Bagaimana nasib anak-anak ISIS yang menjadi yatim piatu?

Keterangan video, Anak-anak 'ISIS': Bagaimana mereka kembali pulang?

Amira baru berusia lima tahun saat dibawa keluar Inggris. Orang tuanya adalah militan ISIS. Kini, dia beserta dua adiknya, Hamza dan Heba, berada di sebuah kamp penahanan di Suriah utara. Mereka kini yatim piatu.

Ayah dan ibu Amira tewas dalam sebuah serangan udara di Baghouz, benteng terakhir ISIS di Suriah.

"Suatu pagi, ada serangan udara, satu tenda terkena bom," kata Amira, mengenang hari-hari terakhirnya di Baghouz.

"Ayah menyuruh kami keluar dan membawa benda-benda penting. Namun saat kami hendak keluar, pesawat pengebom datang. Ibu saya meninggal," tambahnya.

Simak juga:

Bukan hanya ibunya, Amira juga kehilangan dua adik dan kakak laki-lakinya.

Kini dia, dua adiknya yang masih hidup dan 21 anak yatim piatu lainnya harus menunggu nasib. Mereka tidak bisa begitu saja dipulangkan ke negara asal.

Ada banyak tahapan diplomatik yang harus dilakukan, termasuk menetapkan dokumen yang menunjukkan identitas orang tua dan kerabat yang bisa merawat mereka di negara asal.

Di sisi lain, beberapa negara telah menyatakan tidak akan mengambil risiko dengan mengirimkan orang untuk menyelamatkan anak-anak yang tertahan di kamp-kamp tersebut.

BBC telah menginformasikan kondisi Amira, Hamza dan Heba kepada pemerintah Inggris. Namun, dengan masuknya pasukan Turki ke Suriah, proses penyelamatan anak-anak yatim piatu tersebut, menjadi semakin rumit.