Kekerasan '65 di Aceh: Kisah tragis Thaib Adamy, petinggi PKI di Serambi Mekkah

Keterangan video, Kekerasan '65 di Aceh: Kisah tragis pemimpin PKI di Serambi Mekkah

"Tembak saya di kepala... Kuburkan saya sendiri, supaya anak-anak saya bisa lihat kuburan saya..."

Di hadapan sang eksekutor yang siap dengan pistolnya, Thaib Adamy mengucapkan pesan terakhir sebelum ajal menjemputnya. Dia berujar perlahan dalam bahasa Aceh.

Sejurus kemudian terdengar bunyi "dor!". Gaungnya memecah kesunyian malam di salah satu sudut di kawasan Lhoknga, kira-kira 20km dari kota Banda Aceh.

Peristiwa horor itu terjadi 56 tahun silam, ketika huru-hara politik setelah peristiwa G30S 1965, melahirkan kekejaman brutal di Aceh.

Simak juga:

Para elite Partai Komunis Indonesia (PKI) di provinsi itu, juga kadang kala keluarganya, berikut anggota, simpatisan, atau semata-mata dikaitkan atau difitnah, diburu dan dibantai.

Tidak ada data resmi berapa jumlah yang mati dibunuh atau hilang di Aceh, meskipun dokumen militer yang beredar menyebut sekitar 2.000 orang.

Namun peneliti dari Australia, Jess Melvin, dalam penelitiannya yang dibukukan pada 2018 lalu, yakni The Army and the Indonesian Genocide, memperkirakan jumlahnya kemungkinan mencapai 10.000 jiwa.

Dan, Thaib Adamy, salah seorang pimpinan PKI di Aceh, saat itu adalah salah seorang target utamanya.

Setelah peristiwa G30S pada awal Oktober 1965, pria kelahiran kota Idi di pesisir timur Aceh ini ditangkap dalam perjalanan ke Takengon, Aceh Tengah. Lantas dia dieksekusi di Lhoknga.

"Dia tidak dipenggal [kepalanya]... tidak [dikubur] dalam lubang besar," ungkap salah seorang anaknya, Setiady, dalam kesaksiannya kepada BBC News Indonesia, akhir Oktober lalu.

Setiady, anak keempat dari sembilan bersaudara ini, butuh sekian tahun untuk berani bersuara di hadapan publik.

Selama bertahun-tahun dia memilih mengubur dalam-dalam tragedi yang menimpa keluarganya.

Ini adalah video bagian pertama mengenai penelusuran dan pengungkapan kisah kekerasan '65 di Aceh.

Diproduksi oleh:

Reporter dan produser: Heyder Affan

Videografer dan video editor: Anindita Pradana

Ilustrasi: Heyder Affan dan tim BBC East Asia Visual Journalism