
Aksi Park Jong-woo di London dianggap bermuatan politis.
Atlet-atlet Korea Selatan yang meraih medali di Olimpiade London diizinkan tidak mengikuti wajib militer, termasuk Park Jong-woo, yang menyulut kontroversi di London.
"Undang-undang militer kita menyebutkan bahwa juara satu, dua, dan tiga Olimpiade boleh tidak ikut wajib militer," kata Choe Kwang-shik, pejabat olahraga Korea Selatan kepada stasiun TV Chosun.
"Dia (Park Jong-woo) bersama tim sepak bola meraih perunggu," tambah Cho.
Pengecualian dari wajib militer bagi atlet-atlet berprestasi merupakan salah satu insentif yang ditawarkan pemerintah.
Wajib militer dua tahun adalah program wajib bagi semua warga negara Korea Selatan yang sehat jasmani dan rohani.
Kasus Park Jong-woo dilimpahkan ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) setelah tindakannya membawa poster bertuliskan "Dokdo adalah pulau kami" dianggap bernuansa politis, sesuatu yang dilarang di arena Olimpiade.
Pesan politik
Ia mempertunjukkan poster di lapangan setelah bersama timnya mengalahkan Jepang 2-0 untuk memperebutkan medali perunggu cabang sepak bola putra, hari Jumat (10/08).
Pulau Dokdo, yang di Jepang dikenal sebagai Takeshima, diperebutkan kedua negara dalam sepuluh tahun terakhir.
Park Jong-woo membawa poster ini hanya beberapa jam setelah presiden Korea Selatan mengunjungi pulau tersebut.
Selagi IOC menggelar investigasi, Park Jong-woo dilarang tampil di podium untuk menerima medali.
Kantor berita AFP memberitakan bahwa insiden Park Jong-woo di London bukan aksi yang direncanakan.
Menurut pejabat di asosiasi sepak bola Korseal (KFA), Park Jong-woo mendapatkan poster ini dari seorang penonton di stadion.
KFA dilaporkan telah mengirim surat ke asosasi sepak bola Jepang berisi penyesalan atas insiden ini.
Bagaimanapun Presiden IOC Jaques Rogge telah mengatakan bahwa aksi Park Jong-woo jelas mengandung pesan politik.






