Wartawan BBC Indonesia, Ging Ginanjar, dari Istana Negara:
Awalnya, di ujung sore itu saya merasa semuanya sudah reda. Karena sejak dari Jalan Thamrin sudah tampak ratusan orang berjalan pulang. Memasuki kawasan Patung Kuda, memang masih ada satu mimbar bebas, yang diisi dengan berbagai orasi, antara lain Neno Warisman.
Masih ada sekitar 1.000 orang di sana, dan sesekali terdengar yel-yel mengutuk Gubernur Ahok atau meneriakkan takbir.
Di sekitar Istana Negara ternyata situasinya panas. Ribuan orang memenuhi Jalanan Medan Merdeka, dengan dua mimbar di dua sudut, dan pengeras suara yang terpasang dengan rapi di berbagai titik.
Bendera-bendera dikibar-kibarkan.
Lalu terdengar ledakan-ledakan kecil dengan percikan cahaya di atas, bagai kembang api: gas air mata, yang ditembakkan dari jarak jauh.
Para orator di mimbar sebelumnya sudah menekankan cara menghadapi gas air mata. Hampir semua orang belepotan mukanya oleh pasta gigi -yang diyakini bisa mencegah efek gas air mata.
Tapi tak urung belasan orang berjatuhan, Dari waktu ke waktu orang digotong menjauh, yang jatuh atau menderita karena efek gas air mata.
Terlihat api, awalnya disebut mobil yang dibakar demonstran, namun kemudian disebutkan sampah-sampah yang dibakar. Namun terbukti kemudian, memang mobil.
Gas air mata terus meluncur.
Dan akhirnya, nafas saya tersengal, mata perih, keongkong terasa tercekik. Dan mendadak saya menyadari bahwa saya sedang bersama ribuan orang lain menderita hal yang sama.
Kami bergerak menjauh. Sebagian memutuskan untuk melompati pagar Taman Monas setinggi 4 meter, agar bisa segera mendapat udara segar.
Beberapa puluh meter kemudian ditambah sebotol air mineral, efek gas air mata sudah ditawarkan.
Di kejauhan percikan-percikan ledakan gas air mata masih tampak dan terdengar.