Gempa tsunami Palu Donggala: Korban meninggal bertambah, kini mencapai 1.424

Angka korban meninggal dunia dalam gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah bertambah menjadi 1.424 sampai Kamis (04/10).
Setelah 1.407 dikuburkan dalam pemakaman massal, tim darurat menemukan sejumlah jenazah lagi, yang masih diidentifikasi.
Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam jumpa pers menyebut, para korban meninggal terdiri dari 1.203 di Palu, 144 Donggala, 64 Sigi, 12 Parigi Moutong, dan seorang di Pasang Kayu.
Menurut Sutopo, bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu kini sudah mulai dibuka untuk penerbangan komersial, setelah sebelumnya hanya digunakan untuk pesawat militer dan pengangkut bantuan darurat kemanusian.
Disebutkan, alat-alat berat juga sudah dikerahkan ke hampir semua kawasan yang paling parah terdampak, untuk melanjutkan upaya evakuasi.
Para petugas penyelamat dan relawan terus melanjutkan upaya pencarian dan penyelamatan di Petopo dan Balaroa mencari korban-korban lain yang dicemaskan terkubur dalam tanah yang mengalami likuifaksi, fenomena ketika tanah menggembur dan mencair, dan menelan bangunan di atasnya, serta isinya termasuk para penghuninya.
"Di Hotel Roa-Roa juga masih terus dilakukan evakuasi untuk menemukan para tamu hotel yang diduga masih tekubur di bawah reruntuhan, sebagian di antaranya orang asing," kata Sutopo.
"Sejauh ini belum ada orang asing yang ditemukan," lanjutnya.
- Penjarahan pasca gempa dan tsunami, bagaimana penegakkan hukum di Palu?
- Mengapa ada korban gempa tsunami Palu yang malah menjarah televisi?
- Gempa dan tsunami Palu: Alat berat berdatangan, upaya evakuasi di Hotel Roa-Roa kian intensif
- Kisah korban tsunami Palu: 'Tergulung ombak dan kehilangan istri' hingga 'kami butuh keluar, tolong, tolong!'
Sementara itu, di Kabupaten Donggala menurut Jose Rizal, warga Kelurahan Gunung Bale, Kota Donggala sudah bisa diakses dari Kota Palu, namun ia belum yakin kecamatan lain yang dekat dengan episentrum gempa bisa diakses kendaraan untuk keperluan distribusi bantuan.
"Kecamatan Balaesang masih sulit diakses karena jalan tertutup longsoran," kata Jose Rizal.
Satu-satunya jalan menuju Kecamatan Balaesang melalui Kabupaten Parigi Mountong, Jalur itu sejauh 185 km dari Kota Palu, dengan waktu tempuh lebih dari 24 jam.
Jose Rizal bersama warga pesisir kota Donggala mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, hingga kamis (04/10) mereka secara swadaya harus mengumpulkan bahan makanan terutama air bersih, untuk dibagikan kepada sekitar seribu pengungsi.
Sehari setelah gempa, ia dan warga lainnya berinisiatif untuk mencari jenazah. Hingga kamis (04/10) terdapat 39 jenazah, yang sebagian besar ditemukan di bawah reruntuhan bangunan.
Saat ini kebutuhan yang juga mendesak adalah bahan bakar kendaraan, Jose Rizal secara swadaya menggalang bantuan bagi warga pesisir Donggala yang masih mengungsi di area perbukitan.
Tetapi langkahnya terhenti karena pasokan bahan bakar belum sampai ke desanya.
"Motor saya tidak ada bensin sejak kemarin, sehingga saya tidak bisa bergerak bersama kawan-kawan, padahal, banyak sekali yang masih tinggal di bukit dan butuh bantuan," terang Jose Rizal.










