Menceritakan sejarah dengan rasa

Papermoon Puppet Theater menggelar pementasan Secangkir Kopi dari Playa di Jakarta, Senin (30/09). Kisah cinta berlatar tahun 1965 ini berupaya menggali rasa dari peristiwa sejarah yang masih penuh tanda tanya ini.

Sebuah pementasan yang dibawakan oleh Papermoon Puppet Theater, Senin (30/09), di Goethe Haus Jakarta, menghadirkan sebuah konsep berbeda. Penonton diajak ikut serta dalam bagian dari cerita berjudul Secangkir Kopi dari Playa, yang berlatar peristiwa pembantaian komunis pada 1965. Foto-foto: Christine Franciska.
Keterangan gambar, Sebuah pementasan yang dibawakan oleh Papermoon Puppet Theater, Senin (30/09), di Goethe Haus Jakarta, menghadirkan sebuah konsep berbeda. Penonton diajak ikut serta dalam bagian dari cerita berjudul Secangkir Kopi dari Playa, yang berlatar peristiwa pembantaian komunis pada 1965. Foto-foto: Christine Franciska.
Sebelum pentas, penonton diajak untuk menjadi bagian cerita. Seorang pria berkemeja cokelat yang berperan sebagai pemandu wisata menggiring penonton untuk menjadi 'pengunjung museum dadakan'. "Peserta tur Museum Pahit Manis? Mari ikut saya," katanya sembari mengantar semua orang naik bus menuju 'museum'.
Keterangan gambar, Sebelum pentas, penonton diajak untuk menjadi bagian cerita. Seorang pria berkemeja cokelat yang berperan sebagai pemandu wisata menggiring penonton untuk menjadi 'pengunjung museum dadakan'. "Peserta tur Museum Pahit Manis? Mari ikut saya," katanya sembari mengantar semua orang naik bus menuju 'museum'.
Di dalam museum, para pengunjung diajak ke sebuah ruangan berisi barang-barang antik. Selagi pemandu wisata bercerita soal benda-benda sejarah, tiba-tiba: "Pop!" Lampu mati, pemandu wisata menghilang, dan dimulailah sebuah pementasan teater boneka.
Keterangan gambar, Di dalam museum, para pengunjung diajak ke sebuah ruangan berisi barang-barang antik. Selagi pemandu wisata bercerita soal benda-benda sejarah, tiba-tiba: "Pop!" Lampu mati, pemandu wisata menghilang, dan dimulailah sebuah pementasan teater boneka.
Secangkir Kopi dari Playa bercerita tentang sepasang kekasih yang terpisah di era kepemimpinan Soekarno, karena sang lelaki mendapat kesempatan untuk belajar ke Rusia. Sebelum berangkat, pemuda ini mengikat janji untuk pulang dan menikahi sang kekasih.
Keterangan gambar, Secangkir Kopi dari Playa bercerita tentang sepasang kekasih yang terpisah di era kepemimpinan Soekarno, karena sang lelaki mendapat kesempatan untuk belajar ke Rusia. Sebelum berangkat, pemuda ini mengikat janji untuk pulang dan menikahi sang kekasih.
Namun peristiwa pembantaian komunis pada 1965 membuat sang pemuda kehilangan kewarganegaraan karena hidup di negara komunis dan dituduh beraliran kiri. Ia tak dapat pulang ke Indonesia dan kehilangan kontak dengan sang kekasih yang dicintainya.
Keterangan gambar, Namun peristiwa pembantaian komunis pada 1965 membuat sang pemuda kehilangan kewarganegaraan karena hidup di negara komunis dan dituduh beraliran kiri. Ia tak dapat pulang ke Indonesia dan kehilangan kontak dengan sang kekasih yang dicintainya.
Ada empat puppeteer dalam pertunjukan yang tak hanya berperan menjadi penggerak boneka tetapi juga ikut bermain dalam kisahnya. Pada babak ini misalnya, puppeteer ikut bahagia merayakan pernikahan sang perempuan dengan kekasih barunya di Indonesia, ketika kekasih lamanya tak kunjung pulang dari Rusia.
Keterangan gambar, Ada empat puppeteer dalam pertunjukan yang tak hanya berperan menjadi penggerak boneka tetapi juga ikut bermain dalam kisahnya. Pada babak ini misalnya, puppeteer ikut bahagia merayakan pernikahan sang perempuan dengan kekasih barunya di Indonesia, ketika kekasih lamanya tak kunjung pulang dari Rusia.
Selama 40 tahun berlalu, sang lelaki tetap memilih tidak menikah, demi memenuhi janjinya pada kekasih. Ketika orde baru runtuh, dia akhirnya berhasil memperoleh visa dan pulang ke Indonesia. Di kampung halaman, dia selalu naik bus dengan trayek yang sama dengan jurusan yang dulu selalu ditempuh sepasang kekasih itu dengan harapan, ia akan berjumpa dengannya.
