Menit-menit mematikan di Stadion Kanjuruhan: Cerita para saksi
Tembakan gas air mata yang dilepaskan aparat keamanan ke arah tribun di Stadion Kanjuruhan, Malang, disebut para saksi mata menjadi biang kerok yang menyebabkan kepanikan.
Imbasnya, setidaknya 125 orang meninggal serta lebih dari 300 orang lainnya luka-luka.
Simak juga:
- 'Suara tembakan gas air mata banyak banget, penonton ada yang diinjak', kesaksian penonton Arema-Persebaya yang berujung pada kerusuhan
- Tragedi Stadion Kanjuruhan: Kisah pilu di Pintu 13 dan 14 - 'Seperti kuburan massal, banyak anak kecil, banyak perempuan meninggal'
- Tragedi Stadion Kanjuruhan: Menit-menit mematikan, 'jeritan, tergeletak pingsan, tak bernyawa' di tengah 'lautan asap gas air mata', cerita para saksi dari sejumlah tribun
Stadion Kanjuruhan memiliki 14 tribun (pintu masuk) kelas ekonomi dan satu tribun VIP.
Lautan awan putih akibat gas air mata disebut menutupi wilayah bagian tribun 10-14 di sisi selatan stadion yang dipenuhi dengan orang tua, balita, anak-anak, dan kelompok remaja.
Wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau mewawancarai sejumlah saksi yang menceritakan menit-menit mematikan Sabtu lalu (01/10) itu dari beragam posisi para penonton.
Video produksi: Raja Eben Lumbanrau, Silvano Hajid dan Arvin Supriyadi
