Warga diancam tindakan hukum karena dituding mengganggu Proyek Strategis Nasional
BBC Global China Unit telah mengidentifikasi setidaknya 62 proyek pertambangan di seluruh dunia yang sahamnya dimiliki perusahaan-perusahaan China dan dirancang untuk mengekstraksi litium atau salah satu dari tiga mineral lain yang penting bagi teknologi ramah lingkungan - kobalt, nikel, dan mangan.
Salah satunya berlokasi di Pulau Obi yang terletak di kawasan timur Indonesia. Sebuah tambang yang dimiliki bersama oleh perusahaan China, Lygend Resources and Technology, serta perusahaan raksasa pertambangan Indonesia, Harita Group, dengan cepat menelan hutan di sekitar Desa Kawasi.
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) - organisasi non-pemerintah yang mengadvokasi persoalan tambang di Indonesia - mengatakan bahwa penduduk desa berada di bawah tekanan untuk pindah dan menerima kompensasi dari pemerintah. Dalam program Pemerintah Daerah Halmahera Selatan, seluruh warga Desa Kawasi akan direlokasi ke kawasan Ecovillage Kawasi yang pembangunannya dilakukan oleh Harita Group.
Simak juga:
Namun puluhan keluarga menolak untuk pindah, dengan alasan skema ganti rugi yang dirasa tidak adil. Warga pun protes dengan memasang patok dan baliho penolakan. Akibatnya, sejumlah warga mengatakan mereka diancam dengan tindakan hukum karena dituding mengganggu Proyek Strategis Nasional.
Jatam mengatakan hutan-hutan telah ditebang untuk dijadikan lahan tambang dan mereka telah mendokumentasikan bagaimana sungai dan laut dipenuhi sedimen sehingga mencemari laut.
"Air sungai sekarang tidak bisa diminum, sudah terkontaminasi, dan air laut yang biasanya berwarna biru jernih berubah menjadi merah saat hujan," kata Nur.
Namun Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Selatan Samsu Abubakar, mengatakan kepada BBC tidak ada keluhan yang diterima dari masyarakat mengenai kerusakan lingkungan. Sementara Harita sendiri mengatakan kepada BBC bahwa mereka "mematuhi dengan ketat praktik bisnis yang etis dan hukum setempat" serta "terus berupaya mengatasi dan memitigasi dampak negatif apa pun".