You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Lagu terlarang: Kisah musisi Aceh yang karyanya dibredel di tengah konflik bersenjata
Konflik bersenjata di Aceh pada 1976-2005 yang merenggut puluhan ribu nyawa, tak hanya mengakibatkan trauma mendalam bagi warga Aceh, tapi juga diwarnai dengan represi di bidang seni musik. Sejumlah lagu karya seniman lokal dibredel oleh otoritas militer kala itu.
Reformasi pada 1998 menjadi tonggak sejarah tumbangnya Orde Baru. Seniman lokal Aceh yang turut dalam euforia lengsernya pemerintahan Soeharto, menciptakan lagu sebagai medium kritik sosial.
Namun, ekspresi para seniman tersebut disambut dengan pembredelan lagu-lagu karya mereka oleh oleh penguasa darurat militer.
Simak juga:
- Musisi Aceh yang karyanya dibredel militer di tengah konflik bersenjata - 'Disangkakan kita jadi propaganda GAM'
- 'Disetrum, digantung dengan kaki di atas di Rumoh Geudong', trauma anak muda Aceh
- 'Kami dijadikan tameng, setiap saat siap mati' - Kesaksian tentara Indonesia yang pernah ditugaskan di seputar kompleks ExxonMobil, Aceh
Sejumlah seniman dipanggil, dimintai klarifikasi, disusul dengan razia terhadap sejumlah kaset.
Salah satu dari seniman yang mendapat pengalaman tak mengenakan itu adalah Cut Aja Rizka. Dia adalah guru tari kelahiran Aceh yang kini berdomisili di Jakarta. Kala itu, dia menjadi bagian dari proyek album fenomenal pada tahun 2000.
Album ini fenomenal lantaran hadir di tengah eskalasi pergolakan konflik bersenjata, ketika warga Aceh masih terbenam dalam suasana kegagalan referendum yang terjadi setahun sebelumnya.
Namun, ribuan kaset pita album yang diedarkan di Aceh pada waktu itu telah melampaui kegunaannya sebagai media hiburan.
Album tersebut tidak merujuk pada nama grup musik tertentu, diterbitkan hanya dalam bentuk judul saja yaitu Nyawöung.
Video produksi: Silvano Hajid, Hidayatullah, Rino Abonita.