Di balik layar pertemuan pelaku pengeboman dan keluarga korban
Ada banyak pertanyaan yang diajukan warganet setelah menonton dan membaca tentang pemberitaan pertemuan antara pelaku pengeboman dan anak-anak korban. Beberapa pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah 'mengapa anak-anak korban mau memaafkan' dan 'bagaimana proses peliputan'.
Endang Nurdin, wartawan BBC News Indonesia, mengakui momen paling mengharukan adalah saat menyaksikan Garil Arnandha dan sang ibunda, Endang Isnanik datang untuk pertama kalinya ke Monumen Bom Bali I.
Ayah Garil merupakan satu dari 202 korban pengeboman di dua bar di Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002.
"Jadi untuk pertama kalinya Garil datang saat peringatan ke-17 Bom Bali I dan perjalanan dari penginapan ke monumen yang hanya berjarak 10 meter itu sangat berat," ujar Endang, yang mengaku ikut menangis haru menyaksikan hal itu.
Simak juga:
Rasa haru itu tidak hanya dirasakan Endang saat wawancara, namun hingga meramu hasil liputan. "Saya kembali menangis saat mentranskrip hasil wawancara dan menulis artikelnya," tutur Endang.
Sementara salah satu momen menegangkan yang dihadapi tim peliput adalah saat berhasil mendapatkan akses masuk ke Lapas Batu di Nusa Kambangan.
"Di sana, petugas lapas mengenakan penutup wajah, karena itu berisiko tinggi dan kami diminta langsung merapat ke tembok jika narapidana teroris melakukan tindak mencurigakan," kata Endang.
Jurnalis video BBC News, Haryo Bangun Wirawan menambahkan, bahwa tidak ada rekayasa dalam peliputan ini. "Semua yang terekam adalah apa yang terjadi di lapangan," imbuhnya.
Pertemuan antara pelaku dan keluarga korban merupakan bagian dari program 'deradikalisasi unik' yang diharapkan pemerintah dapat melunakkan hati orang-orang yang masih memiliki paham radikalisme.
Video produksi: Silvano Hajid
