Dying to Divorce: Film dokumenter soroti fenomena pembunuhan perempuan di Turki, incar Piala Oscar

Sumber gambar, Dying to Divorce
"Jangan tembak tangan saya, saya tidak akan bisa mengurus anak-anak saya."
Itu adalah kata-kata terakhir Arzu Boztaz sebelum sang suami menembaknya berulang kali. Sedemikian parah cedera Arzu, kedua kakinya harus diamputasi dan lengannya tidak bisa berfungsi.
Kisah Arzu adalah satu dari sekian cerita yang dipaparkan dalam Dying to Divorce, film dokumenter andalan Inggris untuk bersaing di Piala Oscar dalam kategori film fitur internasional terbaik dan film dokumenter terbaik.
Sutradara film tersebut, Chloe Fairweather, menghabiskan lima tahun membuat film mengenai maraknya pembunuhan terhadap perempuan alias femisida di Turki.
Sedikitnya satu dari tiga perempuan Turki mengalami kekerasan domestik, yang merupakan angka tertinggi di antara negara-negara perekonomian maju.
Menurut catatan sejumlah kelompok pelindung HAM di Turki, setidaknya 345 perempuan telah dibunuh sepanjang 2021.
'Menghancurkan hidup saya'
Arzu dilukai ketika dia dan suaminya hendak menuju pengadilan untuk bercerai.
Arzu berkata ayah dari keenam anaknya itu ketahuan punya gundik dan sepakat bercerai. Namun, dia berubah pikiran dan memohon agar tidak bercerai.
Pada hari ketika mereka seharusnya resmi berpisah, pria tersebut tiba dengan membawa senapan.
Baca juga:
Arzu mengenang rangkaian kejadian yang menimpanya: "Dia bilang: 'Tiarap di lantai dan buka kakimu. Saya tidak akan menembak atau membunuhmu, saya hanya akan membuatmu merangkak.'"
Ketika Arzu menolak, suaminya menembak kedua kakinya.
"Saya tidak memohon agar dia tidak menembak saya, saya memohon agar tangan saya jangan diapa-apakan," kata Arzu.
"Saya bilang: 'Jangan tembak kedua tangan saya, saya tidak akan bisa mengurus anak-anak saya'.
"Saya bilang: 'Meskipun saya memakai kursi roda, saya bisa mengurus anak-anak saya tapi apa yang bisa saya lakukan jika saya tidak punya tangan?'"

Sumber gambar, Dying to Divorce
Seperti dikisahkan Arzu, suaminya menarik tangannya dan menembak kedua tangannya.
Sejak kejadian itu, kedua kaki Arzu harus diamputasi dan tangannya tidak bisa digunakan.
"Dia menghancurkan hidup saya," ujar Arzu

Sumber gambar, Dying to Divorce
Ayah Arzu, Ekrem Cansever, mengaku "merasa bersalah" karena mendorong putrinya tersebut untuk menikah pada usia 14 tahun.
"Saya merasa bersalah menikahkan dia pada usia muda. Saya menghancurkan hidup anak saya. Mengapa saya melakukannya? Lalu kenapa kalau itu sudah tradisi?"
Baca juga:
Sementara itu, suami Arzu, Ahmet Boztas, mengemukakan sesuatu dari dalam Penjara Yozgat.
"Saya tidak akan berbuat sejauh itu, tapi dia telah menghina martabat saya."
Dia lantas menyalahkan pemerintah. "Sebenarnya hukum di Turki yang membuat kami berada dalam posisi itu, perempuan didorong berbuat salah atas nama hak-hak mereka…
"Pada akhirnya pria yang menderita."
Boztas kini harus mendekam di penjara selama 20 tahun, sebagaimana dinyatakan hakim pengadilan.

Sumber gambar, Dying to Divorce
Kubra Eken adalah perempuan lain yang hidupnya tak lagi bisa dikenali setelah diserang pria yang dulu dia sayangi.
Kubra sempat menjadi pembawa acara berita untuk stasiun televisi Bloomberg di London sebelum bertemu suaminya dan kembali ke Turki untuk menikah.
Dia mengalami pendarahan otak dan dibiarkan lumpuh selama dua hari setelah melahirkan putrinya.
Kubra mengaku suaminya, Neptun, memukulnya sebanyak empat kali di bagian kepala dalam suatu pertengkaran. Kejadian itu, menurut Neptun, dipicu oleh operasi Caesar yang dijalani Kubra.
Baca juga:
Film dokumenter ini mengikuti perjalanan hidup Kubra 2,5 tahun setelah pendarahan otak. Dia hidup bersama orang tuanya, menggunakan kursi roda, dan kembali belajar berjalan.
Dia belum bertemu putrinya lagi sejak cederanya itu. Orang tua Kubra mengatakan dia diberi hak menjumpai putrinya selama tiga hari dalam sepekan, namun keluarga Neptun tidak memperbolehkan.

