Seni bersiasat di Jakarta Biennale 2013

Pameran seni Jakarta Biennale kali ini melihat bagaimana warga berinovasi dan menyesuaikan diri dengan kehidupan kota yang seolah tanpa pemerintahan.

biennale
Keterangan gambar, Instalasi Realis Tekno Museum, karya Ace House Collective, dipamerkan di Taman Ismail Marzuki sebagai salah satu lokasi pameran Jakarta Biennale 2013. Pameran ini adalah hajat dua tahun sekali para pekerja seni ibu kota. Foto-foto: Christine Franciska.
biennale
Keterangan gambar, Seorang bocah tampak serius mengamati foto kolase yang dibuat oleh Yogi Kusuma dalam 'pesta seni' yang digelar 09 hingga 30 November ini. Tema Biennale kali ini, Siasat, disiasati seniman dengan memilih berpameran di ruang parkir bawah tanah Gedung Teater Jakarta sebagai upaya mengakali ruang.
biennale
Keterangan gambar, Tari Sweet Dreams Sweet karya Melati Suryodarmo menampilkan 30 penari berseragam sekolah dan selendang serba putih di kepala menyorot kemajemukan yang dipaksakan yang kini subur di tengah masyarakat. "Ke mana pun mereka berjalan, mereka bertaut dan melakukan koreografi yang sama berulang-ulang," kata sang sutradara.
biennale
Keterangan gambar, Menyoroti agresi militer di tanah airnya, Palestina, seniman Khaled Jarrar menampilkan dirinya sebagai tentara yang berdiri diam selama 60 menit. "Dia menjelma menjadi tentara yang sudah dicuciotak sedemikian rupa oleh negara sehingga patuh buta," demikian penjelasannya dalam katalog pameran.
biennale
Keterangan gambar, Kelompok seni Tranzit dari Republik Ceko menampilkan proyek presentasi Encyclopedia of Failure dengan berbagai dimensi. Mereka mencoba melihat praktik berkesenian di negaranya yang terkadang 'salah tempat-salah zaman.'
biennale
Keterangan gambar, Seniman asal Kenya, Jimmy Ogonga, menampilkan instalasi foto berjudul Silence of the Lamb. Terinspirasi dari film berjudul sama, Ogonga mencoba melihat kenaifan warga. "Warga jadinya begitu reaksioner merayakan setiap terobosan, tetapi abai pada gambaran besar di balik itu." (Foto: Dokumentasi Jakarta Biennale)
biennale
Keterangan gambar, Mufti Priyanka dari Indonesia mencorat-coret dinding pameran dengan berbagai konsep keluarga bahagia. Dia menyoroti peran iklan-iklan televisi yang seolah-oleh dapat "menciptakan kelurga bahagia lewat produk-produk mereka." Keluarga bisa bahagia, misalnya dengan bertamasya dengan mobil terbaru, bertelepon dengan ponsel pintar, dan berbelanja di pusat perbelanjaan mewah.
biennale
Keterangan gambar, Seniman lain, Naripati Awangga mencoba menyiasati kemacetan Jakarta dengan berbagai hiburan elektronik bagi penumpang ojek. Dia memodifikasi helm dengan menambahkan layar, keyboard dan webcam, sehingga orang yang dibonceng bisa mendengarkan lagu, melihat peta, menonton video, dan berkaroke sambil menunggu macet.
biennale
Keterangan gambar, Fotografer Anton Ismael ikut meramaikan pameran dengan istalasinya yang berjudul Belajar Bekerja. Ia mempertanyakan fungsi sekolah formal di dunia kerja: apa pentingnya sekolah formal jika pendidikan nonformal bisa menuntun seseorang memiliki karier yang diinginkan?
biennale
Keterangan gambar, Beberapa pengunjung ikut membuat karrya seni dalam proyek Gedung Idaman yang dibuat Serrum dan Dinas Artistik Kota. Pengunjung bisa memodifikasi desain gedung KPK atau Mahkamah Konstitusi dengan warna-warni spidol.
biennale
Keterangan gambar, Seni interaktif dibuat oleh Yusuf Ismail yang membuat instalasi video berjudul In The Name of Futile Gesture. Video yang dilengkapi dengan sistem kinect ini merespon gerakan-gerakan pengunjung.
biennale
Keterangan gambar, "Loyalitas tanpa batas belum tentu naik ke atas," tulis Rizky Aditya Nugroho dalam muralnya. Ini merupakan kritik bagi para pekerja di ibukota di tengah tuntutan kerja yang semakin banyak dan semerawutnya jalanan ibukota.