Anwar Bernard, orang Indonesia yang ikut memilih Catalunya merdeka

Sumber gambar, Gildonesia
Anwar Bernard Kamawidjaja sudah siap ikut memilih "Si" atau "Ya" dalam referendum kemerdekaan Catalunya sejak tempat pemungutan suara dibuka namun terpaksa bolak-balik enam kali karena penuhnya TPS sebelum akhirnya bisa mencoblos.
"Saya pukul sembilan kurang sudah di tempat pemilihan di tempat saya tinggal di Mataro, tapi penuh ribuan orang. Saya balik lagi pukul 9.30, masih penuh... dan saya ke Barcelona (30 menit naik kereta), hujan besar, penuhnya bukan main...Saya coba dua kali tak berhasil, saya balik lagi ke Mataro, akhirnya baru pukul 6 sore bisa," cerita Anwar saat mengikuti referendum pada Minggu (01/10).
"Enam kali coba, hujan besar...berhasil juga, ya syukur," katanya lagi kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.
Anwar, yang saat ini berusia 71 tahun, tinggal di Barcelona sejak tahun 1977. Dia menjadi sekretaris pribadi dan penerjemah Josep Maria Batista i Roca, sejarawan, politisi dan budayawan asal Catalunya.

Sumber gambar, EPA
Sebelumnya, selama tujuh tahun Anwar juga menjadi penerjemah bahasa Jerman dan Prancis bagi Batista i Roca saat politisi Spanyol itu tinggal di pengasingan dan mengajar di Unversitas Cambridge, Inggris.
Ketegangan memuncak di Spanyol Rabu (04/10) setelah pemimpin Catalunya, Carles Puigdemont, dalam wawancara dengan BBC, bertekad wilayah itu akan memproklamirkan kemerdekaan dalam beberapa hari ini dan tidak mengindahkan peringatan dari Raja Felipe VI terkait stabilitas nasional yang terancam.
Raja Felipe VI menyebut gerakan kemerdekaan ini ilegal dan tak demokratik.
Pemerintah menetapkan kepolisian Catalan dan pemimpin prokemerdekaan untuk diselidiki karena dugaan "pengkhianatan" di tengah krisis politik terparah Spanyol dalam satu generasi.
Orang Indonesia pertama yang tinggal di Barcelona

Sumber gambar, JAUME CLOTET
Kawasan Catalunya --kawasan terkaya di Spanyol yang terletak di bagian timur laut negeri- mencakup resor Costa Brava, Pegunungan Pyrenees dan Barcelona sebagai ibu kota.
Gerakan kemerdekaan yang dipimpin oleh pemimpin daerah otonomi, Carles Puigdemont, menyatakan Catalunya memiliki hak ekonomi, politik dan budaya untuk menentukan nasib sendiri.
Para pendukung Catalunya merdeka merasa bahwa kawasan terkaya di Spanyol dengan penduduk 7,5 juta dan berbahasa Catalan berkontribusi banyak ke pemerintah pusat, namun apa yang diterima daerah Catalunya sangat sedikit.
Puluhan ribu warga Catalunya turun ke jalan memprotes langkah polisi yang mencoba membubarkan referendum hari Minggu lalu dengan melepaskan tembakan peluru karet ke arah massa.
Unjuk rasa ini menyebabkan ditutupnya jalan-jalan, transportasi publik dan bisnis.
Di kawasan Catalunya terdapat sekitar 180 orang Indonesia, termasuk pelajar. Sekitar 140 di antara mereka tinggal di Barcelona, menurut pejabat Kedutaan Besar RI di Madrid.
"Saya orang pertama dengan paspor Indonesia yang datang untuk tinggal di Barcelona ... Saya satu-satunya orang Indonesia yang ikut memilih referendum ini," kata Anwar, yang dibenarkan pihak KBRI melalui ketua diaspora Catalunya, Evelyne Triana Suwardi.
Saat ini ia telah menjadi warga negara Spanyol.
Terkaya tapi ditelantarkan

Sumber gambar, EPA
Selama hampir 40 tahun tinggal di Catalunya, Anwar merasa "kawasan ini diterlantarkan," walaupun merupakan daerah terkaya di Spanyol.
"Ini dilarang, itu dilarang, banyak larangan. Misalnya saya tinggal di kota kecil (Mataro), keretanya penuh, tua, sementara di Madrid infrastruktur bagus, sedangkan di sini..semuanya diperlambat... Di sini ditelantarkan. Alasannya ekonomi," kata Anwar, yang saat ini masih mengajar bahasa Indonesia di Casa Asia, Barcelona.
Sejumlah pertanyaan di media sosial BBC Indonesia terkait referendum kemerdekaan adalah "mengapa kawasan ini ingin merdeka walaupun tak ada alasan agama".
Dalam percakapannya dengan sejumlah pensiunan lain, Anwar mengatakan banyak dari mereka yang khawatir terkait dana pensiun dan tunjangan lain bila Catalunya merdeka.

"Kalau kata mereka, sudah pensiunan mereka tak dapat lagi pensiun dari Catalunya...mereka takut kalau Catalunya merdeka, uang pensiun tak ada, jaminan kesehatan berkurang dan lain sebagainya," kata Anwar.
Sebelum ke Barcelona, Anwar -yang sempat beberapa tahun mengambil jurusan pertambangan di ITB, Bandung- sempat tinggal di Prancis dan juga Jerman.









