Sampah kota yang dibuang sayang

Ada 5.000 hingga 6.000 ton sampah dari DKI Jakarta yang dibuang ke Bantar Gebang per hari. Namun, berapa banyak yang sudah bisa dikelola?

bantar gebang
Keterangan gambar, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang memiliki lahan seluas 110 hektar. Sampah sebanyak 5.000 hingga 6.000 ton dibuang per hari. Seluruhnya adalah sampah-sampah yang berasal dari DKI Jakarta saja. (Foto-foto oleh Christine Franciska)
bantar gebang
Keterangan gambar, Bau sampah yang bercampur air serta gas metan yang dihasilkan, sudah tak lagi mengganggu para pemulung. "Sudah biasa," katanya. Menurut pengamat sampah, Sri Bebassari, hanya ada dua TPST yang memenuhi standar paling minimal pengelolaan sampah, yaitu TPST di Bantar Gebang dan Balikpapan.
bantar gebang
Keterangan gambar, Ribuan pemulung mencari 'harta' ditumpukan sampah ini. Menurut pengelola, ada sekitar 500 ton sampah per hari yang diambil oleh pemulung untuk dijual ke pengumpul, seperti plastik, kaca, kayu, kardus, kasur, busa, hingga tulang-tulang hewan.
bantar gebang
Keterangan gambar, Para pemulung harus mengambil kesempatan disela-sela proses pemindahan sampah baru oleh buldozer dan beko. "Kalau tidak berebut begitu, ya kita tidak dapat apa-apa. Sampah lama sudah tidak ada isinya," kata seorang pemulung.
bantar gebang
Keterangan gambar, Selain dimanfaatkan oleh pemulung, sampah-sampah dikelola oleh manajemen dengan membangun pabrik pengolahan kompos yang dibuat dari sampah-sampah pasar. "Hanya sampah dari pasar saja, kami belum berani pakai sampah warga karena rentan bahan B3," kata Lumbantorua, pengelola TPST Bantar Gebang.
bantar gebang
Keterangan gambar, Pembangunan pabrik pupuk dilakukan dalam upaya mereduksi sampah yang semakin menggunung. Pada 2004 lalu, TPST ini nyaris ditutup karena dianggap tak mampu lagi menampung sampah. Warga sekitar pun mengeluhkan bau tak sedap dan pencemaran lingkungan yang disebabkan penumpukan sampah.
bantar gebang
Keterangan gambar, Seorang pegawai memasukan pupuk ke dalam karung untuk selanjutnya disimpan dalam tempat penyimpanan. Pabrik ini diklaim memiliki produksi terbesar dibandingkan dengan TPST lain di Indonesia.
bantar gebang
Keterangan gambar, Dalam pabrik yang berada dalam kompleks TPST Bantar Gebang ini, sebanyak 300 ton kompos dihasilkan per hari. Produknya disalurkan untuk program bantuan pupuk bagi petani miskin.
bantar gebang
Keterangan gambar, Selain pabrik pupuk, pengelola memanfaatkan gas metan yang dihasilkan dari sampah untuk diubah menjadi listrik. Gas metan dari landfill dialirkan melalui pipa-pipa besar menuju tempat pemrosesan.
bantar gebang
Keterangan gambar, Petugas tampak memperbaiki jaringan kabel di pembangkit listrik yang menghasilkan 10 MW per jam. Listrik tersebut dijual ke Perusahaan Listrik Negara dan diklaim dapat menerangi sekitar 9.000 rumah tangga.
bantar gebang
Keterangan gambar, Ada juga pabrik pengolahan plastik yang mengolah 30 ton sampah plastik menjadi bijih plastik. Sayangnya, pengolahan sampah listrik, pupuk, dan plastik, yang dibarengi dengan pemanfaatan sampah oleh pemulung, hanya dapat mereduksi sampah sebesar 20% saja. Sementara 80% sisanya harus ditumpuk di landfill yang saat ini ketinggian rata-rata sudah mencapai 20 meter.
bantar gebang
Keterangan gambar, Banyak kekurangan yang harus diperbaiki seperti sistem pengelolaan air dan gas hingga persoalan pemulung. Walau begitu, banyak juga yang sudah dicapai. "Dulu tidak satu pohon pun tumbuh, ada satu miliar lebih lalat-lalat, sekarang sudah ada 200 pohon yang tumbuh," kata Lumbatorua.
bantar gebang
Keterangan gambar, Pada awal Juni ini, Bantar Gebang meraih piala Adipura sebagai tempat pengolahan sampah terbaik di Indonesia. Namun pengamat sampah, Sri Bebassari mengatakan belum ada TPST di Indonesia yang sudah betul-betul ideal. "Harus ada perubahan pola pikir. Masalahnya biaya kebersihan baru sekitar Rp20.000 per rumah tangga padahal idealnya Rp100.000. Teknologi pengolahan sampah itu mahal."