Sumber gambar, Dying to Divorce
"Setiap kali Kubra menyaksikan ibu dan anak di televisi, dia tak bisa ditenangkan. Mereka selalu berkata akan mendatangkan putrinya tapi kemudian mereka tidak melakukannya. Kubra patah hati," papar ibu Kubra.
Baca juga:
Film ini mengikuti perjuangan Kubra dalam memperoleh hak asuh. Bahkan penonton bisa melihat bagaimana Kubra belajar bicara lagi agar bisa memberi kesaksian di pengadilan.
Pada akhir sidang, hakim akhirnya memvonis suami Kubra bersalah melakukan penyerangan dengan hukuman penjara selama 15 bulan.
'Sistem yang tidak adil'
Ipek Bozkurt, selaku pengacara Kubra, adalah seorang pegiat antikekerasan domestik. Dia telah mendukung banyak perempuan dengan kisah serupa. Atas aksinya tersebut, Ipek mengaku khawatir ditahan karena terlalu vokal menentang sistem hukum di Turki.
"Negara ini melindungi para pembunuh yang suka menghukum istri mereka, putri mereka, atau kekasih mereka yang ingin memiliki hal-hal berbeda dalam hidup yang tidak dipunyai sebelumnya," tutur Ipek.
"Anda melihat betapa tidak adilnya sistem ini dan harus dilawan," imbuhnya.

Sumber gambar, Dying to Divorce
Organisasi Amnesty International menilai sistem yudisial Turki mengabaikan persidangan yang adil serta menerapkan hukum antiterorisme dengan tafsiran nan luas untuk menghukum tindakan-tindakan yang dilindungi hukum HAM internasional.
Wartawan, politikus, pegiat, pengguna meda sosial, dan pembela HAM, menurut Amnesty International, mengalami perundungan secara yudisial atas tindakan mereka yang memang membangkang atau dianggap membangkang.
Pada Maret lalu, Turki bahkan mengabaikan kesepakatan internasional yang berupaya mencegah, mengadili, dan memberantas kekerasan rumah tangga.
Kalangan konservatif Turki berpendapat, prinsip-prinsip kesetaraan gender dan non-diskriminasi dengan alasan orientasi seksual telah merusak nilai-nilai keluarga serta mengusung homoseksualitas.
Sutradara film tersebut, Chloe Fairweather, dan Sinead Kirwan selaku produser, menghabiskan lima tahun bolak-balik Turki untuk mengikuti upaya para perempuan dalam mencari keadilan pada masa penuh pergolakan di negara tersebut.
Kudeta gagal pada Juli 2016, yang kemudian ditanggapi dengan referendum pada 2017, memberikan kewenangan pada Presiden Recep Tayyip Erdogan di berbagai bidang, termasuk hukum.
'Tak diunggulkan'
Chloe mengaku masalah pendanaan dan proses hukum panjang yang dilalui para tokoh dalam film dokumenternya adalah "jalan sulit". Dia terkadang khawatir film garapannya tidak akan bisa rampung.
"Ada begitu banyak momentum dalam pembuatan film ini karena kami merasa kisah-kisah begitu penting untuk disaksikan khalayak luas," paparnya.
"Para perempuan [dalam film ini] amat menginspirasi. Mereka mengubah hidup mereka, bergerak maju, mengatasi tantangan luar biasa, dan terus kuat dalam menghadapi tantangan-tantangan itu."

Sumber gambar, Dyign to Divorce
Ketika mendengar bahwa film dokumenter ini akan mewakili Inggris di dua kategori dalam Piala Oscar ke-94, seluruh kru begitu terkejut.
"Tentu kami kaget. Reaksi saya: 'Apa? Apa? Serius?'," kata Chloe.
"Saya merasa sedikit pinggiran ketika kami membuat film seperti ini, benar-benar bukan unggulan. Jadi kami sangat kaget tapi juga sangat gembira film ini mendapat pengakuan semacam ini. Tentu topik ini akan diakui sebagai topik yang amat penting."









