Nelayan Natuna: 'Ketakutan' saat bertemu nelayan asing di laut Indonesia
Para nelayan Natuna mengatakan mereka dikejar, diusir, dan bahkan ada yang ditabrak kapal asing.
Kabupaten Natuna adalah bagian dari Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan kepulauan paling utara di selat Karimata. Wilayah perairan Natuna kerap menjadi sumber ketegangan antara Indonesia dan China karena wilayah tersebut merupakan irisan wilayah yang diklaim sebagai laut milik China dan Zona Ekonomi Eksklusif milik Indonesia.
Asoy, Budiman dan Sudiro adalah beberapa nelayan asal Natuna yang kerap bertemu dengan kapal nelayan asing saat tengah mencari ikan di perairan Natuna
Simak juga:
Mereka mengaku keberadaan nelayan asing cukup mengganggu aktivitas penangkapan ikan, karena mereka sering merasa tidak aman saat bekerja di zona yang berada di laut lepas itu.
"Banyak kejadian seperti ini yang terjadi, bahkan ada yang hampir tenggelam dan hancur. Saya merasa terasing di daerah sendiri," kata Budi.
Pada akhir Desember 2019, ketegangan terjadi saat kapal-kapal nelayan China yang dikawal oleh kapal Penjaga Pantai China diketahui memasuki wilayah ZEE Indonesia dan mengambil ikan di wilayah tersebut. Pihak China berasalan wilayah tersebut merupakan wilayah historis mereka dengan merujuk pada klaim berdasarkan sembilan garis putus-putus. Klaim ini tidak diakui Indonesia dengan alasan bersifat unilateral dan tidak memiliki dasar hukum.
Pengamat sosial ekonomi maritim dari Universitas Maritim Raja Ali Haji di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Khodijah Ismail, mengatakan pelanggaran tersebut karena rendahnya pengawasan dari aparat keamanan Indonesia.
"Akibatnya bukan hanya menimbulkan ancaman sosial ekonomi tapi juga ancaman nyawa. Ketika mereka melaut, armada mereka kecil, armada asing besar. Mereka takut," kata Khodijah yang melakukan riset terhadap kesejahteraan nelayan tradisional Natuna.
Saat ini ketegangan antara Indonesia dan China telah mereda. Namun pengamat menilai eskalasi dapat terjadi sewaktu-waktu karena China berkeras mempertahankan klaim batas wilayahnya yang bersinggungan dengan laut Natuna.
"Harapan kita, supaya laut aman, bukan untuk saya, bukan untuk generasi sekarang, tapi ke depan, anak cucu kita karena ikan itu kan kita punya harta," kata Asoy.