
Pengadilan atas tersangka terorisme, Umar Patek, di Indonesia.
Kepala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, kepada BBC Indonesia mengatakan serangan bom di Solo dan Depok masih merupakan merupakan bagian dari gerakan lama kelompok teror di Indonesia.
Menurut Mbai indikasi itu antara lain tampak dari pola jaringan serta operasi lapangan yang digelar pelaku.
Dalam tiga kali aksi teror di Solo sepanjang bulan Agustus, polisi menangkap empat tersangka dua diantaranya tewas dalam baku tembak di Jalan Veteran, Solo.
Dua tersangka lain ditangkap di Karanganyar dekat Solo, serta seorang lagi di Depok pada Rabu (05/09) pagi lalu.
Kirim pendapat
- Email: [email protected]
- SMS:+447786200050 (tarif pengiriman SMS sesuai dengan yang ditentukan operator telepon Anda)
- Facebook: Komunitas BBC Indonesia
'Mereka terikat dengan ideologi radikal. Agenda mereka ingin mendirikan suatu kekhalifahan berdasarkan syariat dan musuh utamanya adalah empat pilar bangsa: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika."
"Tiap kelompok punya agenda sendiri-sendiri," tambah Ansyaad Mbaik.
Tapi, menurut Anda, kenapa ide radikalisme masih bisa disebar ke kalangan masyarakat Indonesia?
Apakah semata-mata didasarkan pada kepercayaan agama atau Anda berpendapat sebenarnya kesenjangan sosial yang menjadi landasan utama bagi suburnya radikalisme?
Atau mungkin karena lemahnya penegakan hukum sehingga tidak terjadi efek jera yang memungkinkan berkembangnya kelompok teror baru.
Kami tunggu pendapat Anda untuk disiarkan di BBC Indonesia Kamis Pukul 18.00 WIB dan juga diterbitkan di BBCIndonesia.com
Ragam pendapat
"Radikalisme bisa terjadi di mana-mana, di Amerika, Inggris, dan Indonesia."
Eduardo de Lavega
"Menurut saya, BNPT hanya ingin menggunakan isu terorisme untuk tetap menerima dana operasi intelijen." Luad Maulana, Bekasi.
"Kurangnya pengetahuan yang melatar belakangi pendidikan agama individu. Mereka salah dalam mengartikan jihad. Penting bagi ulama dan pemeriantah untuk meluruskan pemahaman terhadap ajaran yang tidak sesuai." Muhsin, Semarang.
"Menurut saya kejadian yang terjadi di Solo mungkin karena hal politik. Untuk memenangkan kursi panas, seseorang akan melakukan berbagai cara untuk menjadi pemenangnya. Entah itu dengan menjatuhkan lawannya ataupun dengan menjatuhkan diri sendiri. Paham radikalisme masih ada mungkin karena pandangan sekolompok masyarat berbeda beda." Devi Saras, Surakarta.
"Radikalisme bisa terjadi dimana-mana, di Amerika, Inggris, dan Indonesia." Eduardo de Lavega, anggota Komunitas BBC Indonesia di Facebook.
"Ide radikalisme timbul karena kesenjangan pendidikan agama dan teknologi. Ini adalah cerminan kegagalan para ulama dalam menterjemahkan dan menyampaikan kepada semua umat tentang makna spiritual. Jadi yang perlu dibenahi adalah sarana pendidikan agama yang seimbang dengan pendidkan teknologi supaya setiap umat dapat berpikir secara logis mengkaji ulang untuk siapa dan untuk apa agam diturunkan." Prombang, Bandung.
"Bisa saja ini ada unsur politik atau sebuah rekayasa."
Andika Setiawan
"Perlunya introspeksi dan evaluasi serta belajar dari sejarah. DI-NII di bawah SM Kartosuwirjo dan Islamnya. PKI dengan Komunisnya dan upaya-upaya pemberontakannya. PKI Muso/Madiun (1948) dan G30S/PKI (1965) yang menelan korban dan darah tertumpah!. Sudah 67 tahun RI merdeka. Sudahkah bangsa negeri ini adil makmur sejahtera, berdaulat dan bermartabat sesuai dengan amanah UUD 1945 dan Pancasila? Jika keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan hukum keadilan ditegakkan serius maka radikalisme niscaya bisa diredam." Rakean Agung, Tangerang.
"Bisa saja ini ada unsur politik atau sebuah rekayasa." Andika Setiawan, Bekasi.
"Radikalisme di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari agama. Ada sebuah jalan pikiran yang logis yang disimpulkan oleh para teroris dari kepercayaan agamanya. Mereka berani melakukan aksi bom bunuh diri karena begitu percaya kepada Tuhannya, yakin bahwa mereka berada di jalan Allah dan yakin mendapat restu dari Allah karena mereka melakukan sesuatu yang sesuai dengan kitab sucinya. Ditambah lagi, mereka juga akan mendapatkan kehidupan yang kekal di surga. Bukankah ini sangat ‘menggiurkan’?" Brian K.
"Menurut saya pasti ada unsur politik. Di dunia politik apa pun bisa dilakukan demi mengalahkan lawan." Dila, Pontianak.
"Radikalisme dan terorisme terjadi karena adanya program cuci otak dan indoktrinasi yang merasuk sangat dalam kepada para calon-calon teroris sehingga yang diperbuatnya dianggap menyenangkan Tuhannya, apalagi ditambah dengan iming-iming tentang kehidupan yang indah di surga." Badin
"Minimalkan dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang terjangkau buat rakyat dan pemerataan kemakmuran." Cepi Danigara, anggota Komunitas BBC Indonesia di Facebook.






