Konflik industri sawit: Janji plasma dari 'buah emas'

Keterangan video, Janji plasma dari 'buah emas'

Investigasi yang dilakukan oleh BBC, The Gecko Project, dan Mongabay menemukan bahwa masyarakat berpotensi kehilangan triliunan rupiah setiap tahun, karena perusahaan sawit gagal memenuhi kewajiban mereka membangun plasma, seperti yang dimandatkan oleh undang-undang.

Salah satu masyarakat yang harus mereguk pahit kerja sama plasma adalah Suku Anak Dalam di Tebing Tinggi, Sumatra Selatan, atau yang juga disebut Orang Rimba.

Mereka mengaku menyerahkan lahan kepada sebuah perusahaan sawit pada 1995, yang menurut mereka menjanjikan kesejahteraan di masa depan.

Simak juga:

Setelah tiga generasi, tanah mereka telah berganti menjadi perkebunan sawit, namun Orang Rimba justru dipenjara dan hidup dalam kemiskinan. Suku Anak Dalam mengaku tidak pernah menerima sepeser pun keuntungan yang dijanjikan dan bahkan harus hidup menumpang di kebun orang.

"[Tanah adat itu] diserahkan pada perusahaan, tapi nyatanya nggak ada dikembalikan lagi ke kami, sudah diambil semua. Janji ini tadi, bohong," lanjut Mat Yadi, Kepala Suku Anak Dalam.

Tidak hanya Suku Anak Dalam, kemitraan plasma sawit juga berujung konflik di berbagai wilayah di Indonesia, seperti yang terjadi di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Di sana, warga mengaku hanya mendapat bagi hasil yang sangat rendah, dan harus terlilit utang hingga ratusan juta rupiah akibat kesepakatan plasma yang tidak sesuai undang-undang.

Simak kisah selengkapnya di YouTube BBC News Indonesia.

Tim produksi video:

Produser: Astudestra Ajengrastri dan Muhammad Irham

Kameraman: Haryo Wirawan

Video Editor: Lesthia Kertopati dan Haryo Wirawan

Grafis : Aghnia Adzkia, Arvin Supriyadi dan Davies Surya