Jakarta Biennale 2015, maju kena mundur kena

Digelar sampai Januari tahun depan, Jakarta Biennale 2015 menyoroti berbagai persoalan mutakhir, mulai isu perkotaan, perempuan, sejarah hingga lingkungan.

Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Mural berjudul 'Bhoneka tinggal luka' karya seniman asal Aceh, Idrus bin Harun, menceritakan perjalanan politik Aceh sejak era 1980-an. "Saat ini sedang terjadi proses transisi yang sangat hebat, tapi saya tidak tahu apakah akan Aceh berhasil melaluinya," kata Idrus.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Peter Robinson, seniman New Zealand, mengubah relasi kuasa antara batas 'seni' dan bukan. Melalui Syntax System, dia mengundang pengunjung pameran dan publik untuk terlibat dalam proses penciptaan karya seni—menjadi penentu apa itu ‘seni’.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Sebelum berkarya, seniman mural asal Semarang, Annisa Rizkiana Rahmasari, tinggal bersama korban penggusuran di Kalimalang, Bekasi, serta melakukan riset mendalam. Dia berharap karya muralnya ini "dapat menimbulkan empati di masyarakat".
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Setu Legi, pekerja seni asal Yogyakarta, pendiri Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi, berdiri di depan karya lukisan dan instalasinya. Diberi judul "Masa depan tenggelam dalam masa silam", Setu menyoroti soal pola konsumsi energi kita yang disebutnya masih bergantung pada minyak bumi.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Lima anak muda yang tergabung Jakarta Wasted Artists (JWA) berburu plang lawas di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. "Sebagai upaya pengarsipan," begitu alasan mereka. Dengan mengarsip, lanjut JWA, "kami hendak memetakan sejarah viusal perkotaan --khususnya daerah Tebet."
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Di depan karya instalasi bambu (berjudul "Manusia asing") karya seniman Jonas Sestakresna, para perupa menggelar semacam seni pertunjukan. Dipimpin oleh seniman asal Bandung (dan kini menetap di Yogyakarta), Arahmaiani (kelahiran 1961), pertunjukan ini menyoroti budaya kekerasan --yang diberi judul "Jangan ada lagi kekerasan II".
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Alit Ambara selama ini getol membuat dan mengedarkan poster-poster propaganda. Alit, yang dikenal pula sebagai aktivis, membuat poster yang kerap bicara soal gejolak politik, HAM, dan pergerakan sosial.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Sejumlah mural karya lima seniman perempuan muda menghiasi tembok gudang Sarinah di kawasan Pancoran, Jaksel. Mereka adalah Cut Putri, Aprilia Apsari, Wonderyash, Sanchia T.Hamidjaja, serta Marishka Soekarna. Mereka juga membuat mural di sejumlah tempat di Jakarta.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Selain memamerkan karya-karya seni para perupa, Jakarta Biennale 2015 juga menggelar workshop. Seniman asal Bandung kelahiran 1961, Arahmaiani (kiri) memberikan materi tentang seni melawan budaya kekerasan kepada sejumlah mahasiswa.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Jakarta Biennale 2015 digelar di gudang milik Persero Sarinah di kawasan tidak jauh dari patung Pancoran, Jakarta Selatan. Biennale ini digelar sejak 1974 dan menjadi saksi kelahiran gerakan seni rupa baru Indonesia.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, "Kami melawan kebisingan dengan kebisingan --yang kreatif," kata Yoyok Karyono dari kelompok "Melawan Kebisingan kota". Memanfaatkan barang bekas dan rongsokan, mereka menciptakan bunyi-bunyian.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Tita Salina, seniman kelahiran 1973, mengumpulkan sampah laut di sekitar kawasan Pantai Indah Kapuk dan Muara Angke. Lalu sampah itu dikelolanya menjadi pulau buatan yang diberi nama "Pulau 1001".
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, "Menjamu tamu" adalah lukisan cat minyak karya perupa asal Aceh, Iswadi Basri. Melalui karya-karyanya, pria kelahiran 1977 di Pidie ini mencoba berbicara tentang komersialisasi air. "Air tanah itu milik siapa?" Iswadi seolah bertanya melalui lukisannya ini.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Konstruksi segi empat berdinding kawat besi adalah karya instalasi seniman Spanyol, Juan Perez Agirregoikoa (kelahiran 1963). Dia menyoroti tentang ketakutan akan pendatang dan nasionalisme sempit.
Jakarta Biennale 2015
Keterangan gambar, Menggunakan medium dinding hitam dan kapur putih, seniman asal Rumania, Dan Perjovschi menolak bentuk-bentuk otoritas lingkaran seni biasa. "Ide-ide rumit menemukan bentuk yang sederhana dalam karya Perjovschi," demikian kurasi atas karyanya.