You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Sejarah Gerwani sebagai organisasi perempuan progresif pasca peristiwa G30S
Setelah meletusnya peristiwa G30S, propaganda Orde Baru melalui surat kabar, buku pelajaran hingga film populer, membuat berbagai kelompok masyarakat mengalami stigma yang melekat bahkan hingga kini.
Salah satunya Gerwani, atau Gerakan Wanita Indonesia, yang merupakan organisasi perempuan terbesar di Indonesia pada tahun 1965.
Organisasi yang berhaluan sosialis-feminis ini mengalami fitnah seksual secara bertubi-tubi, dengan digambarkan sebagai 'kelompok perempuan asusila dan kejam'.
Simak juga:
Bagaimana sejarah organisasi ini yang sebenarnya?
Gerwis — yang pada 1954 berganti nama menjadi Gerwani — mencurahkan perhatian pada masalah pemberantasan buta huruf dan pendirian sekolah.
"Banyak perempuan yang tidak bisa baca, tidak bisa tulis apa-apa dan orang Gerwani membantu. Anggota Gerwani juga selalu aktif di dalam perjuangan di dalam rumah tangga," ungkap Saskia Wieringa, antropolog Universitas Amsterdam di Belanda, yang bertahun-tahun meneliti tentang Peristiwa 65.
Organisasi itu juga menuntut perlunya hak-hak perempuan, termasuk tentang poligami.
Tak hanya berfokus pada isu perempuan, Gerwani juga menjadi organisasi paling aktif dalam politik nasional juga isu internasional.
Pada 1964, pemerintah Indonesia menginstruksikan organisasi massa agar mengikatkan diri pada partai politik.
Gerwani — yang berideologi feminis dan sosialis — menyatakan diri berada dalam kubu komunis, yang akan diresmikan dalam kongres yang digelar Desember 1965.
Namun, kongres itu urung digelar, Peristiwa 65 meletus dan sejak saat itu Gerwani "dihancurkan".
Propaganda yang berpusat pada "penyimpangan seksual anggota Gerwani", serta penggambaran PKI sebagai ateis dan anti-nasionalis tak hanya memicu pada pembunuhan massal orang-orang berhaluan kiri, tapi juga penghancuran gerakan perempuan progresif di Indonesia.
"Saya rasa sesudah propaganda [Joseph] Goebbels [Menteri Penerangan Publik dan Propaganda Nazi Jerman] dalam Perang Dunia II tentang orang Yahudi, propaganda terhadap Gerwani adalah yang mungkin lebih efektif lagi, karena mungkin 50 tahun sesudah itu terjadi orang masih percaya. Sampai sekarang pun Gerwani punya nama jelek," kata Saskia.
Video produksi: Ayomi Amindoni dan Anindita Pradana