itu -akibat adanya keterkaitan dengan Hitler- bisa hilang.

Alastair Sooke adalah kritikus seni di The Daily Telegraph.

Beritanya dalam Bahasa Inggris bisa Anda baca <italic><link type="page"><caption> The Discobolus: Greeks, Nazis and the body beautiful</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20150324-hitlers-idea-of-the-perfect-body" platform="highweb"/></link></italic> di <link type="page"><caption> BBC Culture.</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>