Satu tahun gempa dan tsunami di Palu: Para orang tua yang masih mencari anak mereka
Satu tahun berlalu sejak gempa, tsunami, dan likuefaksi menghantam Palu. Mereka yang selamat melanjutkan hidup, namun ada pula yang masih terus mencari keluarga yang hilang.
Micha Mantong, adalah salah satunya.
Putrinya, Windy, hilang saat bencana datang dan belum ditemukan hingga kini. Tapi Micha yakin, Windy selamat.
"Ada saksi yang bilang dia bertemu Windy. Saya tunjukkan fotonya dan mereka meyakini itu dia. Jadi kami makin yakin bahwa memang anak kami selamat," ujarnya.
Simak juga:
- Pelecehan seksual yang dialami anak penyintas gempa dan tsunami Palu: Percobaan perkosaan sampai pengintipan di kamar mandi
- Kisah korban tsunami Palu: 'Tergulung ombak dan kehilangan istri' hingga 'kami butuh keluar, tolong, tolong!'
- 'Fenomena gunung es' pernikahan anak di pengungsian pasca tsunami Palu
Hal serupa diutarakan Yoma Wewengkang, ibunda Dian.
"Tuhan punya kuasa dan perasaan batin saya meyakini anak saya masih ada," katanya.
Di sisi lain, ada juga yang memilih membuka lembaran baru. Yunus, salah satunya. Penyandang tunanetra berusia 50 tahun itu selamat dari likuefaksi yang menelan rumahnya. Namun, istri, anak dan cucunya tertelan bumi.
Jenazah ketiganya ditemukan 45 hari setelah bencana.
"Setelah ketemu jenazah, saya sudah puas. Saya bisa melanjutkan hidup," tutur Yunus, yang kini tinggal di hunian sementara bersama anak bungsunya yang tuli.
Sementara itu, sebagian besar lokasi yang terdampak bencana sengaja dikosongkan, tidak dibangun kembali. Pemerintah menetapkan wilayah itu dalam zona merah yang tidak boleh dihuni.
Namun, tetap saja sebagian warga kembali. Mereka mendirikan warung di lokasi yang sama. Ekonomi jadi alasan mereka.
"Jika tidak begini, dari mana kami dapat penghasilan, anak-anak mau dikasih makan apa?" kata Wati, yang kembali berjualan di tepi Pantai Talise, lokasi terjadinya tsunami.
Video produksi : Silvano Hajid dan Dwiki Marta.

