Bercocok tanam di atap Masjid Jami Baitussalam, ikhlas untuk sosial dan 'kemakmuran masjid'

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
- Penulis, Ayomi Amindoni
- Peranan, Wartawan BBC News Indonesia
Kepadatan penduduk telah melucuti ruang komunal dan lahan pertanian produktif di ibu kota. Di sisi lain, pandemi Covid-19 telah membuat perekenomian terpuruk.
Pandemi Covid-19 sejak setahun terakhir telah membuat banyak orang kehilangan mata pencaharian, termasuk Sofyan, yang bekerja di bidang jasa pembuatan paspor.
"Kan kerjaan itu bergerak di pariwisata, otomatis berdampak banget kalau pariwisata itu," tutur Sofyan kepada BBC News Indonesia, Minggu (10/04).
Namun Sofyan tak sendirian.
Sejumlah jemaah Masjid Jami Baitussalam yang berlokasi di Keagungan, Tamansari, Jakarta Barat, juga mengalami hal serupa.
Di awal pandemi, virus corona juga telah menghentikan operasional masjid - yang berdiri di sana sejak tahun 1960-an - membuatnya menjadi sepi tanpa pemasukan untuk biaya operasional.
Hingga akhirnya, salah seorang pengurus masjid mencetuskan ide memberdayakan jemaah yang kehilangan pekerjaan, dalam aktivitas bercocok tanam tanpa tanah - atau hidroponik - dengan memanfaatkan lahan seluas sekitar 200 m2 di atap masjid.
Ini sekaligus menandai dimulainya Masjid Baitussalam Farm (MB Farm). Sofyan menjadi ketua kelompok petani yang aktif di kebun hidroponik tersebut.
"Kita kan awalnya jemaah aktif di Masjid Baitussalam ini, akhirnya setiap ada kegiatan di masjid saya ikut berpartisipasi, ikut membantu."
"Apalagi ini karena Covid-19, main hidroponik, otomatis saya langsung terjun main hidroponik ini," ujar pria berusia 47 ini menuturkan awal mula dirinya beralih profesi menjadi petani hidroponik.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Pencetus ide pembuatan kebun hidroponik di atap Masjid Baitussalam adalah Dwi Sudaryono.
Pria yang menjabat sebagai Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Baitussalam ini menuturkan motivasinya mencetuskan gagasan tersebut.
"Sebenarnya ide awalnya memang selain untuk mencari kesibukan bagi para pengurus DKM dan jamaah, ada juga supaya ada sumbangsih ke masjid dan juga untuk petaninya sendiri," jelas Dwi.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
"Jadi banyak jamaah yang kena PHK, lagi kosong, bisa diberdayakan di atas. Keuntungan ini bisa menyumbang masjid, pengurus atau petaninya bisa mendapatkan hasil daripada tidak ada kegiatan, jadi ada income tambahan," ujarnya kemudian.
Bercocok tanam dengan hidroponik dipilih karena menurutnya "sangat mudah dan tidak memerlukan lahan yang besar". Di sisi lain, sayuran yang ditanam lebih cepat dipanen.
"Saya pikir sangat sederhana dan cepat panen, 20-25 hari sudah menghasilkan panen," kata Dwi.
Saat ini, telah ada enam sistem hidroponik di atap masjid dengan total lebih dari 2.000 lubang yang dapat ditanami sayur caisim, pakcoy, kangkung dan selada.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Belajar dari internet
Awalnya, para petani yang aktif di MB Farm tak memiliki pengetahuan sama sekali tentang hidroponik.
Ilmu tentang bercocok tanam hidroponik, kata Sofyan, didapatnya dari internet sambil langsung mempraktikannya di atap masjid.
"Ya pasti ada kegagalan lah, pas penyemaian itu kita kurang maksimal, pakai nutrisi atau pakai air," katanya, menceritakan kegagalan yang ia alami pada awal MB Farm berdiri.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Kendati begitu, Sofyan mengatakan bahwa bercocok tanam dengan hidroponik sangat mudah. Akan tetapi, lokasi kebun hidroponik di atap masjid, menurutnya, menciptakan tantangan tersendiri.
"Sebenarnya sih gampang kalau main hidroponik. Mungkin tiap hari kita cek air, nutrisi. Mungkin kalau di atas sini kan terkendala cuaca, ada angin kenceng, hujan," kata dia, seraya menambahkan bahwa sayuran organik dari kebun hidroponik biasanya bebas pestisida, higienis, dan aman bagi kesehatan.