Keterangan gambar, Selama 40 tahun berlalu, sang lelaki tetap memilih tidak menikah, demi memenuhi janjinya pada kekasih. Ketika orde baru runtuh, dia akhirnya berhasil memperoleh visa dan pulang ke Indonesia. Di kampung halaman, dia selalu naik bus dengan trayek yang sama dengan jurusan yang dulu selalu ditempuh sepasang kekasih itu dengan harapan, ia akan berjumpa dengannya.
Cerita ini diangkat oleh Papermoon Puppet Theater dari kisah nyata seorang ahli metalurgi asal Indonesia di Kuba yang tetap tak menikah karena janji setianya. Bagi sutradara, ini adalah sebuah cara lain untuk melihat sejarah peristiwa 1965. "Kita kadang menjadi bangsa yang cepat lupa. Ini adalah mengingat dengan cara yang lain," kata Iwan Effendi.
Keterangan gambar, Cerita ini diangkat oleh Papermoon Puppet Theater dari kisah nyata seorang ahli metalurgi asal Indonesia di Kuba yang tetap tak menikah karena janji setianya. Bagi sutradara, ini adalah sebuah cara lain untuk melihat sejarah peristiwa 1965. "Kita kadang menjadi bangsa yang cepat lupa. Ini adalah mengingat dengan cara yang lain," kata Iwan Effendi.
Selain pertunjukan, di Museum Pahit Manis, pengunjung juga diajak untuk melihat kumpulan barang-barang pribadi yang ingin dilupakan. Barang-barang ini dikumpulkan dari calon penonton yang sebelumnya mendaftar untuk mendapatkan tiket.
Keterangan gambar, Selain pertunjukan, di Museum Pahit Manis, pengunjung juga diajak untuk melihat kumpulan barang-barang pribadi yang ingin dilupakan. Barang-barang ini dikumpulkan dari calon penonton yang sebelumnya mendaftar untuk mendapatkan tiket.
Salah satunya, adalah sebuah termometer yang diberikan oleh seorang penonton ini. Konsep pertunjukan yang dibalut cerita "Museum Pahit Manis" ini sengaja dibuat agar penonton merasakan hal yang berbeda. "Ini cara kita bermain-main dengan ruang. Penonton tanpa sadar sudah dilibatkan sejak mereka diajak naik bus," kata sutradara Maria Tri Sulistyani.
Keterangan gambar, Salah satunya, adalah sebuah termometer yang diberikan oleh seorang penonton ini. Konsep pertunjukan yang dibalut cerita "Museum Pahit Manis" ini sengaja dibuat agar penonton merasakan hal yang berbeda. "Ini cara kita bermain-main dengan ruang. Penonton tanpa sadar sudah dilibatkan sejak mereka diajak naik bus," kata sutradara Maria Tri Sulistyani.
Maria Tri Sulistyani (kiri) dan Iwan Effendi (kanan) pertama kali mementaskan kisah ini pada 2011 lalu di Yogyakarta. Pertunjukan kali ini merupakan gelaran pertama di Jakarta. "Sulit mencari sponsor untuk pertunjukan karena harus ditampilkan di ruang rahasia dengan jumlah penonton hanya 30 orang saja," kata Iwan.
Keterangan gambar, Maria Tri Sulistyani (kiri) dan Iwan Effendi (kanan) pertama kali mementaskan kisah ini pada 2011 lalu di Yogyakarta. Pertunjukan kali ini merupakan gelaran pertama di Jakarta. "Sulit mencari sponsor untuk pertunjukan karena harus ditampilkan di ruang rahasia dengan jumlah penonton hanya 30 orang saja," kata Iwan.
Secangkir Kopi dari Playa merupakan satu dari tiga judul pementasan Papermoon Theater yang mengangkat latar sejarah tahun 1965. Sejarah bagi mereka adalah sebuah landasan yang membentuk kehidupan tiap orang hari ini. "Kita ingin menceritakan sejarah yang biasanya didiskusikan dengan otak, dengan pendekatan yang lain, yaitu dengan rasa," kata Maria.
Keterangan gambar, Secangkir Kopi dari Playa merupakan satu dari tiga judul pementasan Papermoon Theater yang mengangkat latar sejarah tahun 1965. Sejarah bagi mereka adalah sebuah landasan yang membentuk kehidupan tiap orang hari ini. "Kita ingin menceritakan sejarah yang biasanya didiskusikan dengan otak, dengan pendekatan yang lain, yaitu dengan rasa," kata Maria.