Kesehatan anak: Melawan stunting dengan motor dan daun kelor

Mozi Masagi

Sumber gambar, CANDRA YANUARSYAH/Antarafoto

Keterangan gambar, Motor Gizi (Mozi) Masagi bertujuan meningkatkan status gizi balita di keluarga yang penghasilannya terdampak Covid-19.
    • Penulis, Pijar Anugerah
    • Peranan, BBC News Indonesia

Dampak ekonomi dari pandemi membuat banyak keluarga kesulitan memberikan makanan bergizi kepada anak, yang dapat berujung pada gagal tumbuh atau stunting. Beberapa organisasi swadaya masyarakat turun tangan untuk membantu; salah satu dari inisiatif tersebut adalah Motor Gizi (Mozi) yang diprakarsai Dompet Dhuafa.

Pagi hari sekitar pukul 09.00, Faza Fauzan menyalakan motornya. Sambil menunggu mesinnya panas, pemuda berusia 24 tahun itu memasang boks makanan ke motornya - mirip dengan yang biasa digunakan restoran untuk layanan pesan-antar.

Tak lama kemudian, ia mengendarai motornya ke rumah seorang warga di Kelurahan Ciwalen, Kabupaten Garut, tempat banyak kader Posyandu sedang memasak. Setelah selesai memasak, para kader memasukkan makanan yang telah dikemas ke dalam boks di motor Faza.

Sekitar pukul 10.00, Faza berangkat untuk membagikan makanan tersebut ke keluarga-keluarga yang membutuhkan di 14 RW di Kelurahan Ciwalen.

Faza adalah salah satu relawan Motor Gizi Masagi (Mozi Masagi), program pemberian makanan bergizi bagi anak balita yang diprakarsai oleh lembaga amal Dompet Dhuafa.

Kepada BBC News Indonesia, Faza mengatakan kedatangan motornya setiap hari selalu dinanti-nanti oleh masyarakat penerima manfaat.

"Kadang-kadang [anak balita] nunggu di luar rumah, nunggu sama ibunya. 'Mana ya boks Masagi-nya belum pada dateng?'" kata Faza.

Faza Fauzan

Sumber gambar, Faza Fauzan

Keterangan gambar, Faza Fauzan (paling kanan) berpose di depan Motor Gizi bersama tokoh masyarakat dan kader kesehatan.

'Sempurna luar-dalam'

Nama Masagi mengandung dua makna. Selain merupakan singkatan dari Makanan Sarat Gizi, nama itu juga merupakan kata dalam bahasa Sunda yang berarti 'sempurna luar-dalam'.

Masagi mewakili esensi dari program Motor Gizi, yaitu pemenuhan kebutuhan gizi balita agar ia tumbuh menjadi pribadi yang sehat serta mencegah gagal tumbuh atau stunting.

Koordinator Mozi Masagi, Ernawati, menjelaskan bahwa Kelurahan Ciwalen dipilih untuk proyek percobaan program ini karena pernah menjadi daerah dengan angka stunting tertinggi di Kabupaten Garut pada 2018.

Angka stunting di kelurahan itu sempat turun hingga di bawah 20% pada 2020 namun, berdasarkan data yang diperoleh Posyandu setempat, ada indikasi jumlah kasus stunting akan kembali naik akibat pandemi virus corona.

Ernawati mengatakan bahwa program ini pada dasarnya merupakan aksi kepedulian di masa pandemi.

"Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, terdampak ke semuanya termasuk ke ekonomi. Dan stunting akan menjadi suatu momok yang terus mengancam.

"Yang status gizinya tadinya baik akan berubah menjadi buruk karena dampak ekonomi yang dirasakan keluarganya.... Untuk makan saja susah, apalagi untuk makanan bergizi."

Masyarakat menerima makanan dari program Mozi Masagi.

Sumber gambar, Faza Fauzan

Keterangan gambar, Manfaat program Mozi Masagi dirasakan sebagian masyarakat penerima sejak minggu pertama.

Dimulai pada penghujung Februari, program Mozi Masagi terdiri dari dua fase dalam periode 28 hari.

Dalam dua minggu pertama, anak balita di keluarga rentan mendapat makanan siap makan untuk meningkatkan status gizi mereka, yang dimasak oleh para kader kesehatan. Menu makanannya berganti setiap hari, namun ada satu bahan yang selalu ada: daun kelor.

Tanaman dengan nama latin Moringa oleifera itu dipilih karena merupakan bahan makanan lokal yang murah, terjangkau, dan bernilai gizi tinggi. Daunnya kaya akan mineral, vitamin, dan zat-zat lain yang bermanfaat.

"Menunya itu ada sop daun kelor, nugget tahu, orak-arik telur... pokoknya yang sangat mudah dan terjangkau," kata Erna.

Kemudian selama dua minggu berikutnya, para orang tua diberi pelatihan cara mengolah makanan sendiri sambil didampingi oleh para kader.

