Para sanak keluarga dengan cemas menunggu berita apa pun di Pusat Penanganan Krisis yang dibuat di bandara Halim Jakarta. Wajah mereka berlinang air mata.
Di sebuah meja di bawah tenda putih, staf Lion Air mencatat data-data mereka. Di bagian atas formulir, mereka harus menulis hubungan kekerabatan mereka dengan penumpang yang hilang.
Salah satunya adalah Murtado Kurniawan, pengantin baru yang istrinya adalah salah satu penumpang pesawat nahas itu. Mereka baru saja menikah dan sang istri terbang untuk perjalanan dinas.
"Dia adalah sahabat terbaik saya di dunia ini, saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya mencintainya," katanya sambil menangis.
"Yang terakhir yang saya katakan kepadanya waktu dia mau pergi, saya bilang 'hati-hati'. Saya selalu khawatir tentang dia ketika dia pergi. Ketika saya melihat di TV bahwa pesawat itu jatuh, seluruh tubuh saya gemetar."
Pagi tadi ia mengantarkan keponakannya Fiona Ayu dan keluarganya ke bandara, agar perjalanan ke bandara lebih cepat dan nyaman.
Dia berusaha untuk hamil, katanya, jadi (Fiona mau pulang secepatnya ke Pangkal Pinang) agar bisa beristirahat, kata Dede mengenang.
Dan sekarang dia cuma bisa menunggu.
“Maskapai terus mengatakan agar kami menunggu dan menunggu kabar. Tetapi melihat gambar-gambar di media sosial dan televisi, sangatlah buruk,"katanya.
Betapa pun, katanya, "saya masih tetap ada harapan bahwa dia akan kembali. Saya berdoa dan berdoa untuk itu,” katanya.
Sementara di Tanjung Piok, Jakarta, tim SAR pergi ke laur dan kembali ke pelabuhan dengan puing-puing pesawat, serta serpihan tubuh atau bagian dari jenazah.
Di atas lantai, dihamparkan dengan hati-hati, serpihan dan bagian dari barang-barang milik penumpang, yang berisi kisah-kisah mereka yang hilang.
Sementara keluarga-keluarga diminta untuk pergi ke rumah sakit Kramat Jati untuk nanti mengidentifikasi korban yang tewas.