Memaknai 'jihad': Kisah pertobatan tiga 'eks kombatan' ISIS di Suriah
“Setidaknya, saya ingin berguna," ujar Wildan Bahriza, mengingat kembali alasannya berangkat ke Suriah pada 2013 lalu, di mana ia mengaku, untuk menjadi relawan kemanusiaan.
Wildan, kala itu berusia 22 tahun, merupakan salah satu generasi pertama dari Indonesia yang berangkat ‘berjihad’ dan bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS di Suriah.
Namun saat tiba di sana, ia mengaku dihadapkan dengan kenyataan yang tidak terbayangkan sebelumnya, termasuk menyaksikan anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban kekejaman perang saudara.
Simak juga:
Pada 2014, Wildan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dua tahun kemudian, dia menjalani hukuman penjara atas keterlibatannya dengan organisasi teroris. Setelah itu, ia mengalami titik balik dan mengikuti program deradikalisasi.
Wildan adalah salah satu dari tiga laki-laki, beserta Abu Farros dan Syahrul Munif, yang menceritakan kesaksian mereka masing-masing terpapar gerakan ekstremisme, menyadari kesalahan mereka, dan kini berusaha memaknai 'jihad' dengan cara berbeda.
"Kedamaian yang jauh dari peperangan adalah sebuah hal yang luar biasa mahalnya," ujar Wildan.
Video diproduksi oleh: Dwiki Marta dan Heyder Affan