Dirasakan manfaatnya

Ada 25 keluarga di 14 RW yang menerima manfaat Mozi Masagi. Keluarga-keluarga ini dikategorikan sebagai yang paling rentan berdasarkan pendataan terbaru di Posyandu.

Riska menjadi salah satu orang tua di Kelurahan Ciwalen yang menantikan kedatangan Mozi Masagi setiap hari. "Programnya bagus banget, Alhamdulillah. Menunya bervariasi, sangat bergizi," ungkapnya kepada BBC News Indonesia.

Kader Posyandu mengukur tinggi badan dari bocah saat melakukan pelayanan jemput bola di kawasan Green Garden, Rorotan, Jakarta Utara, Kamis (18/02).

Sumber gambar, Antarafoto

Keterangan gambar, Kegiatan Posyandu yang sempat terhenti di masa pandemi membuat identifikasi masalah gizi menjadi tidak optimal.

Riska, yang suaminya bekerja sebagai supir angkot, mengaku "kadang-kadang kesulitan ngasih makan anak" sejak penghasilan suaminya terdampak oleh pandemi.

Menurut ibu rumah tangga berusia 20 tahun itu, manfaat Mozi Masagi sudah bisa dia rasakan sejak minggu pertama.

"Dari satu minggu itu [berat badan] anak saya naik empat ons. Sebelumnya susah banget, sudah hampir tiga bulan enggak naik-naik," ujarnya.

Berat badan anak yang tidak naik selama dua bulan berturut-turut adalah salah satu indikasi kekurangan gizi, yang jika berlanjut akan mengakibatkan stunting.

Ketua Perhimpunan Ahli Gizi dan Pangan Indonesia, Profesor Hardinsyah, mengatakan program seperti Mozi Masagi membantu mengintervensi supaya kondisinya tidak menjadi kronis.

"Yang seketika itu yang dijaga dulu, kalau sudah terjaga, enggak akan jadi kronis," ujarnya.

Ancaman stunting

Pandemi virus corona telah berdampak pada penghasilan banyak keluarga. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah warga miskin di Indonesia bertambah lebih dari 2,7 juta jiwa akibat pandemi.

Para ahli gizi telah memperingatkan bahwa situasi ini membuat anak-anak menjadi rentan, karena keluarga jadi kesulitan mengakses makanan bergizi. Terganggunya layanan Posyandu juga membuat deteksi masalah gizi menjadi tidak optimal.

Akibatnya, diperkirakan angka stunting di Indonesia yang sempat turun dalam dua tahun terakhir akan naik lagi. Namun pemerintah Indonesia tetap berkomitmen menurunkan kasus stunting, yang dianggap berpotensi menyia-nyiakan "bonus demografi", hingga 14% pada 2024.

Warga mengolah sayuran sawi untuk dijadikan minuman dan makanan sehat dalam rangka Gerakan Peduli Stunting (Geulis) di Komplek Taman Rafflesia, Kiaracondong, Bandung Jawa Barat, Kamis (4/3/2021). Program Geulis yang dilakukan secara swadaya oleh warga dengan menyediakan makanan dan minuman sehat seperti jus sawi nanas, dan puding sawi untuk dibagikan secara gratis kepada anak usia dini guna mencegah stunting.

Sumber gambar, RAISAN AL FARISI/Antarafoto

Keterangan gambar, Dalam upaya mencegah stunting, masyarakat diajak untuk memanfaatkan sumber makanan lokal. Misalnya olahan sayur sawi ini dalam Gerakan Peduli Stunting (Geulis) di Kiaracondong, Bandung.

Menurut Hendro Utomo, pendiri Food Bank of Indonesia (FOI) yang juga melaksanakan program intervensi gizi bernama Sayap dari Ibu, pandemi mengungkap kerapuhan dalam sistem pangan selama ini, di mana akses pangan terkait erat dengan pasar atau kemampuan membeli.

Dalam pengamatan di lapangan, kata Hendro, FOI menemukan beberapa keluarga yang meskipun memiliki sumber makanan yang baik, anak-anaknya tidak diberikan makanan terbaik.

"Meskipun keluarganya penghasil susu, misalnya, susu itu dijual kemudian dibelikan makanan lagi yang barangkali nilai gizinya di bawah susu. Jadi akses pangan itu tergantung kemampuan ekonomi," ia menjelaskan.

Oleh karena itu, selain memperbaiki akses pada pangan bergizi, edukasi juga penting, kata Hendro. Melalui program Sayap dari Ibu, FOI berusaha memengaruhi para ibu dan para kader untuk kembali ke sumber makanan lokal.

Adapun Koordinator Mozi Masagi, Ernawati, berharap inovasi ini dapat berkembang ke seluruh pelosok Kabupaten Garut dan daerah-daerah lain di Indonesia.

"Bisa terus berkembang dan menjadi kebijakan pemerintah, untuk pemberdayaan masyarakat," ujarnya.