You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.

Take me to the main website

'Pawai bhinneka' di Jakarta 'bukan soal Ahok'

Prihatin pada intoleransi dan radikalisme, berpuncak pada terbunuhnya Intan Marbun, gadis kecil berusia 2,5 tahun, digelar Parade Bhinneka Tunggal Ika yang melibatkan ribuan orang untuk 'merawat keragaman.'

Liputan langsung

  1. Sekian laporan langsung BBC Indonesia terkait parade keragaman di Jakarta, Sabtu (19/11). Selamat berakhir pekan!

    Menurut informasi yang diterima BBC Indonesia, acara-acara merawat keberagaman ini masih akan berlangsung hingga Minggu (20/11) malam, dengan berbagai bentuk. Sabtu malam ini akan berlangsung malam doa dan renungan di berbagai kota. Di Jakarta berlangsung di Bundaran HI. Sementara Minggu pagi akan ditandai oleh acara merayakan kebhinnekaan di berbagai kota dalam berbagai bentuk. Antara lain dengan ToleRUN, acara lari gembira di Jakarta yang menyarankan para peserta mengenakan sepatu yang berbeda kiri dan kana -sebagai lambabng keberagaman.

  2. Suara-suara minoritas dalam parade

    Sepanjang perjalanan, lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan dan yel-yel kebhinekaan dikumandangkan. Manpreet Kaur, remaja keturunan India generasi ke empat mengaku bahagia mengikuti parade ini. 

    “Saya diajak ibu saya ke sini, namun saya tidak menyesalinya. Saya tidak pernah berpikir orang (Indonesia) seterbuka ini. Ini bagus sekali”, kata Manpreet kepada Mehulika Sitepu.

    Ibu Manpreet, Vicky Kaur, datang ke parade ini setelah diajak teman-temannya yang berasal dari berbgai latar belakang.

    “Saya beragama Sikh. Di sini jatuhnya di bawah Hindu. Teman-teman saya dari Islam, Katolik dan seorang Pendeta," kata Vicky. “Sekarang saya tidak tahu ke mana arah multikultarisme di Indonesia. Sebelumnya berjalan dengan baik. Saya prihatin".

    Acara parade bhineka ini banyak dihadiri juga oleh warga etnis Cina - yang dikenal lebih pasif dalam menyampaikan aspirasi.

    Anthony Taniharto, seorang etnis Cina dari Patriot Garuda Nusantara Gus Nuril Arifin berkata isu yang memecah belah etnis Cina dengan yang lain sudah berjalan dari dulu, namun tujuannya untuk berdagang, bukan agama.

    “Cina dan Arab dari dulu berselisih tentang perdagangan. Kemudian sekarang menggunakan agama”, kata Anthony.

    “Ketika jaman Gusdur ada perkembangan dan sekarang harus lebih baik, Indonesia pasti bersatu.”

  3. Apresiasi untuk keragaman

    Walau sejumlah pengguna media sosial menyindir dengan mengatakan jumlah orang yang datang 'tak begitu banyak', banyak orang menyatakan apresiasi atas gerakan keragaman ini. 

    "Ini sebuah kebersamaan & tidak menakutkan & tidak bicara jumlah yang hadir! Ini bukan DEMO! Tidak ada orasi kebencian!" kata satu pengguna. 

    Lainnya, "Jangan sepele lihat jumlah, setidaknya mereka tulus dari hati bukan bayaran... That its true..."

  4. Intan: Tumbal - atau martir - gelombang intoleransi

    Senin pekan lalu, Intan Olivia Marbun bocah berusia 2,5 tahun, meninggal dunia, setelah beberapa belas jam berjuang melawan luka bakar parah yang dideritanya akibat terkena ledakan molotov yang dilemparkan ke di pelataran Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda Kalimantan Timur, Minggu (13/11). Tiga bocah lain juga menderita luka bakar, masih dirawat di rumah sakit.

    Intan pun menjadi semacam tumbal dari gelombang intoleransi dan radikalisme yang membuncah dalam berbagai bentuknya di Indonesia belakangan ini.

    Muncul pertanyaan di media sosial: mengapa penolakan atas 'aksi teror yang mengatas-namakan agama' itu tidak kencang disuarakan, dan tidak membangkitkan kemarahan umat seperti dugaan penistaan agama?

  5. #IndonesiaBhinneka jadi topik populer

    Dikicaukan lebih dari 12.000 kali dan memuncak hari ini. "Garuda di dadaku, untuk tanah airku, dengan #IndonesiaBhinneka kami tak akan menyerah memajukan bangsa ini," cuit @muh17irfan di Twitter. 

  6. 'Tidak ada yang lain selain merah dan putih'

  7. Suasana berlangsung meriah dan diisi dengan nyanyian 'Garuda Pancasila' selagi ribuan orang mulai berjalan menuju Tugu Tani, lapor Mehulika Sitepu. 

  8. Bukan perkara Ahok atau Pilgub Jakarta

    Nong Darol Mahmada, seorang pegiat keberagaman yang turut menyelenggarakan acara ini menolak tudingan yang mengaitkan Parade Bhinneka Tunggal Ika dengan pembelaan pada Ahok.

    "Lihat saja, tidak ada bendera atau poster pro-Ahok. Juga tidak ada spanduk yang menyerang pihak lain. Saya punya pilihan dalam Pilgub DKI, tapi parade ini murni merupakan ungkapan keprihatinan pada maraknya sikap radikal dan pemaksaan kehendak berdasarkan sentimen agama. Juga manipulasi umat untuk kepentingan politik. Silakan beda pandangan, beda pilihan politik, tapi jangan korbankan kebhinnekaan kita, karena kebhinnekaan itu pilar yang menjaga kehidupan kebangsaan kita."

  9. Menuju Tugu Tani

    Para peserta aksi keberagaman saat ini berjalan dari kawasan Patung Kuda menuju Tugu Tani. Ada perubahan rute dari rencana sebelumnya (ke Bundaran HI), kata wartawan BBC Mehulika Sitepu.

  10. Digunakan sebagai alat politik?, Sebagian pengguna Twitter menuding parade kebhinekaan ini sebagai upaya mempolitisasi kebhinekaan. Kendati tak ada atribut atau tulisan yang mengisyaratkan pemihakan partai atau calon Pilkada, ada yang mencurigai ini bagian dari 'politik jangka pendek' pilkada, yang dibantah para penyelenggara dan peserta.