
Pada pemilihan 2008 suara warga AS keturunan Asia mencapai 600.000.
Asumsi yang selama ini berkembang di Amerika Serikat adalah warga Amerika keturunan Asia biasanya memilih Demokrat atau calon yang diusung partai ini di pemilihan presiden.
Survei yang digelar National Asian American Survey (NAAS) yang hasilnya diumumkan September 2012 menguatkan asumsi tersebut.
Survei NAAS terhadap 3.000 warga Amerika keturunan Asia -untuk selanjutnya disebut Asia Amerika- menunjukkan 43% mendukung Barack Obama, calon Demokrat, sementara 24% memilih Mitt Romney dari Republik.
Dukungan terbesar untuk Obama disumbangkan warga Amerika keturunan India dan Cina. Sementara warga keturun Filipina di Amerika, menurut survei ini, sebagian besar mendukung Romney.
Survei NAAS tidak menjelaskan mengapa warga keturunan Filipina ini lebih condong ke Romney dan Republik. Salah satu spekulasi yang muncul adalah faktor agama, di mana sebagian besar warga keturunan Filipina menganut Katolik.
Yang juga menarik untuk dicermati adalah 52% warga Amerika Asia secara umum mengaku sebagai nonpartisan, yang mengisyarakatkan munculnya proporsi pemilih baru yang cukup besar di proses politik AS.
Jajak pendapat NAAS memperlihatkan hingga September lalu 32% warga Amerika Asia belum menentukan pilihan.
Makin penting
Dari Republik beralih ke Barack Obama
Herman Moningka mengaku sebagai pendukung Republik namun kali ini mencoblos untuk Barack Obama.
Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.
Bagi kubu Obama dan Romney, ini fakta yang cukup menarik karena ada sepertiga suara yang siap diraih. Persoalnnya adalah sebagian besar responden yang ditanya NAAS mengaku tidak didekati oleh para petugas kampanye, baik dari Obama maupun Romney.
Padahal suara warga keturunan Asia ini cukup penting di swing states, negara-negara bagian yang belum bisa dipastikan apakah akan mendukung Obama atau Romney.
"Warga Amerika Asia diperkirakan akan memberikan dampak besar di beberapa negara bagian penting seperti North Carolina, Nevada, dan Virginia," ujar Karthick Ramakrishnan, guru besar ilmu politik di Universitas Riverside, California, yang menyusun laporan NAAS.
Namun pada saat yang sama Ramakrishnan juga mengakui bahwa suara pemilih dari Asia ini belum 'seriuh' warga Amerika Latin, dengan kata lain kepentingan warga Amerika Asia belum dianggap belum sebesar warga dari Amerika Latin.
"Mungkin butuh waktu satu dekade (untuk bisa seperti warga keturunan dari Amerika Latin). Namun perkembangan suara dari keturunan Asia ini makin postif dalam arti makin besar keterlibatan mereka dalam proses politik di AS," jelas Ramakrishnan.
Warga Amerika Asia adalah kelompok ras dengan pertumbuhan tertinggi AS dan empat tahun lalu menyumbang 600.000 suara.
Jumlah tersebut akan bertambah besar pada pilpres tahun ini dan itu berarti suara dari Asia ini makin tidak bisa dianggap sebagai angin lalu.







