Petani pengukur curah hujan: Menjadi peneliti mandiri untuk menghadapi perubahan iklim

Keterangan video, Sekelompok petani di Indramayu belajar agrometeorologi untuk menghindari gagal panen.

Sejak 2009, sekelompok petani di Indramayu, Jawa Barat, rutin mengukur dan mencatat curah hujan setiap pagi untuk menentukan strategi tanam di tengah perubahan cuaca yang makin tidak menentu.

Curah hujan adalah kunci dalam pertanian, khususnya tanaman padi, yang sangat bergantung pada keberlimpahan air.

Perubahan iklim dan cuaca yang semakin tidak menentu membuat banyak petani gagal panen akibat salah menentukan strategi tanam di awal musim.

Kalender musim yang digunakan dari generasi ke generasi kini semakin tidak akurat dan tidak lagi relevan digunakan sebagai panduan.

Menyikapi hal tersebut, sekelompok petani di Indramayu mempelajari ilmu agrometeorologi dengan harapan mampu mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem yang tidak terduga.

Secara tekun, sejak 2009 para petani yang bernaung dalam Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI), setiap hari mengukur dan mencatat curah hujan yang terjadi di lahan pertanian milik mereka.

"Dari evaluasi itu ada eksperimen-eksperimen yang kita lakukan, yaitu dengan eksperimen varitas, eksperimen tanah, eksperimen pupuk kompos… Dibahas juga kenapa produksi berkurang, kenapa meningkat," ujar Nurkilah, ketua PPTPI saat ditemui BBC News Indonesia di Indramayu.

Pendampingan oleh para ilmuwan dilakukan sejak awal untuk membekali para petani dengan metode ilmiah dalam pengumpulan dan pengolahan data.

Setelah belasan tahun, kini mereka sudah mampu menganalisis secara mandiri data yang mereka catat dan kumpulkan setiap hari.

Yunita T Winarto, profesor emeritus antropologi di Universitas Indonesia sekaligus pendamping kelompok ini, mengatakan: "Saya kagum dengan kemampuan mereka melakukan analisa, dan antisipasi, dan mengambil keputusan. Bahwa mereka masih memiliki semangat, dan juga masih bisa melakukan evaluasi seperti yang kita saksikan bersama. Itu suatu kelegaan, suatu rasa gembira."

Hasilnya, berbagai cuaca ekstrem berhasil dilalui tanpa harus mengalami kegagalan panen. Saat ini, Indramayu menempati posisi pertama sebagai produsen padi terbesar di Indonesia dengan jumlah 1,3 juta ton gabah kering pada 2021. Video produksi: Anindita Pradana dan Muhammad Irham