Kerusuhan Papua: Mencari solusi kerusuhan terkait isu rasialisme di Bumi Cenderawasih
Insiden terkait rasialisme pada mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, pertengahan Agustus lalu, memicu serangkaian kericuhan di beberapa kota di Papua dan Papua Barat.
Sejumlah bangunan dan fasilitas publik rusak dan terbakar akibat kericuhan itu. Tidak berhenti sampai di situ, kericuhan itu berbuntut aksi balasan dari 'warga pendatang' di Papua.
Simak juga:
Terjadi razia di jalan-jalan yang menimbulkan trauma dan bahkan terjadi penyerangan ke asrama mahasiwa di Jayapura pada awal September. Beberapa orang dilaporkan terluka dan satu orang meninggal dunia.
Kelompok hak asasi manusia kemudian menyerukan investigasi terhadap kematian setidaknya delapan warga sipil dalam kerusuhan Papua dan Papua Barat belum lama ini. Di sisi lain, berbagai pihak menuding keterlibatan 'milisi' di balik gesekan antara warga Papua dan pendatang.
Meski diklaim sudah kondusif, potensi konflik horizontal dan aksi demonstrasi lanjutan menuntut referendum, dikhawatirkan masih mungkin terjadi.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan untuk meredam bara konflik di Bumi Cenderawasih? Wartawan BBC News Indonesia, Ayomi Amindoni dan Anindita Pradana berkunjung ke Jayapura untuk mencari tahu solusi dari konflik tersebut.