Lebih lanjut Sofyan menambahkan, bibit sayuran disemai terlebih dulu selama empat hari.
Setelah itu, tanaman dipindahkan ke sistem dan dipanen setelah 20 hari.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Muhammad Faizin, petani hidroponik yang juga menangani segala kegiatan peribadatan dan syiar keagamaan di Masjid Baitussalam, mengatakan bahwa tujuan utama dari MB Farm adalah untuk sosial.
Namun seiring jumlah sistem hidroponik yang kian bertambah, bercocok tanam di atap masjid dipandang memiliki potensi ekonomi.
"Artinya, setelah kita perbanyak sistemnya hasilnya kalau untuk kalangan sendiri sudah terlalu banyak. Jadi awalnya kita bagi ke masyarakat, akhirnya ada pikiran ide bagaimana untuk dipasarkan," kata Faizin.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Pemasaran terkendala
Para petani kemudian memasarkan sayuran yang mereka panen dengan berbagai cara, mulai dari mulut ke mulut, media sosial, hingga lewat pengumuman masjid.
"Kami siarkan di acara salat Jumat, kita tidak segan-segan tawarkan pada jemaah, dan ini kan masuk unit usaha masjid, bahwa masjid punya dagangan nih, sayuran, caisim, kangkung dan lain sebagainya," jelas Faizin.
Setiap dua minggu, MB Farm bisa memproduksi sekitar 10-20 paket sayuran organik. Paket-paket ini masing-masing dijual seharga Rp10.000 dengan berat sekitar 400 gram.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Sayangnya, sayuran organik masih sedikit diminati warga lantaran harganya yang lebih mahal ketimbang sayuran yang biasa dijual di pasar.
"Karena memang dari disparitas harga ini sangat jauh. Kalau di pasaran, harga caisim itu dibawah Rp10.000 sekilo, tapi kita jual Rp25.000, disparitas harganya jauh," aku Faizin.
Faizin yang juga bertugas sebagai ketua tim pemasaran MB Farm, terpaksa harus memutar otak agar produknya bisa dipasarkan di supermarket dan pusat perbelanjaan modern.
"Kalau bisa maksimal, kita bisa masuk ke mall-mall. Apalagi kita nempel dengan [Mall] Grand Paragon. Mereka juga jual produk-produk hidroponik, harganya Masya Allah sampai Rp60.000 per kilo," kata dia.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
"Artinya, pintu masuk sudah ada. Tinggal bagaimana nanti kita untuk bisa mengembangkan dan menjaga mutu dari produk kita ini," ujar Faizin kemudian.
Untuk menambah penghasilan, para petani berencana menjual jus dari sayuran organik hasil kebun yang dicampur dengan madu dan nanas.
"Jadi mungkin di awal Ramadan ini kita akan coba tidak semata-mata jualan ini, tapi pasca panen juga akan kita jadikan komoditas lain seperti jus sayur, yang harganya lebih menjanjikan," ujar Faizin.
"Mudah-mudahan bisa laku di bulan Ramadan ini," katanya.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Ikhlas demi kemakmuran masjid
Sofyan menambahkan, saat ini sayuran organik dari MB Farm baru dipasarkan ke sejumlah pedagang yang menjajakan dagangannya di sekitar masjid, seperti penjual bakso, mie ayam, dan warung makan.
"Otomotis kita potong lebih murah. Daripada barang kita numpuk, yang penting terjual untuk menambah semangat teman-teman. Kalau barang kita numpuk di sini kan kaya kita tambah nggak semangat," aku Sofyan.
Lebih lanjut Sofyan menjelaskan, selama empat bulan terakhir biaya operasional masjid seperti air untuk wudlu, telah dapat dicukupi dari hasil penjualan sayur.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni
Namun, bagi para petani, keuntungan dari penjualan sayur baru bisa untuk "jajan", belum untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Kendati begitu, Sofyan mengaku ikhlas menjalani aktivitasnya di kebun hidroponik, demi "kemakmuran masjid".
"Kalau buat kemakmuran teman-teman belum maksimal banget sih."
"Mungkin kita dari rupiah nggak terima, Insya Allah Tuhan yang balas kerja keras kita di MB Farm ini," cetusnya.













